20 Februari 2011

Palsu yang Menjadi Nyata

"Jika terhempas di lautan duka, redakan sabarlah tawakkal pada-Nya. Jika berlayar di suka cita, ingatlah 'tuk selalu syukur pada-Nya."

Alunan musik nasyid favoritku melenakan hati. Kutatap wajahku di cermin, hmm aku memang sudah dewasa. Berada di dalam sebuah kamar dengan nuansa coklat muda dan beberapa rangkaian bunga matahari plastik membuat diri ini merasa termanjakan. Coklat muda dan bunga matahari, dua hal kesukaanku. Di ujung ruangan ini tersusun lima tangkai bunga matahari di atas vas tinggi berisi air untuk menjaga kesegarannya. Mataku pun beranjak ke arah sebuah jam dinding berbentuk mesjid, masih pukul 03.30. Aku baru saja menyelesaikan pertemuan rutin dengan Allah dalam sujud panjangku, sengaja aku berqiyamul lail di kamar ini. Mataku sembab, rupanya tadi aku terlalu menghayati curahan hati yang kulantunkan indah dalam desahan doa. Kali ini aku benar-benar bersyukur. Kutatap lagi diriku di pantulan cermin, membawaku pergi kembali menyusuri dimensi ruang dan waktu, hingga sampai pada sepotong episode.


*****

"Hah! Loe suka sama Kak Hasan, Des? Serius?!" Rani yang tadinya serius membaca komik Flame of Recca tiba-tiba terbelalak sambil menutup komik itu dengan cepat.

"Iya deh kayaknya, hhehe," jawabku, singkat.

Rani langsung memasang tampang menggoda dan tersenyum penuh syukur seakan-akan menemukan suatu keajaiban yang lama dia nantikan.

"Serius loe? Ya ampun, akhirnya sohib gue yang satu ini kembali normal, loe bisa naksir makhluk yang predikatnya cowok lagi. Hahaha. Padahal gue sudah mau curiga deh sama loe, habisnya semenjak kejadian itu, loe nggak pernah curhat masalah cowok ke gue," sambil memegang kedua bahu, Rani mengguncang-guncang badanku.

"Sssst. Jangan keras-keras dong, Ran! Ini kantin sekolah, bukan kuburan!" protesku. Aku melirik kiri-kanan dengan khawatir.

"Hahaha. Iya. Iya. Maaf, Tapi serius kan? Loe sudah bisa naksir cowok? Sumpah, gue pengen sujud syukur nih sekarang, akhirnya loe kembali normal!" Rani masih saja lebay.

Aku nggak merasa aneh dengan Rani, wajar! Sudah 2 tahun semenjak kejadian itu, aku menutup diri dari laki-laki. Dan selama 2 tahun itu juga aku yang selalu mendengarkan curhat Rani tentang cowok-cowok yang disukainya maupun pacarnya tanpa pernah aku yang menjadi si pencerita. Terkadang Rani protes denganku, "Des, loe lagi dong yang cerita! Masa gue terus yang curhat. Nggak bosan loe ngedengerin cerita gue?" Kalau Rani sudah berkata demikian, aku hanya tersenyum dan menggeleng. Aku tidak pernah merasa bosan mendengar ceritanya, never. Dan cowok? ah, bagiku itu sama sekali nggak penting.

***

Pak Ngatidjo berdiri di depan kelas sambil menulis deretan angka dihiasi simbol-simbol sebagai pelengkapnya. Ini pelajaran favoritku, matematika, tapi entah kenapa saat ini jiwaku sedang kabur dari ragaku. Kutatap kosong papan tulis putih yang penuh dengan angka-angka, pikiranku melayang. Aku telah membohongi Rani, menipu perasaanku sendiri, mengkhianati  hati. Menyukai Kak Hasan? Sejak kapan? Hahaha. Aku hanya melarikan perasaanku yang buntu ini. Kak Hasan memang sosok yang pantas untuk dikagumi, tapi jujur, aku tidak ada perasaan sedikit pun padanya.

Bertemu dengan bekas jejak langkah lama, membuat hati ini meronta, memberi isyarat pada pikiran untuk lari secepatnya, meninggalkan dan melupakan semuanya.Ya, setelah dua tahun menjauh, tadi pagi aku bertemu dengan orang itu. Orang yang membuatku tak berani menoleh ke belakang. Tapi ada satu hal yang baru kusadari, serpihan rasa itu masih tertinggal di sudut hati. Dan aku takut, aku takut menyadari bahwa aku masih mencintainya. Sekalipun bibir ini merontakan kata TIDAK!

Satu hal yang terlintas di otakku adalah "cepat cari orang lain untuk melupakannya!", tapi tidak semudah yang kubayangkan. Dan hari ini, tampaknya aku harus memaksakan hatiku untuk berlari mencari jejak lain. Entah kenapa yang terlontar dari bibirku adalah Kak Hasan. Setidaknya dia memang pantas untuk sekadar dikagumi. Kulirik Rani yang duduk di bangku sebelahku, tak tega rasanya aku tidak menceritakan yang sebenarnya, bahwa aku hanya berusaha melupakan orang itu dengan memaksa hatiku untuk menyukai yang lain. Aku hanya pura-pura menyukai Kak Hasan. Tak apalah, yang penting dia berhenti menganggapku sebagai remaja yang tidak normal.

"Desy, coba kerjakan soal nomor 5 ke depan," suara Pak Ngatidjo membuyarkan lamunanku.

Aku tersentak seketika. Dengan ragu aku maju menuju papan tulis sambil membaca soal yang tertera di sana. Ah, untungnya soal itu sudah kujawab saat latihan soal di rumah tadi malam. "Bismillah," lirihku.

***

Setelah beberapa hari, aku sudah mulai terbiasa akting di hadapan Rani, seolah-olah aku benar-benar menyukai Kak Hasan. Ternyata aku cukup berbakat menjadi pemain sinetron, Rani terus menggodaku dengan guyon bertema Kak Hasan.

"Des, Sabtu nanti ada acara pembukaan HUT sekolah kita loh," Rani berbicara dengan tampang antusias sambil menepuk bahunku. Aku yang sedang makan risoles kantin sekolah langsung menghentikan kunyahanku.

"Haduh, nggak usah pakai nepuk-nepuk bahu gue dong. Iya lah, gue juga tahu kalau Sabtu ini ada acara, biasa aja kali," timpalku ketus. Untung saja bahu kiriku yang ditepuk olehnya, coba kalau bahu kanan, bisa-bisa risoles yang lezat ini jatuh bebas ke lantai kantin.

"Sorry Des, sorry. Maksud gue,loe sudah tahu belum kalau Kak Hasan bakalan tampil pas acara pembukaan nanti? Kesempatan bagus tuh, Des!" serunya.

"Oh ya? Tahu darimana loe, Ran? Beneran nih?" jawabku sambil memasang wajah seantusias mungkin, padahal gue nggak peduli Kak Hasan mau tampil atau nggak, toh itu bukan urusan gue.

"Masa gue bohong, tadi gue cerita-cerita sama Deya, dia 'kan jadi seksi acara. Deya bilang kalau salah satu acara hiburan di pembukaan HUT sekolah nanti ada penampilan bandnya Kak Hasan, dan itu artinya ..."

"Kak Hasan ngeband juga ya, Ran?" belum sempat Rani selesai, aku langsung memotong. Heran, aku baru tahu kalau Kak Hasan ngeband. Yang kutahu dia itu anak OSIS, ROHIS, dan ikut kelompok KIR di sekolahku. Beberapa kali menjuarai olimpiade-olimpiade fisika. Rasanya aku nggak pernah liat dia ngeband. Ngawur ah si Rani.

"Hmm. Yang jelas tadi gue lihat sendiri susunan acaranya di tempat Deya, terus gue juga lihat daftar pengisi acara hiburannya. Ada nama Kak Hasan, dia ngeband bareng Kak Dira cs. Wah, bakalan seru nih melihat pujaan hati nanti," godanya dengan mata berkedip-kedip. Serasa mau kucongkel saja matanya itu. Hehe.

"Oh Kak Dira? Ya jelas lah disuruh tampil, suaranya bagus banget tuh," kujawab seadanya sambil menghabiskan risoles yang tersisa.

"Yaaaaah, kok loe gak antusias sih, Des? Kak Hasan bakalan tampil nih, itu artinya loe bisa nonton dia ngeband dan kalau perlu direkam," Rani sewot dan memberi sebuah ide gila.

"Haaaah??? Ngerekam??? Buat apa coba??? Ogah gue! Kalau cuma nonton sih nggak masalah," aku menjawab sekenanya.

"Hahaha. Biar entar gue yang ngerekam. Loe pasti malu kan," Rani masih belum berhenti menggodaku.

"Hah? Hahaha," aku hanya tertawa datar, bingung bagaimana agar 'drama'ku tidak terbongkar. Kubersihkan jilbabku yang tak sengaja tertitik petis risoles. Ah, sesuatu hal yang memalukan jika seorang cewek berjilbab sepertiku menunjukkan sikap centil layaknya putri kesetanan. Aku memang berpura-pura menyukai Kak Hasan di depan Rani, ya hanya di depan Rani, semata-mata hanya ingin menyelamatkan hatiku dari serpihan masa lalu. Bukan untuk benar-benar menyukainya, apalagi sampai menunjukkannya. Itu hanya perasaan palsu yang tak perlu ditunjukkan dengan tingkah polah berlebihan.

***

Aku dan Rani duduk di bangku deretan kedua dari depan. Di atas panggung berdiri Kak Hasan dengan gitar listrik, permainannya lumayan. Rani masih memegang handycam-nya, dari tadi dia merengek-rengek mau merekam pertunjukan yang ada di hadapan kami sekarang, tapi kutahan dan aku melotot ke arahnya.

"Buat apa Ran? Nggak penting ah!" ucapku saat menahannya.

"Ya buat loe lah, Des. Biar bisa nonton kapan aja," jawab Rani sekenanya.

"Haduh, itu sih namanya membuka jalan untuk mengotori hati. Sudah gue bilang kan, gue suka dia cuma sebagai tanda kalau gue ini normal. Gue nggak mengharap apa-apa kok. Rasa suka ini sudah lebih dari cukup dan loe tahu kan kalau..."

"Ya ya ya, gue tahu loe bakal bilang apa. Allah pasti ngasih jodoh yang terbaik nantinya, dan sekarang yang penting terus memperbaiki diri, karena lelaki yang baik hanya untuk wanita yang baik, begitu juga sebaliknya 'kan? Gue sudah hapal di luar kepala nasihat loe yang satu itu," potong Rani sambil berlagak layaknya seorang ustadzah.

"Sahabat gue yang satu ini emang pinter, terus kapan nih loe mau belajar pakai jilbab?" sindirku halus.

"Doa'in secepatnya aja," jawabnya pendek.

Rani langsung memusatkan perhatiannya ke depan. Aku jadi merasa tak enak. Tak apalah, yang jelas aku sangat ingin melihat sahabatku yang satu ini bertemu dengan hidayah-Nya dan menutup auratnya. Semoga waktu itu segera tiba.

"Jikalau telah datang waktu yang dinanti, kupasti bahagiakan dirimu seorang."

Lirik merdu menyergap hati yang penuh dengan harap. Semuanya hanyut dalam iringan nada yang indah, seindah cinta Sang Maha Pencinta.

*****

Lamunanku akan episode masa lalu terbuyarkan oleh nada dering handphoneku. Kulihat layarnya, ternyata telepon dari Rani.

"Assalamu'alaykum, Raniiii..." sapaku dengan riang.

"Wa'alaykumussalam, ukh. Gimana nih, sudah siap buat hari ini? Pasti deg-degan banget ya, Des. Hehehe," Rani masih belum berubah, masih saja suka menggodaku.

"Hehehe. Bisa aja. Kapan ke sini, ukh?" tanyaku tanpa basa-basi.

"Nanti habis shalat Shubuh ane langsung ke sana. Pokoknya nanti ane mau ikut merias calon pengantin, hehehe," Rani tertawa renyah.

Mataku tiba-tiba hangat, sungguh indah skenario dari Allah. Sudah 7 tahun berlalu dari episode lampau itu. Kini Rani sudah mengenakan jilbab rapat, dan persahabatan kami semakin erat. Dan hari ini, aku akan melangsungkan pernikahan dengan pemuda yang tak pernah kuduga sebelumnya. Dia meminangku lewat perantara ustadz Ahmad. Setelah beberapa kali shalat istikharah, akhirnya dengan keyakinan hati kuterima pinangannya.

"Kupinang engkau dengan Al-Qur'an. Kokoh dan suci ikatan cinta. Kutambatkan hati penuh marhamah. Arungi bersama samudera dunia."

Lantunan nasyid masih terngiang di telingaku, hingga menghilang di awal seruan adzan Shubuh.

Ya, Muhammad Hasan Rahman, seseorang yang pernah mengisi episode masa laluku di antara kepalsuan rasa yang kubuat sendiri. Dan kini, insyaAllah, dialah lelaki terbaik yang telah disiapkan Allah untukku.

(Nisrina Naflah)

28 Januari 2011

KANGEN HITUNG-HITUNGAN!!!

Seorang gadis saat ini bener-bener kangen ama yang namanya angka, rumus, hitungan dan simbol-simbol yang bisa mengoperasikan angka (dokter bedah kaleee). Kalo kita putar waktu mundur ke belakang, bisa kita lihat gadis itu sedang memegang pensil dan mencoba menguraikan deretan angka yang ia terjemahkan dari suatu cerita (bdeuuuuh) yang ada di buku latihan soal. Bahkan menurutnya, bermain dengan angka lebih mengasyikkan ketimbang bermain dengan deretan kata-kata aneh yang sulit dimengerti. Dia merasa lebih bergairah ketika berhadapan dengan angka-angka misterius daripada harus mengingat-ingat kata-kata ilmiah yang telah ia hapal sebelumnya.





Jika kita putar waktu sebelumnya yang lebih jauh lagi, maka jangan kaget kalo kita melihat nilai-nilainya yang lumayan dalam hal hitung-hitungan. Bertolak belakang dengan nilai Biologi, IPS, PKN, dan kawan-kawannya, tak pernah sedikit pun menyentuh angka yang luar biasa (ironis sekali). Ini bukti yang cukup konkrit untuk menunjukkan bahwa dunia angka lebih menarik baginya (mungkin dunia angka punya banyak tangan hingga bisa lebih menarik ?).

Sejak kecil dia sudah menyatu dengan angka, sekolahnya pun selalu ngasih beban untuk berkompetisi dalam hal hitung-menghitung. Dan hal tersebut membuat gadis itu akhirnya membuat pernyataan yang diingatnya sampai sekarang, "Aku menyukai hitung-hitungan, sebagaimana aku menyukai sate ayam dan es kelapa muda!" (jegggeeeeerrrr!!!) Petir dan kilat pun menggonggong dengan merdunya (?)

Kemudian mari kita beranjak lagi ke masa sekarang, selama kurang lebih 5 bulan ini dia merasa sangat haus akan angka. Betapa tidak, saat ini ia harus berhadapan dengan hal-hal yang berbau hapalan. Walaupun sebenarnya bukan sekadar hapalan, tapi juga pemahaman. Tapi yang bikin hatinya resah tiada tara, rindu yang menggunung, dan ketakutan yang memenuhi dimensi waktunya adalah kerinduan akan hitung-hitungan! Bedeuuuuh, lebay amat.

Yap, saat ini dia merasa angka-angka telah melupakannya (atau dia yang melupakan angka-angka itu???entahlah). Yang jelas, sekarang dia lagi bloon kayak sapi betina ompong, yang lagi makan kedondong.

Hmm, dia sebenarnya hampir saja kuliah di tempat yang 'mungkin' bisa menumbuhkembangkan bibit-bibit kecintaannya pada hitungan, tapi dia lebih memilih tempat yang 'takkan' pernah memberikannya deretan angka-angka yang harus dipecahkan. "Gw pengen berpetualang di daerah yang gak gw suka! Hingga akhirnya akan datang waktu dimana gw berhasil menguasai medannya" begitu ucapnya. 

Dia memiliki mimpi yang mungkin tidak ada sangkut pautnya dengan kegemarannya, namun sepertinya dia sudah bergulat antara mimpi dan kegemarannya itu. Dan mimpinya lah yang menjadi pemenangnya. FMIPA Matematika dan STIS pun dia lepas begitu saja, dia berlari menuju satu tempat yang ternyata 'tidak terlalu mengerikan' (hanya ingin menghibur diri -__-!), dan dia yakin di tempat itulah dia bisa meraih mimpinya. InsyaAllah. Bahkan mimpi itu sekarang udah beranak-pinak melahirnya mimpi-mimpi luar biasa lainnya.

Di balik kerinduannya dengan hitung-hitungan, dia bersyukur telah berada di tempat ini. Tempat dimana ia bertemu dengan saudara-saudara yang satu tujuan, menggemakan takbir bersama, dan berjanji untuk menegakkan agama-Nya di atas bumi tempat persinggahan.



Ini jalan terbaik untuk dia yang ingin berubah menjadi muslimah yang lebih baik.


Pembaca : "huwooow, postingannya kok kaga nyambung yak?"
Penulis : "Biarin aje, suka-suka gw dong! kan gw yang punya blog."
Pembaca : "Trus sekarang kira2 gadis itu mau ngapain? pasti mau ngerjain soal-soal hitungan ya?"
Penulis : "Ya gak tau, loe tanya aja sendiri ama dia."
Pembaca : "Hmm, dia lagi dimana?"
Penulis : "Tuh, lagi gelantungan di pohon lombok."
Pembaca : "ngapain?"
Penulis : "Lagi ngitungin harga lombok"

(semakin gaje, daripada tambah gaje, kita stop aja sampai di sini)


Jangan takut untuk bermimpi dan jangan ragu untuk mewujudkannya, karena Allah selalu bersama kita!
keep on hamasah! 


nb: terinspirasi dari blog Kak Andita (afwan ye Kak, ane ngikutin gaya ceritanya, seru juga, hhoho)


_rhie_

27 Januari 2011

Because We Are Moslem Guys

"Allahu Akbar!"

Satu semangat yang akhir-akhir ini sering banget gw denger, seiring dengan jejak kaki gw yang mulai menapaki dunia kampus. Jujur aja, pas gw mendengar gema takbir itu, semangat gw langsung membara kayak api unggun yang disiram ma minyak tanah (widiiiiih). Lantas ni bibir nyahut dengan lantangnya sambil mengancungkan tangan kanan ke atas samping kepala (bayangin aja sendiri kayak gimane posisinya, hho).



Sekarang ini rasanya semangat keislaman terus menyala-nyala di tengah masyarakat, walaupun kayak lampu disco, nyala-mati gak menentu, karena hanya sebagian aja yang terus menyalakan semangat itu secara utuh. Maksud gw gini, sekarang ini banyak kok umat Islam yang sudah menampakkan identitas keislamannya, tapi gak menyeluruh. Lagian, yang istimewa itu kan sedikit (mengutip kata-kata dari trainer seminar). Kira-kira paham maksud saya? #jegggeeeer

Ambil aja contoh, sekarang tuh udah banyak kan yang pake jilbab. Model jilbab aja udah macem-macem bentuknya. Lumayan banyak artis-artis A.K.A public figure yang mengubah tampilannya dengan berbusana islami, masyarakat pun gak mau kalah ngikutin. Mantap kan, semua udah gak takut menunjukkan identitasnya sebagai umat Muslim. Tapi yang perlu dilurusin, niat dari make jilbab itu sendiri. Apakah cuma pengen ngikutin tren? Pengen kelihatan lebih cantik dan alim? Pengen dapetin ikhwan yang sholeh? Yang pasti gw yakin, kebanyakan dari niatnya yang pake jilbab pasti hanya karena Allah, insyaAllah. Iya kan? Haruuuus. Mesti. Kudu. Wajib.

Kalau dibandingin ama jaman tempoe doloe (gak dulu2 amat sih), keadaan sekarang jauh lebih beruntung dibandingkan dahulu kala. Alkisah, dulu itu susah banget nunjukin identitas keislaman. Bahkan gw baca di buku Asma Nadia yang judulnya "Jilbab Pertamaku", ternyata make jilbab aja penuh perjuangan en pengorbanan yang gak tanggung-tanggung loh. Ada yang diancam dikeluarkan dari sekolah, ada yang dimusuhi ma orangtua sendiri, ada yang dikatain lontong sayur, ada yang susah dapat kerja, dan segala macam halangan dan rintangan yang menderu layaknya angin topan (buset dah, kaga nyambung).

Jadi kalo dibandingin ama keadaan kita sekarang, jelas-jelas kita sangat beruntung. Sekarang mana ada yang ngelarang-larang kita buat pake jilbab. Bahkan di sekolah-sekolah sudah mewajibkan siswi-siswinya mengenakan jilbab. Intinya nih, sekarang gak ada alasan untuk menyembunyikan identitas keislaman (kasarnya sih getooo).

Well, gw tiba-tiba teringat ma kisah2 umat Muslim terdahulu yang tangguh dalam menunjukkan identitasnya sebagai Muslim. Ingat dong ama kisahnya Bilal bin Rabah yang disiksa majikannya Umayyah. Bilal yang hanya seorang budak tetap bersikukuh ma keimanannya, gak peduli Umayyah menyiksanya dengan menindihkan batu yang besar en berat di badannya, di atas pasir yang panas. Subhanallah, Bilal tetap menyebut asma-Nya, Ahad...Ahad...Ahad... Belum lagi kisah Sumayyah yang mempertahankan keimanannya. Ketika Abu Jahal mengancamnya dengan pilihan kematian atau kehidupan, dengan tegas Sumayyah menjawab, "KEHIDUPAN! Aku memilih kehidupan yang ABADI! Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah ututsan Allah!" Seketika ia dibunuh dengan sadis oleh Abu Jahal, ditusuk melalui liang peranakan mpe ke atas. Masya Allah, betapa tangguhnya Sumayyah. Selain itu, coba deh kita bayangin perjuangan anak-anak di Palestina yang ngelempari tank-tank 'odong' itu dengan batu, Yaa Rabb, gw jadi ngerasa kecil, sekecil2nya. Arrrggggh, gw jadi pengen ngelindes tu tank.



Kalo dipikir-pikir buat apa sih Bilal mau ngorbanin badannya ditindih ama batu segede itu. Terus kenapa juga Sumayyah rela ngorbanin nyawanya? Anak-anak Palestina yang gak takut sedikit pun ama pasukan 'odong' itu? Simpel, karena mereka adalah seorang Muslim. Seorang Muslim pastinya sadar bahwa tujuannya hidup adalah untuk beribadah kepada Allah swt. Bahwa hidup dan matinya ada di tangan Allah, karena itu mereka berjuang mempertahankan keimanan dan keislaman sampai akhir hayat, gak ada tuh istilah takut. Semoga kita semua bisa istiqomah, amiin.

Nah, jangan mau kalah dong semangatnya. Kita kudu semangat mempertahankan jati diri kita sebagai Muslim. Masih banyak hal-hal yang bisa kita lakukan untuk menunjukkan identitas Islam. Jangan sampai terpengaruh dengan ucapan-ucapan negatif yang dibikin oleh 'orang-orang' itu, mereka hanya ingin menghancurkan keimanan kita. Ghazwul Fikr, serangan bertubi-tubi ke arah pemikiran sebagai umat Muslim. Hedonisme lah, sekulerisme lah, dan segala tetek bengek istilah yang mereka ciptakan hanya untuk memecah dan merontokkan keimanan dan semangat Islam, jadi kita mesti hati-hati nih dalam menjaga izzah dan hamasah, jangan sampai dijajah ma mereka. Kata MR gw, mereka gak bakalan bisa tidur nyenyak sebelum bisa ngancurin kita semua, bdeuuuuh, waspadalah! waspadalah!

Gimana caranya agar kita terus semangat dalam menunjukkan jati diri kita sebagai Muslim? Dengan menyadari bahwa gw dan loe semua adalah Muslim. Kita punya agama yang luar biasa, kita umat yang TERBAIK, u yeaaaah. Selama kita mencintai Islam dan mempelajarinya terus menerus, Allah pasti melindungi dan merahmati kita. Camkan itu anak muda (sok jadi preman kakek tua).

"Tapi, banyak loh anggapan-anggapan negatif buat Islam. Loe tau sendiri kan, kemiskinan lah, kejahatan lah, semuanya disangkut-pautin ma Islam. Gimane tuh?"

Jiaaaah, itu sih cuman ungkapan-ungkapan negatif yang mau ngejatuhin Islam. Ya, emang bener sih kebanyakan gitu, tapi gak semuanya kaleee. Oleh karena itu, kita mesti kudu harus wajib sadar neh, kalo kita umat Islam, umat terbaik, agama luar biasa. Terus kita buktiin kalo kita emang luar biasa, kalo kita emang pantas jadi yang terbaik. Coba kita tengok ayat yang satu ini. (Di kampus sering banget nih ngebahas ayat ini)



"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik." (Q.S. Ali Imran : 110)

Tuh kan, Allah dah nyebut2 kita sebagai umat yang terbaik, ASALKAN beriman pada-Nya. Ya, salah satunya kita mesti bangga jadi umat Islam, trus buktikan kalo kita emang umat Islam yang menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Ya, pokoknya banyak jalan buat nunjukkin kalo Islam itu agama yang menakjubkan. Hiasi tingkah laku ama akhlak yang baik, belajar yang rajin buat ngasih kontribusi positif buat Islam, tunjukkin identitas Muslim yang sebenar-benarnya sesuai Al-Qur'an en Hadits, bangun komunikasi yang baik sama orang banyak, ramah, baik hati, tidak sombong, rajin menabung (di bank maupun di belakang, lhooo...)

Gini deh pokoknya, tetap semangat dalam menunjukkan jati diri kita sebagai Islam. Gak usah malu dibilang kaya lontong lagi jalan, gak usah kikuk dibilangin Bu Haji yang sok alim (Bu Hajinya di'AMIN'in aje), gak usah sedih dibilangin kayak ninja pake karung (pengalaman neh), trus pede aja lagi pake celana di atas mata kaki, berkoko ria, berjenggot, de es be. Jadi istimewa itu luar biasa. Sedikit mengutip kata-kata dari sebuah buku, "Tetaplah menjadi Muslim, karena Allah menjanjikan kemenangan di dunia dan di akhirat. Setialah pada agama Allah. Tidak ada satu pun agama dan ajaran manusia yang bisa mengalahkan Islam. Dan tidak ada satu pun yang ajarannya semulia Islam. Maka tetap berbanggalah menjadi seorang Muslim."



Semangat! Tunjukkan kalo Muslim itu bisa jadi yang terdepan, hingga Islam kembali bangkit seperti dahulu lagi. uwooooow. Because We Are Moslem Guys!

Takbir!

"Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci." (Q.S. Ash-Shaff : 8-9)



_rhie_

26 Januari 2011

Mimpi Bersama Stetoskop

Semilir angin menari-nari di sela-sela pepohonan. Teduh dan rindang. Kampus yang cukup tua di kota ini. Di depan kampus terpampang huruf-huruf yang tersusun rapi merangkai kata-kata yang menunjukkan nama kampus ini. Fakultas Kedokteran Universitas Borneo.
Braak!
Kututup pintu mobilku dengan kencang, usai menguncinya, aku pun bergegas mengambil ancang-ancang untuk berlari. Kutengok jam yang melingkar indah di pergelangan tanganku, jarum pendeknya menuju arah angka 9 dan jarum panjangnya menunjuk ke arah angka 2. Sial, aku terlambat 10 menit. Hari ini ada tutorial di gedung IV dan itu berarti penilaian untuk kehadiranku sudah 0 di depan mata. Huft! Aku menggerutu dalam hati, gemas dengan paman becak yang menghalangi jalanku tadi.
Yap, sebenarnya tadi aku sudah siap untuk berangkat ke kampus dari jam setengah 9, jarak rumahku ke kampus hanya menempuh waktu kurang lebih 20 menit. Kupikir aku masih sempat ngobrol-ngobrol dulu sama teman-teman sebelum masuk ke ruang BBM. Tapi, entah mimpi apa aku semalam, di pertigaan jalan menuju kampus tidak sengaja aku menabrak seorang anak yang berseragam SD. Ups, bukan aku yang menabrak, melainkan anak itu yang menabrak mobilku.
Dari lambang yang tertempel di dadanya, aku tahu anak itu masih duduk di bangku kelas 5 SD. Sebuah kotak ikut terjatuh seiring dengan jatuhnya anak itu. Kotak putih dengan tanda ‘plus’ berwarna merah di depannya, kotak P3K. Kuperiksa tubuh anak itu, syukurlah tidak ada luka parah yang terlihat, hanya sedikit luka kecil di telapak tangannya. Kutatap wajahnya, tiba-tiba saja otakku mencoba mencari memori yang mestinya masih tersimpan. Aku merasa pernah melihat anak itu, tapi kapan? Dimana? Ah, otakku sudah penuh dengan bahan-bahan tutorial yang kupelajari semalaman suntuk.
Hatiku tergerak untuk mengantar anak itu. Ah, ini salah satu kelemahanku. Selalu merasa bersalah, padahal anak itu yang main nyebrang jalan sembarangan. Tapi, aku juga sih yang salah, seharusnya bisa lebih hati-hati. Huft! Alhasil, dengan setengah hati kuantar anak itu ke sekolahnya. Mengapa setengah hati? Karena setengah hatiku yang lain sibuk protes memikirkan jam yang terus berputar, jam 9 kurang 15 menit, bisa-bisa aku telat kalo ngantar anak ini dulu. Ah! Sudah terlanjur, mau gimana lagi.
Anak itu namanya Humaira, mengingatkanku dengan nama julukan untuk Aisyah, istri Rasulullah, yang artinya putih kemerah-merahan, persis dengan pipinya yang merah merona. Kebetulan sekolahnya lagi direnovasi jadi dia masuk agak siang jam setengah 10, gantian sama anak kelas 1, begitu katanya. Dia anak yang supel, sopan dan ramah. Dari ceritanya aku tahu bahwa dia adalah anak PMR, pantas dia bawa-bawa kotak P3K. Dia anak yang suka bercerita, terlebih tentang PMR, sepertinya Humaira sangat tertarik di bidang kemanusiaan. Aku salut melihat semangatnya dalam bercerita, tapi aku hanya sekadar ber-Oh-ria ataupun tersenyum saat mendengar ceritanya. Konsentrasiku terbagi-bagi, nyetir dan yang pasti mikirin tutorial yang menyeringai menunjukkan gigi taringnya. Kulihat jam digital mobilku, ah sudah jam 9 kurang 10 menit. Aaarrrggghhh!
Setelah sampai di sekolahnya, Humaira berterimakasih dan bersalaman denganku. Ah, sopan sekali anak ini. Dia turun dari mobilku sambil mengucapkan salam.
“Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh...” jawabku panjang. Perasaan kagum kembali muncul pada anak berusia 10 tahun itu.
  Jam 9 kurang 2 menit! Aku menginjak gas dalam-dalam. 2 menit? Mana sempat ke kampus dalam waktu 2 menit. Siap-siap mau ngebut, ada becak di depan mobilku. Sial! Mana jalannya sempit lagi. Aku terpaksa mengikuti becak yang lambat itu hingga sampai ke persimpangan. Waktuku terbuang 5 menit untuk keluar dari jalan sempit itu! Arrrrrgggghhhh.... Satu kesimpulan yang harus aku terima adalah, AKU SUDAH PASTI TELAT! DAN NILAIKU??? Oh No!!!

***

  Pulang dari kampus, aku mengutuki nasibku hari ini. Ah, gara-gara telat 13 menit, tutorialku berantakan. Aku bingung mau nyalahin siapa. Humaira si anak kecil yang sopan dengan pipi merahnya? Atau Paman Becak yang ngayuh becaknya kaya siput lagi encok? Arrrrgggghhh... Yang salah itu ya aku sendiri. Kenapa juga nyetir mobil nggak hati-hati. Kacau deh jadinya. Aku langsung beristighfar dalam hati, sedari tadi bawaannya mengeluh terus.
  Aku masih kepikiran sama Humaira, rasanya aku sudah pernah lihat dia, tapi kapan ya? Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Aku baru saja keluar dari pintu gerbang kampusku dan sekilas aku melihat seorang anak kecil di seberang jalan sana, dia menengok kanan-kiri hendak menyeberang jalan. Itu Humaira! Pekikku dalam hati, mau ngapain ya dia? Rasanya ingin keluar mobil dan menghampirinya, tapi helooooo. Aku sudah berada di pintu gerbang kampus, jalanan lumayan padat dan aku ada janji dengan mama mau mengantar beliau ke minimarket. Ya sudahlah, semoga lain kali bisa ketemu lagi dengan anak itu.

***

  “Ah, gilaaaa! Stetoskopku udah longgar nih, susah banget diputar,” Linda menggerutu di sebelahku.
  Aku hanya tersenyum mendengar keluhannya, entahlah aku sedang malas menimpalinya. Kulihat teman-temanku duduk di sana-sini menunggu dengan bosannya. Ruangan skill lab masih dipakai kakak tingkat, terpaksa kami menunggu di luar karena belum bisa masuk.
  Kuedarkan pandangan ke arah taman, ada dua orang anak kecil yang sedang berlari-lari. Tampaknya sepasang adik kakak, kupicingkan lagi mataku. Humaira? Yap, salah satu dari anak itu adalah Humaira, tidak salah lagi. Dia berlari ke arah ruang skill lab, kemudian menaiki tepi dinding hingga ia bisa mengintip melalui jendela yang tirainya sedikit agak terbuka. Diam-diam dia mengamati kakak-kakak tingkat yang sedang belajar menginjeksi tangan manekin, mulutnya ternganga seolah-olah ingin melihat dari dekat, menyiratkan rasa ingin tahu yang amat besar.
  Ragu kupanggil namanya, takut teman-teman yang lain terganggu karena teriakanku. Kuhampiri anak itu, “Hey, Humaira!”
  Dia terkejut akan kehadiranku yang tiba-tiba, refleks dia menurunkan kakinya dari tepi dinding, mengatupkan bibirnya perlahan. Perlu empat sampai lima detik untuk mendengar jawaban dari sapaanku.
  “Kak Syi...kak Syifa??? Kak Syifa kan???” jawabnya ragu. Sepertinya dia sudah lupa denganku, atau mungkin gugup ketahuan mengintip ruang skill lab. Aku hanya tertawa ringan dan mengangguk.
  “Ngapain di sini, De?”
  Zzzzzzzttt... Entah kenapa aku baru menyadari kalau Humaira adalah anak kecil yang beberapa kali kulihat bermain di taman kampus pada sore hari. Pantas saja, wajahnya tampak familiar di mataku. Ternyata Humaira anak dari Bapak Udin, penjaga parkir di kampusku.
  “Saya hobi loh kak, ngeliatin kakak-kakak praktik di ruangan itu,” dia bercerita sambil melirik ke arah ruang skill lab.
  “Kak, itu stetoskop ya?” Humaira menunjuk benda yang ada di dalam saku jas labku.
  “Hmm, iya. Memangnya kenapa, Ra?” kutatap wajah anak itu sambil mengeluarkan stetoskop dari saku jas lab.
  “Saya penasaran sama alat itu, mau nyoba gimana sih rasanya?” jawabnya polos
  “Hahaha. Kayak permen aja, mau dicobain rasanya. Gampang, nanti kakak ajarin. Kamu mau jadi dokter ya, Ra?” tanyaku.
  “Ya, sangat ingin kak,” jawabnya antusias, dari matanya saja aku bisa melihat kekuatan mimpi yang begitu besar. Aku tersenyum mendengar ketegasan akan mimpinya.
  “Tapi...,” lanjutnya.
  “Syifaaaaaaa... Kelompok 4 masuuuuk, dokternya sudah datang tuh,” Rayda berteriak ke arahku.
  “Ra, maaf ya. Kakak duluan, sudah disuruh masuk tuh,” aku bergegas meninggalkan Humaira, dia hanya menjawab dengan anggukan diiringi seringai khas anak kecil.
“Oh iya, nanti kalau sudah selesai skill lab, kakak ajarin deh cara makai stetoskop. Daaah!” teriakku sambil berlari. Sempat kulihat dia berdiri dan menjawab, “Oke kak!” dengan senyum penuh kegembiraan.

***

  Kusapu keringat yang tertahan di alisku, matahari memang semangat sekali memancarkan sinarnya siang ini. Satu jam berada di dalam ruang skill lab membuatku hampir mati kepanasan. AC di ruangan skill labku rusak, hanya buku blok yang menjadi harapan satu-satunya untuk dikibaskan. Untungnya instruktur kelompokku ada urusan mendadak, jadi kelompokku selesai duluan dibanding kelompok yang lain. Syukurlah, kami terbebas dari ruangan yang panas itu. Aku berpikir, ruangan itu saja panasnya sudah minta ampun, apalagi neraka?
  Jas lab yang sudah mulai kotor kulipat sembarang, jilbab yang lekukannya mulai miring ke sana kemari kuratakan dengan jari-jariku. Hampir saja aku memasukkan stetoskop ke dalam tas kalau saja aku tidak ingat, aku ada janji dengan Humaira. Tanpa pikir panjang, aku langsung menuju taman, berharap dia masih ada di sana.
  Nihil, Humaira sudah tidak berada di taman. Hanya ada beberapa mahasiswa yang sedang duduk-duduk di bangku taman sambil ‘berkaca’ di laptop masing-masing, maklum di taman ini ada hotspotnya. Mungkin Humaira sudah pulang, pikirku. Aku kemudian mengambil langkah menuju tempat parkir, dan aku baru menyadari sesuatu. Ah, kenapa aku tidak berpikir dari tadi? Kulihat Humaira sedang mengintip ruang skill lab dari balik jendela. Hahaha. Sepertinya mengintip ruang skill lab adalah kegiatan yang mengasyikkan buat Humaira dan semestinya aku sadar dari tadi ketika mencarinya.
  “Humaira, dooooor!” sapaku mengejutkannya.
  “Eh, kak Syifa,” kali ini dia tidak kaget seperti sebelumnya. Mungkin sudah familiar dengan suaraku.
  Kami sepakat untuk ‘berdiskusi’ di taman, tak kuhiraukan pandangan heran mahasiswa-mahasiswa yang ada di sana yang menyiratkan, “Kok main sama anak kecil?”. Kujelaskan semua yang kuketahui tentang stetoskop, Humaira mendengarkan dengan antusias. Stetoskop yang semenjak tadi berada di jemariku, kini sudah berpindah ke tangan Humaira. Dengan ragu, dia memasangnya ke telinga sesuai dengan penjelasanku. Agak lama memang, berhubung telinganya sama seperti telingaku yang juga tertutup oleh jilbab. Yap, Humaira, gadis kecil berjilbab, si ukhti kecil.
  Setelah ngobrol ngalor-ngidul cukup lama, akhirnya Humaira pun izin pamit pulang duluan. Kuputuskan untuk meminjamkan stetoskopku untuknya, setelah mendengar cerita bahwa ia ingin sekali mendengarkan detak jantung adik, ibu dan ayahnya di rumah. Lagipula aku masih punya stetoskop lain di rumah. Jadi tidak masalah jika aku meminjamkan pada Humaira barang beberapa hari.
  Muka Humaira nampak ragu namun senang, kemudian dia meraih tanganku dan menciumnya. “Makasih, kak. InsyaAllah Humaira kembalikan besok, nanti kita main lagi ya, kak. Assalamu’alaykum,” ucapnya sambil menyunggingkan senyum, kemudian berlari kecil meninggalkan taman.
  Aku menjawab salamnya dengan lirih. Subhanallah, anak itu benar-benar luar biasa. Dia tak pernah ragu bermimpi, tadi dia sempat bercerita tentang impiannya menjadi dokter. Walaupun dia sadar, dia hanya seorang anak dari paman parkir. Tapi dia akan berusaha belajar dengan rajin biar bisa jadi dokter, begitu ungkapnya. Dan jilbab di kepala mungil itu, selalu menutupi rambutnya yang entah seperti apa bentuknya. Semenjak aku melihatnya di kampus, saat menabraknya dan sampai detik ini aku selalu melihat Humaira dengan jilbabnya. Ah, aku jadi malu dengan diriku sendiri, saat seusia Humaira mana pernah aku begitu. Disuruh memakai jilbab ke sekolah saja aku malas. Kecuali saat ada acara peringatan Maulid maupun Isra Mi’raj di sekolah, itupun aku sangat tidak betah memakainya lama-lama, gerah, kataku dulu. Sekarang aku mulai mengerti, betapa indahnya Islam mengatur kewajiban tersebut.
  Tak betah duduk sendirian di taman, aku pun bergegas pulang. Aku baru sadar bahwa aku belum sempat makan dari tadi pagi. Perutku keroncongan menyanyikan lagu Bengawan Solo seolah-olah sedang demo minta makan. Baru sampai di gerbang kampus, aku melihat Humaira yang sedang menyeberang jalan sambil menggenggam stetoskopku dengan erat. Di seberang jalan sudah ada Pak Udin, menemani adik Humaira yang sedang jajan di warung. Tiba-tiba ada sebuah motor yang melaju dengan sangat kencang dari arah sebelah kanan. Tak mengindahkan ada anak kecil yang sedang menyeberang  jalan dengan hati-hati. Dalam hitungan seper-sekian detik, terdengar suara tabrakan dan teriakan yang menyatu menjadi satu. Semuanya tampak begitu cepat. Motor itu terus melaju dengan cepat, tanpa berhenti sedikit pun. Anak kecil itu terhempas ke arah pembatas jalan, darah segar merembes dari kepalanya yang terbalut jilbab. Kulihat Pak Udin berteriak dan berlari ke arah gadis kecil itu, sambil beristighfar. Aku arahkan mataku ke motor yang masih melaju dengan cepatnya. Aku syok, astaghfirullah. “Humaira!” jeritku dalam hati. Bibirku kelu, syarafku benar-benar mati. Aku merasa sedang menonton sebuah film layar lebar yang tampak begitu nyata. Ya, ini bukan film, ini nyata!
  Kupaksakan kakiku yang tremor untuk turun segera dari mobil. Orang-orang berkerumun mengelilingi Humaira yang berlumur darah. Seketika kulihat stetoskopku masih berada di tangannya yang sudah tergeletak di aspal jalanan. Terbayang lagi mimpi anak kecil itu dan harapannya yang membuncah. Yaa Rabb, tolong selamatkan Humaira! Pekikku dalam hati. Mataku panas, dadaku berdebar, napasku sesak, kakiku bergetar hebat dan tiba-tiba semuanya jadi gelap.

***

(Nisrina Naflah)

25 Januari 2011

Mahabbah itu Indah

Assalamu'alaykum.


Alhamdulillah, hari ini masih bisa membuka mata, merasakan indahnya nikmat sehat yang masih dikaruniakan oleh-Nya. Menggerakkan ujung-ujung jemari di deretan huruf, angka dan simbol, menyadarkan bahwa waktu akan terbuang sia-sia tanpa hal positif. Untuk itu, terus bermimpi dan bergerak tanpa lelah. Jika bisa kuteriakkan ucapan syukur, maka akan kuteriakkan hingga kering tenggorokan ini. Bahkan mungkin itu tidak cukup untuk menunjukkan betapa aku bersyukur atas nikmat-Nya selama ini.


Allahuma shalli 'ala Muhammad. Kuhaturkan kalimat ini hanya untuk lelaki pujaan, yang membawa risalah kebenaran hingga aku dan umat Islam dapat merasakan indahnya nikmat Iman dan Islam. Aku semakin rindu ingin bertemu Rasulullah, bertemu langsung dengan sosok yang luar biasa. Tapi, sudah pantaskah? Sepertinya masih jauh di angan, perlu pembenahan diri yang lebih untuk itu. Ayo Rin, berbenah!


Mahabbah, semuanya pasti udah tau ma satu kata ini. Gak dipungkiri, ini suatu fitrah yang dirasakan semua orang, tanpa kecuali. Sesuatu yang sebenarnya indah, tapi akan menjadi racun bagi diri sendiri jika tidak bisa mengaturnya. Cinta itu fitrah, cinta itu anugerah, begitu katanya? Yep, setuju aja lah, hhaha.


Lantas apa sih tanda-tanda mahabbah itu? Berdasarkan yang aku dapat dari MRku, tanda-tanda cinta yang benar itu antara lain:
1. Selalu teringat. Mau dimana aja, kapan aja, ngapain aja, pasti secara sadar en gak sadar teringat. Ne udah rumus dasar yang gak bisa dihapus dari tanda-tanda cinta. Ngaku deh, kalo lagi jatuh cinta pasti selalu ingat si dia kan?
2. Kagum. Yaiyalah kalo cinta pasti kagum. Segala sifat yang ada di dirinya pasti dikagumi setengah mati. "Duh, dia tuh baik banget!" "Subhanallah, tu orang dewasa banget!" "Ih wow, ni anak tajir juga yaaak." #plaaaak! hhaha. Pokoknya kagum ma semua kelebihannya deh, gak pake nawar ya.
3. Rela. Yap, rela dah ngelakuin apa aja asal bisa bikin dia senang. Asal bisa bikin diri kita 'luar biasa' di mata dia. Dari hal kecil mpe hal yang gede dilakuin. Rela dah, rela setengah hidup. bdeuuuuh.
4. Rela berkorban. Rela ngorbanin waktu cuma buat mikirin dia, rela ngorbanin materi buat ntraktir dia (padahal duit buat makan aja gak cukup ---> anak kos) hhoho.
5. Takut. Afraid? Yep, afraid bgt kalo dia kenapa-kenapa. Afraid bgt kalo dia tiba2 cuek ma kita. Afraid bgt kalo ada sikap kita yang 'gak baik' di mata dia. Yoweiz lah, aku lebih takut ama cacing daripada dicuekin, seriusssss dah.
6. Berharap. Nah, ini dia. Cinta ntu identik ma harapan2, entah nyata ataupun semu. Banyak banget loh korban cinta dari harapan2 yang ternyata semu, gue sering denger+baca nih. Banyak banget contoh2 kasusnya. Makanya, buat pejantan2 jangan terlalu sering ngasih harapan2 palsu ma betina2. En buat betina2 juga jangan terlalu berharap ma orang yang belum tentu jadi jodoh loe. Oke oke. (nasehat gue kayak nasehat orang yang udah kawin ajeee...ckck)
7. Menanti. Jadi ingat lagunya Rossa, Kumenunggu...Kumenunggu kau putus dengan kekasihmuuuu...ahaha. Poin ke-7 ini masih erat kaitannya ma poin ke-6. Berharap dan menanti. Gue sering baca nih, banyak ikhwan2 yang dengan gampangnya ngasih harapan ke akhwat bahwa dia bakalan datang buat ta'aruf en ngekhitbah tu akhwat. Si akhwat pun menanti dan berharap itu akan segera terjadi, nyatanya??? Jreeeng, ikhwannya kaga datang2, blom siap, begitu alasannya. Alaaaah, kalo belum siap mah, kaga usah ngasih harapan kaga jelas gitu... (emosi nih, sering banget baca artikel2/cerita2 kaya beginian... -_-')






Kayaknya 7 poin di atas udah bisa mewakili tanda-tanda dari cinta itu sendiri. Hemmmmmm, tapiiiii... Sepertinya ada yang salah. Seharusnya kita tahu tingkatan-tingkatan dari mahabbah. Well, ini dia tingkatan-tingkatannya:
1. cinta pada Allah
biasanya disebut dengan at-tatayyum. ini tingkatan cinta tertinggi dan terdalam kepada Maha Cinta, Sang Empunya Cinta. Coba deh dipikir bener2, yang paling mencintai kita di dunia ini adalah Allah swt. Cinta-Nya gak ada tandingannya. Duh, jadi makin cinta. :)
2. cinta pada Rasulullah
disebut juga Al-'isyqu, yaitu kecintaan pada manusia yang luar biasa. "Rasulullah...hadirmu bagaikan pelita...menerangi manusia...menuju jalan yang terindah...akhlak yang mulia...mengubah keadaan masa...segala sunnahnya...tauladan bagi kitaaaaaa" dari semua pengorbanan beliau, sudah sepatutnya kita mencintai dan merindukannya. :)
3. cinta pada keluarga
ulama menyebutnya Asy-syauqu yang artinya rindu,perasaan yang ingin selalu bersama, namun gak sampai menyatukan kita dengannya.
siapa yang gak cinta sama bunda sendiri??? siapa yang gak sayang sama ayah sendiri??? Ade??? Kakak??? pasti cinta laaaaah. Coba deh kalau gak ada mereka, sedihnyaaaa.
4. cinta pada sesama mukmin
istilahnya Ash-shobabah, dimana adanya cinta yang muncul sesama manusia atas dasar keyakinan. Ukhuwah itu indah kan? Saling mencintai sesama saudara. :)
5. cinta pada sesama manusia
Al-'Athfu yang artinya empati. Yang udah gue paparkan dengan lebay di atas. Suatu fitrah yang pasti dirasakan semua orang. Bersyukurlah, anda normal. #lhoooo?
6. cinta pada harta
Gak boleh berlebihan juga sih, takutnya ntar malah asiiik ma dunia. hha. Ini disebut juga Al-'alaqah. Bukan berarti materialistik, tapi cinta pada harta yang memberi manfaat, misalnya buat dakwah, sedekah, dll.




Berhubung sumber dari segala cinta adalah Sang Maha Cinta, jadi tanda cinta yang baik itu mesti bersumber dari-Nya juga. Jadi, kita ulang ya 7 poin tanda-tanda cinta yang benaaaar.
1. Selalu teringat
kalo kita bener2 cinta, maka kita akan mengingat Rabb dengan banyak cara. Berdzikir di setiap waktu. Berdoa di setiap aktivitas. Shalat. Ngaji. de es be lah.
2. Kagum
ma'rifatullah pasti akan membuat kita kagum dengan-Nya. Terlebih jika kita mempelajari segala ciptaan-Nya, pasti tambah kagum. Kagum itulah yang akan membawa kita pada cinta-Nya.
3. Rela
Rela dalam melakukan segala hal, ikhlas hanya karena-Nya. Lillah dah pokoknya. Itu merupakan salah satu tanda bahwa kita mencintai-Nya.
4. Rela berkorban
waktu, materi, bahkan nyawa. Semuanya rela dikorbankan demi syariat.
5. Takut
Hanya takut pada-Nya. Sesungguhnya hanya orang-orang yang berilmu dari hamba Allah yang takut kepada-Nya ”.(QS. Fathir [35] : 28). Takut di sini dalam artian, kita takut akan murkanya Allah jika kita melakukan hal-hal yang dibenci-Nya. Sehingga takut merupakan tanda cinta kita pada-Nya karena kita gak mau Allah membenci kita. :)
6. Berharap
Berharap agar mendapat pahala sehingga kelak bisa bertemu dengan Allah di jannah-Nya. :) Siapa yang gak mau bertemu dengan-Nya? Nihil. Sekarang tinggal kitanya aja lagi, masih berharap gak ketemu sama Allah? Kalo bener2 cinta pasti pengen ketemu, tapi sudah layakkah kita bertemu dengan-Nya? hmmmm.. Ayo berbenah diri.
7. Menanti
Menanti kematian. Menanti pertemuan itu. hmmmm.


Terkadang kita gak sadar bahwa kadar rasa cinta kita kepada hamba-Nya melebihi rasa cinta kita kepada Allah, Pemilik Cinta yang Utuh. Di sinilah tantangan buat kita, gimana caranya agar kita selalu mencintai sesuatu dengan landasan cinta karena-Nya. Sehingga tingkatan cinta tertinggi yang kita rasakan adalah untuk-Nya, dan cinta-cinta lain yang bersumber dari cinta pada-Nya. Mahabbah itu indah, sangat indah jika dilandasi cinta kepada-Nya, dan menambah cinta untuk-Nya, serta menguatkan iman kepada-Nya. :)






“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah (melebihi cinta orang musyrik kepada berhala mereka)”. (QS. Al Baqoroh [2] : 165).


rhie, manusia lemah yang sedang belajar mencintai segala sesuatu atas dasar cinta kepada-Nya, cinta karena-Nya.


cinta mamaaaa abaaaah Fajaaaar Adiii karena Allah...
:')


(pas bener ni foto ma keluarga gw)


_rhie_