23 Oktober 2014

Terimakasih!

Terimakasih!

You make me feel alive~

Kepercayaan itu, secara gak langsung bikin aku merasa kalo aku ini ternyata ada. Bikin aku merasa kalo aku ini bisa bermanfaat. Bikin aku merasa kalo aku ini masih berguna. Walaupun sedikit, dan gak ada nilainya lah kalo dibandingkan sama yang lain.

Persinggungan tadi pagi, ditambah dengan rangkaian kata yang terlontar begitu saja, bikin aku bingung mau bilang apa, cuman bisa bilang malu dan menutup muka dengan buku. Selalu demikian. Sampai akhirnya aku tampak seperti orang bipolar, yang kena serangan euforia bertubi2.

Terimakasih!

Pagi ini membuat mood yang sendu awalnya, jadi cerah akhirnya. Walaupun sampai detik ini pun aku gak tau akan jadi seperti apa nanti akhirnya.

SMGT!

_Nisrina Naflah_

8 Oktober 2014

Begitu Ternyata Rasanya

Tiba2 aku teringat dengan serangkaian kejadian, di sebuah stase yang dianggap mengerikan~

***
"Jangan manja, jangan nyalahin konsulen kalo kalian gak bisa konsul, menyalahkan konsulen yang sering keluar kota karena ada pendidikan. Banyak cara agar kalian bisa konsul, ada email, ada whats up, apa susahnya. Kalian yang harus lebih berusaha."

Aku hanya diam, mengangguk, membenarkan. Hanya saja aku bingung, kapan aku menyalahkan? Akupun sudah mencoba konsul via email dan whats up. Mungkin sudah takdirnya. Aku pun menghela napas panjang, sambil berusaha menyunggingkan senyum seikhlas-ikhlasnya. Aku terus mengerjakan laporan kasusku dengan kemampuanku sendiri.

***
Siang itu aku sangat mengantuk, super mengantuk. Tapi siang itu juga aku harus pergi ke rumah konsulen untuk mengumpulkan makalah laporan kasusku yang akan kupresentasikan besok harinya. Tadi malam aku jaga tanpa terlelap sedikitpun karena amanah2 dari Allah swt untuk orangtua2 di muka bumi ini selalu berdatangan dengan tangis2 mengharukan hati. Terlebih saat itu aku bertugas menjadi DM substase yang cukup melelahkan, DM bayi. Aku benar2 sangat mengantuk. Di jalan menuju rumah konsulen, aku sudah tak sadar lagi terlelap saat mengedarai motorku, bangun2 aku sudah masuk ke selokan penuh air comberan berwarna hijau kehitaman bersama motor kesayanganku. Aku pikir aku sudah mati. Baju dan rokku kotor dan basah, spion motorku patah dan pecah, motorku terluka sama parahnya dengan lecet di kaki dan tanganku. Aku masih setengah terlelap, karena aku benar2 mengantuk. Orang2 pun berdatangan menghampiri.

"Loh, kenapa mbak kok jatuh sendiri? Ketiduran di motor ya? Gak ada apa2 kok bisa masuk selokan gini? Ayok mbak sini dibantu ngeluarin motornya. Mbak gak apa2?"

"Hhahaha. Iya Pak, jadi malu. Saya ngantuk banget, tadi malam jaga gak bisa tidur sama sekali, lanjut dinas sampai tadi siang. Ketiduran di motor deh."

"Ayok mbak, minum duku biar enakan."

Aku menahan tawa merasa konyol dengan diri sendiri.

"Wah, spionnya ini patah dari dalam mbak. Gak bisa dipasang ini, harus dibongkar dulu. Ini juga bagian bawah motornya pecah gitu. Terus bagian kiri-kanannya lecet. Untung mbaknya gak jatuh ke tengah jalan, bisa kelindas mobil di belakang mbak tadi."

Hooh Pak, aku juga ngira aku udah mati. Untung aja nyebur ke selokan doang, aku menyahut dalam hati.

"Pak, numpang nanya, alamat ini lokasinya dimana ya?"

Beberapa orang yang menghampiriku berdiskusi dan akhirnya memberitahukan lokasi alamat yang kucari. Dengan rasa perih yang masih terasa di telapak tangan, aku coba untuk menggas motorku, sambil berhati2 karena spionku sudah tidak berfungsi. Aku sempat berpikir untuk pulang dulu ke kos, mengganti bajuku yang busuk ini, tapi waktu sudah mengejarku. Setelah keliling sana-sini, akhirnya aku menemukan rumahnya. Dan nihil, konsulen sudah pergi keluar rumah dan hanya ada mbak2 yang membantu di rumah. Aku pun langsung menitipkan makalahku, dan kembali ke kos begadang lagi mengerjakan power point untuk presentasi besok. Aku terus mengerjakan laporan kasusku dengan kemampuanku sendiri.

***
Akhirnya aku maju presentasi laporan kasus, dengan mata pandaku yang membuat mataku semakin terlihat sipit. Menjawab pertanyaan2 pembahas dengan semampuku. Semua tampak lancar, aman, dan terkendali. Walaupun rasa kantuk dan perih di bagian tubuhku yang lecet dan lebam masih sangat menyiksa. Belum lagi tugas dm bayi yang hilir mudik kesana kemari di waktu paginya, membuat kaki ini serasa mau lepas.

"Makalah kamu ini pasti bukan kamu yang bikin. Kamu pasti dibikinkan orang lain. Ketahuan kok."

Kalimat itu yang membuatku terpaku di antara kalimat2 lain yang cukup menghibur atas jerih payahku. Jleb!!! Hasil kerjaku sendiri dibilang sebagai hasil kerja orang lain? Mataku panas, namun enggan untuk mengeluarkan airmata, berkaca2 pun tidak. Mataku sudah terlalu lelah hingga tak mampu mengeluarkan airmata lagi. Aku diam, mencoba menenangkan diri. Toh percuma jika aku melontarkan kalimat pembelaan diri.

"Ah, terserahlah dokter mau bilang apa, yang penting Allah Maha Tahu siapa yang mengerjakan semua ini. Allah tahu perjuanganku, Allah tahu sakitku. Tak penting lah praduga dari manusia lain, yang penting Allah Maha Tahu."

Parahnya, ada saja beberapa temanku yang melontarkan kalimat, "Rin, beneran ngupah ya? Ngupah dimana? Tumben..."

"Enak aja lu, gua ngerjain sendiri, sampai kecebur di selokan tauuu, hhaha."

Tawa pun pecah di antara kami. Kejadian itu benar2 konyol. Tawa itu berhasil mengobati rasa sedihku karena sudah dituduh "tugas dikerjakan oleh orang lain". Ah, dokter. Andai dokter tau, saya hampir mati kelindas mobil pas ngantar makalah ini kemaren. Lagi2 aku berusaha menyunggingkan senyum seikhlas-ikhlasnya. Yang penting aku telah mengerjakan laporan kasusku dengan kemampuanku sendiri. SENDIRI! :)

***
Sudah 8 bulan berlalu, seorang teman yang sedang stase di stase mengerikan itu menghubungi aku untuk meminta contoh makalah laporan kasus, karena konsulen pembimbingnya sama denganku dulu. Dengan ringan hati kuberikan filenya, dan jackpot! Kasusnya sama! Makalahnya pun otomatis akan "hampir sama" (you know what I mean).

Setelah dia maju presentasi, dia mendapat sambutan luar biasa.

"Isi makalah kamu bagus banget dek. Bla bla bla bla."

Semuanya berisi pujian yang berlimpah2. Hahahahahahahahahaha! LUCU!!! Di saat aku yang mengerjakan sendiri, dibilang makalahnya dikerjain orang lain. Giliran dia yang makalahnya "dikerjain" orang lain, dibilang bagus banget. DUNIA EMANG FANA SAUDARA2! Yaa Allah, rasanya gemesssss banget tauuu! Tapi bawa ketawa aja. Hhahaha.

***
Begitulah pandangan manusia, takkan bisa mengetahui secara pasti apa yang sebenarnya ada dan terjadi. Intinya, yakinlah selalu bahwa ada Allah yang Maha Melihat. Gak usah pedulikan penilaian manusia, jika yang kamu lakukan sudah benar. Jangan pernah kamu menjadi kurang hanya karena memikirkan penilaian orang lain. Teruslah berbuat apa yang menurut hatimu benar dan membuat Allah senang. Acuhkan semua komentar negatif, apalagi komentar yang meluncur hanya berdasarkan perkiraan dari orang lain, yang penting Allah tahu kok gimana yang sebenarnya. Belajar sabar, syukur, ikhlas selalu. Yeayyy!

Semoga konsulen itu gak suka nuduh2 sembarangan lagi yaaaa. Aamiin yaa Rabb.

-Nisrina Naflah-

27 Agustus 2014

Menyadarkan Realita

Lorong ini kerap sekali menjadi saksi bisu...
Dimana persinggungan terjadi tanpa ada tanda sebelumnya...
Menatap tunduk mengiring langkah...
Bertingkah seolah tak tahu...
Semakin mengikis asa, menyadarkan realita...

Persinggungan ini ibarat oase yang tak sempurna...
Kelu...
Hingga iringan musik itu kembali terngiang...
Serupa dengan senandung yang pernah digumamkannya...
Kembali menyadarkan realita...

-Nisrina Naflah-

7 Agustus 2014

Hahahaha Itu Benar Sekali~

Lagi-lagi, aku tersungkur hanya karena penilaian manusia.
Padahal aku tahu, penilaian yang sejati hanyalah penilaian dari-Nya.
Aku sangat tahu, tapi mungkin belum mengerti dan memaknai sepenuhnya.

***

"Wah, Vita cantik banget," seru Sari dari tempat duduknya.
"Ah," Vita menyahut sambil memonyongkan bibirnya.
"Wah, tetep cantik," Sari menimpali.
Vita tersipu sambil menempelkan pipinya yang tirus ke sisi lemari sebelahnya.
Lagi-lagi Sari berkomentar, "Gimana pun posenya, selalu cantik."
Vita tertawa renyah, menunjukkan gigi gingsulnya yang membuat wajahnya semakin manis.
"Iya, selalu cantik. Nggak kayak kamu kan, Sari. Gimanapun posenya selalu jelek, jelek, dan jelek, hahaha," seseorang tiba-tiba menyelutuk spontan dengan tertawa menyindir.
"Hahahaha, kampret lu. Awas lu ya kalo ntar gue jadi model, hhahaha," Sari menjawab sindiran itu dengan wajah ceria dan tawa yang lepas, tanpa tersinggung sedikit pun.

***

Ada masa dimana seseorang akan tersungkur atas keadaan yang ada pada dirinya. Dan akan tersungkur jauh lebih dalam lagi karena celetukan yang menohok yang tanpa dia tahu pasti apakah itu hanya bercanda atau spontan keluar dari  mulutnya.
Yang jelas, jadi Sari itu nyelekit banget. Hhaha. Walaupun Sari sadar betul apa yang dikatakan temannya itu kenyataan, teteuppp rasanya gimana gitu ya.
Ikut tertawa tanpa beban, membiarkan semua tertawa, mungkin sudah cukup bagi Sari untuk menebus janjinya ingin menjadi Si Purnama.
Asalkan mereka bahagia, senang, dan tertawa, tak masalah mau dibilang apapun juga.
Tapi, satu hal yang tak disadari, bahwa ada masa dimana seseorang akan tersungkur atas keadaan yang ada pada dirinya. Dan akan tersungkur jauh lebih dalam lagi karena celetukan yang menohok yang tanpa dia tahu pasti apakah itu hanya bercanda atau spontan keluar dari  mulutnya.
Membuatnya terjatuh dan merendahkan dirinya sendiri, merasa tak bermakna layaknya batu di tumpukan intan permata.
Mungkin ada tangan yang bersedia memungutnya nanti? Tangan yang bersih dan lembut yang siap mengasahnya menjadi batu yang lebih baik, bahkan terbaik. Membuatnya menjadi lebih bermakna, di mata Tuhan-Nya.

-Nisrina Naflah-

9 Juli 2014

I Don't Wanna Fall Asleep

Langit tanpa bintang
Di depanku sedang berlangsung proyek pembangunan rumah sakit
Para pekerja itu masih bekerja
Dan di sini aku masih terjaga
Sedangkan kaBagas dan Epie sudah terlelap lega
Di ujung lorong sana ada beberapa pasien yang duduk
Menonton alat angkat berat mengangkat besi2
Tontonan yang lumayan menarik di malam tanpa bintang ini

Ini sudah pukul dua malam, tapi aku memutuskan untuk tetap terjaga
Karena malam selalu mengingatkanku pada mereka
Pada momen2 berharga yang terlewat begitu saja
Pada episode2 luar biasa yang berlalu dengan cepatnya

Adakah kesempatan untuk menjejakkan langkah di tempat itu?
Tahun ini, sebelum tanggal 31 Desember 2014 berakhir.
Kuharap ada.

"I don't wanna close my eyes, i don't wanna fall asleep~"