4 Juni 2013

Tutup Saja Kupingmu

Tutup saja kupingmu,
hingga tak terdengar sedikit pun tanda,
membuat jemu dengan semua.

Tutup saja kupingmu,
hingga tak terbentuk sedikit pun tanya,
menyeruak kemudian ternganga.

Tutup saja kupingmu,
hingga tak tersulut sedikit pun prasangka,
mendera hancurkan segalanya.

Tutup saja kupingmu,
atas segala yang tak menentu,
lantas diam tersedu.

Menyesal telah mendengar?

Tutup saja kupingmu,
lalu acuhkan dan tetap berlalu,
seakan tak pernah mendengar sesuatu.

Hal itu.

-Nisrina Naflah-


2 Juni 2013

Bagaimana Caranya?

Ingin bertanya, bagaimana caranya?
Agar kuat, senantiasa terjaga, dan kokoh berdiri tanpa goyah.

Minta sama Allah.
Minta dikuatkan oleh kekuatan-Nya.
Minta dijagakan dari segala hal yang menjerumuskan.
Minta dikokohkan dengan segala macam bentuk pemahaman yang baik.

:)

-Nisrina Naflah-

Repot



Andai saja, segumpal hal yang dinamakan perasaan ini bisa dicungkil, dikeluarkan, dan dibuang dari hati, mungkin tidak akan repot seperti ini. Repot mengurus rasa, repot menahan gejolak yang sebenarnya tidak perlu, repot mengusir asumsi-asumsi yang kurang ajar bermunculan sendiri. Dan di saat sadar, hanya bisa menggeleng dan meneriaki perasaan, "Woy, kaga usah lebay! Geer banget sih lu! Sadar woy! Jaga diri, jaga hati, jaga iman!"

*didapatkan dari seorang 'teman diri sendiri' yang mulai kerepotan menata hati*

-Nisrina Naflah-

18 Mei 2013

Keyakinan

Jika kau mulai lunglai dengan segenap kondisi yang bermain licik di depan mata, yakinilah Allah akan senantiasa menjaga, sekalipun kau merasa akan jatuh. Semua akan baik-baik saja asal kau teguh dengan keyakinan.

Jika kau mulai rapuh dengan segala prahara yang berkelebat membuat ragu, yakinilah Allah akan senantiasa menguatkan, sekalipun kau merasa akan menyerah. Semua akan baik-baik saja asal kau teguh dengan keyakinan.

Jika kau mulai menangis dengan semua hal yang bertabur semu membuat lemah, yakinilah Allah akan senantiasa memberikan yang terbaik, sekalipun kau merasa tak ada apa-apanya. Semua akan baik-baik saja asal kau teguh dengan keyakinan.

Keyakinan bahwa setiap langkah di dunia ini bergantung pada-Nya.
Keyakinan bahwa kepada-Nya lah semua bermuara.
Keyakinan bahwa segala takdir yang dihadapi mengandung hikmah yang luar biasa.

Hanya saja, tidak mudah untuk memegang teguh keyakinan. Setidaknya teruslah berusaha untuk menggigitnya, yakinlah dengan keyakinan.

-Nisrina Naflah-

15 Mei 2013

Ini Jalanku, dengan Jejak Langkahku Sendiri

Hey, apa yang kalian pikirkan dengan omongan orang yang selalu menyangkut pautkan kalian dengan orang lain? Maksudnya seperti ini, setiap apapun yang kalian kerjakan selalu dianggap mengikuti orang lain. Setiap hal yang kalian lakukan dianggap semata-mata karena ingin ngekor orang tersebut. Kalau orang lain yang dimaksud itu orangtua atau saudara atau inspirator seperti Nabi Muhammad, aku pikir gak masalah. Tapi ketika semua hal yang ada pada diri kita selalu dianggap ngekor sama orang lain, seolah hanya ikut melangkah di belakang orang lain, itu keterlaluan.

Mungkin ada yang beranggapan itu bukan masalah, itu hal yang wajar ketika menjadi follower orang lain, selagi itu masih dalah hal positif. Yap, memang benar, bukan masalah. Tetapi bagi orang-orang koleris, hal itu sangat menyebalkan. Bayangkan saja, setiap hal yang kita lakukan, yang kita putuskan, bahkan yang kita rencanakan selalu dikaitkan dengan orang lain. Seakan-akan kita tidak punya pilihan jalan sendiri, tidak dapat melangkah dengan jejak sendiri. Selemah itu kah?

Ini jalanku, dengan jejak langkahku sendiri. Bukan di jalan orang lain, bukan pula dengan jejak langkah orang lain. Aku menjadi seperti ini, karena aku sendiri yang memilih untuk menjadi seperti ini. Aku memilih jalan ini, karena memang hatiku yang ingin melewati jalan ini. Bukan karena orang lain, bukan karena ikut-ikutan, bukan karena terpaku menjadi bayangan yang senantiasa mengikuti di belakang orang lain. Semua yang kulakukan, kuputuskan, bahkan yang baru kurencanakan berasal dari diriku sendiri. Aku adalah master dalam pikiranku sendiri, seperti itu kata-kata yang pernah diberikan murabbiku. Atas kehendak Allah, atas ketetapan dari-Nya. Bukan karena orang lain. Sungguh bukan. Egois? Entahlah. Sampai detik ini, aku heran dengan anggapan-anggapan aneh itu. Aneh kubilang, ya memang aneh. Sesuka hati menyimpulkan sesuatu yang tampak di depan mata, tanpa menelaah yang kasat mata.

Hey, apa yang kalian pikirkan dengan omongan orang yang selalu menyangkut pautkan kalian dengan orang lain? Sudahlah, abaikan saja. Teriakkan dalam hati kalian, "Ini jalanku, dengan jejak langkahku sendiri." Acuhkan, dan buktikan.

-Nisrina Naflah-