23 Januari 2016

Karena yang Manis itu...

Pernah gak ketumpahan air gula gitu di kulit? Ya apapun lah, pokoknya yang manis2 kental, pasti lengket kan di kulit? Kalo dilap pake tissue doang, gak bakalan hilang lengketnya. Harus dicuci, pake air mengalir, sambil dielus-tekan gitu biar hilang air gulanya di kulit dan gak lengket lagi. Atau kalo mau dibiarin aja, memang bakalan hilang, tapi lengketnya bakalan kerasa banget dan kadang itu bikin gak enak. Kalopun dibiarin, hilangnya perlu waktu yang lama dibandingkan kalo kita cuci pake air.

Gitu juga sama kenangan manis. Sama kayak air gula, bakalan kerasa lengket, susah hilangnya. Kadang, kenangan manis itu dibiarkan aja nyudut di hati, nunggu aliran waktu yang ngehapus sedikit demi sedikit. Tapi itu kerasa banget. Dan gara2 itu juga, malah bikin tu kenangan manis semakin sulit buat dilupain. Apalagi kalo kenangan manis itu emang bener2 manis, tanpa ada air tuba yang merusaknya, hhaha. Yaudah lah, lengketnya mungkin ngalahin lem korea yg dijual amang2 di RS Ulin, hhaha.

Sayangnya, masalah tumpahan air gula gak cukup sampai di situ aja. Itu baru tumpahan cuy, belum lagi "tegukan" air gula. Kalo tumpahan air gula, lengket, bisa dicuci, terus hilang. Lah kalo tegukan air gula, sampai kapanpun juga bakalan ingat terus gimana manisnya air gula itu! It has been saved be a memory. Gimana ngelupainnya rasa manisnya coba? Gak bakalan lupa lah.

Itulah kenapa males banget pacaran. Lu kalo pacaran bakalan ketumpahan+ngerasain kenangan manis itu sama pacar lu. Dan parahnya, gak ada yg bisa menjamin lu bakalan nikah sama pacar lu yang penuh kenangan manis itu. Kebayang gak sih, gimana kalo lu nikah sama pria/wanita yg bukan pacar lu? Seharusnya lu bisa bahagia bareng sama dia, eh yang ada lu di beberapa waktu tertentu tiba2 ingat kenangan2 manis sama mantan2 lu yang dulu. Nyesek tau. Kebayang gak sih gimana kalo suami/istri lu tau kalo ternyata lu masih menyimpan jutaan kenangan manis sama mantan2nya dan bahkan kadang kangen gitu sama mantannya, misalnya. Yaa Allah, sedih sedih sedih. Nyesek nyesek nyesek.

Tapi, yang namanya jodoh, udah diatur sama Yang Di Atas. Yakin yang terbaik aja lah, bagaimanapun kondisinya.

Semoga segera dipertemukan dan dipersatukan dengan jodoh yang terbaik dari Allah. Yg gak bikin sedih terus. Yg gak bikin galau terus. Yg gak bikin nyesek terus. Hhaha. Aamiin yaa Rabb.

-Nisrina Naflah-

15 Januari 2016

Mamah, Mamah, Mamah

Sekarang masih : mamah, mamah, mamah, ayah, kerabat terdekat.

Nanti akan: suami, suami, suami, suami, dan suami.

Semoga dikasih suami yang sholeh, dan bisa senantiasa belajar untuk jadi istri yang sholehah serta taat pada suami.

Aamiin yaa Rabb.

12 Januari 2016

Self Reminder

Kadang, kita lupa prinsip hidup yang mendasar.
Saat kita berada di zona nyaman.
Merasa bahagia.
Merasa benar dan wajar.
Merasa senang.
Merasa terbang.

Padahal, tanpa kita sadari semuanya semu.
Kenyamanan semu.
Kebahagiaan palsu.
Kebenaran yang ternyata hanya pembenaran.
Kesenangan yang abstrak.
Dan sebenarnya jatuh.

Jatuh dari prinsip yang sudah dijunjung tinggi.
Jatuh dari impian akan bahagia yang nyata.

Manusia, ckckck.
Lemah saat bahagia.
Perlu tamparan dan teguran berkali2.
Perlu disadarkan berulang2.
Maha Besar Allah, yang selalu melimpahkan kasih sayang-Nya.
Lewat sepikan2 indah, entah darimana, dari siapa, dan bagaimana.

Tegur hamba selalu, yaa Rabb.
Jika sudah terlalu jauh hamba tersesat dari jalan-Mu.
:')

-Nisrina Naflah-

26 Desember 2015

Baca Ini Bacaaa

Dapat tulisan ini dari facebook salah satu ibu dosen favoritku yang penuh inspirasi (inspirasi dalam segala hal, terutama untuk menjadi istri dan ibunda yang luar biasa). Berhubung isinya bagus, dan biar ntar kalo udah nikah (semoga segera, aamiin) bisa dibaca2 ulang, jadi aku posting di blog ini, hhehe.

Memelihara Rasa Suka kepada Pasangan

“Konsentrasikan ingatan anda. Hadirkan semua sisi kebaikan pasangan anda selama ini. Kumpulkan semua sisi positif pasangan anda”, demikian kalimat perintah saya kepada para peserta Pelatihan Wonderful Family.

“Waktu anda tiga menit untuk menuliskan semua sisi kebaikan dan sisi positif pasangan anda. Silakan mulai menulis !” lanjut saya. Sekitar 100 pasangan suami isteri peserta Pelatihan tersebut segera menulis di atas kertas yang telah disediakan panitia.

Satu menit berlalu. Saya perhatikan peserta serius mengingat kebaikan pasangan untuk dituliskan. Dua menit berlalu. Beberapa peserta tampak sudah selesai menulis. Tak ada lagi kalimat yang akan dituliskan. Tiga menit sudah, waktu untuk peserta habis.

“Waktu habis. Silakan berhenti menulis”, ungkap saya.

“Sekarang hitung berapa poin kebaikan pasangan yang berhasil anda hadirkan dalam tiga menit ini”.

Tampak para peserta menghitung poin yang barusan selesai mereka tuliskan.

“Siapa yang menulis di atas 20 poin?” tanya saya. Tidak seorangpun angkat tangan.

“Siapa yang menulis lebih dari 15 poin?” Seorang wanita angkat tangan. Segera saya minta ia maju ke depan forum. Ternyata ia menulis 16 poin kebaikan suaminya.

“Tolong bacakan 16 poin kebaikan suami tersebut”, pinta saya.

“Suami saya adalah lelaki yang penuh dengan kebaikan. Sangat banyak kebaikannya, tidak cukup waktu bagi saya untuk menuliskan semuanya. Ini sebagian kecil dari begitu banyak kebaikannya”, jawab wanita tersebut terbata-bata.

“Pertama, suami saya rajin ibadah. Kedua, ia lelaki yang ganteng. Ketiga, sikapnya sangat romantis. Keempat, setiap hari selalu ada kata sayang untuk saya.....” lanjutnya.

“Terus?” tanya saya. Ia tidak mampu meneruskan. Matanya berkaca-kaca.

“Biar saya yang membacanya”, ungkap saya. Iapun memberikan kertas kerjanya.

Saya mulai membaca. “....Kelima, senang memijit isteri. Keenam, senang membantu pekerjaan isteri di rumah. Ketujuh, pandai mendidik anak-anak. Kedelapan, suami saya sangat sabar. Kesembilan, menghormati orang tua dan mertua. Kesepuluh, tidak rewel dalam urusan makan.....” dan seterusnya. Saya membacakan enambelas poin kebaikan suami yang ia tuliskan.

Luar biasa. Sangat jarang kami temukan peserta yang mampu menulis kebaikan pasangan dalam waktu sesingkat itu. Hanya tiga menit saja, namun ia mampu menuliskan enambelas poin kebaikan pasangan.

Saya segera mengapresiasi dengan memberikan hadiah kepadanya. Saya katakan di forum, “Bersyukurlah suami yang isterinya mampu melihat sangat banyak kebaikan suami. Bersyukurlah isteri yang suaminya mampu melihat sangat banyak kebaikan isteri”.

Inilah yang sering saya sampaikan di berbagai forum, bahwa cara untuk menjaga rasa suka kepada pasangan adalah dengan jalan mengingat berbagai kebaikan pasangan. Fokus melihat sisi positif, sisi kelebihan, sisi kebaikan pasangan yang ada pada pasangan.

Kenyataannya, setiap hari pasangan hidup kita melakukan sangat banyak perbuatan baik kepada kita, sejak bangun tidur di pagi hari hingga berangkat tidur lagi di malam hari. Sangat banyak perbuatan baik yang dilakukan pasangan kepada kita, namun karena dilakukan setiap hari maka dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

Isteri memasak setiap hari untuk keperluan keluarga, dianggap hal biasa. Bahkan sebagian suami menganggapnya sebagai kewajiban, bukan kebaikan.

Suami yang setiap hari bekerja keras mencari nafkah adalah kebaikan. Namun karena itu yang menjadi kegiatannya setiap hari, maka dianggap sebagai hal yang lumrah dan wajar saja. Bahkan sebagian isteri mengatakan, itu bukan kebaikan karena memang menjadi kewajiban para suami untuk melakukannya.

Saya tanyakan kepada para peserta laki-laki, “Apakah para suami di sini rutin memberikan nafkah kepada isterinya ?”

Para suami menjawab, “Ya, kami rutin memberi nafkah untuk keluarga”.

Pertanyaan saya kepada para peserta perempuan, “Siapakah di antara anda yang menuliskan pemberian nafkah rutin sebagai kebaikan suami?”

Ternyata hanya tiga peserta perempuan yang angkat tangan.

Ketika saya tanyakan kepada para isteri di forum itu, “Mengapa anda tidak menuliskan pemberian nafkah sebagai kebaikan suami?”

Jawaban para isteri beragam. Ada yang menjawab, “Karena itu sudah biasa dilakukan, jadi wajar saja”. Ada yang menjawab, “Karena itu memang sudah menjadi kewajibannya”. Ada yang menjawab, “Karena itu sudah menjadi rutinitas, sehingga tidak dicatat sebagai kebaikan”.

Bahkan ada yang menjawab, “Karena ngasihnya Cuma sedikit...”

Berikutnya saya tanyakan kepada para peserta perempuan, “Apakah para isteri di sini rutin memasak untuk keluarga di rumah?”

Para isteri menjawab, “Ya setiap hari kami memasak”.

Pertanyaan saya kepada peserta laki-laki, “Siapakah di antara anda yang menuliskan, isteri rutin memasak untuk keluarga sebagai kebaikan isteri?”

Ternyata hanya dua peserta yang angkat tangan.

Ketika saya tanyakan kepada para suami, “Mengapa anda tidak menuliskan memasak sebagai kebaikan isteri anda?”

Jawaban para suami, “Itu kan sudah menjadi kewajibannya”. Sebagian lain mengatakan, “Itu sudah biasa dilakukan semua perempuan dimana-mana”.

Begitulah mereka memahami tentang aktivitas memasak yang dilakukan isteri setiap hari di rumah. Seakan-akan sudah menjadi kewajaran sehingga tidak dicatat sebagai kebaikan.

Ketika saya tanyakan di forum, “Orang yang melakukan kewajiban itu orang baik atau tidak baik?”

Serentak mereka menjawab, “Orang baik”.

Nah, jadi mengapa anda tidak menganggap kewajiban yang dilakukan pasangan anda sebagai kebaikan? Bukankah orang yang menunaikan kewajiban adalah orang baik?

Kenyataannya, kita semua akan bersedih apabila pasangan kita menolak melakukan kewajibannya.

Maka, janganlah kekurangan pasangan menutupi mata anda, sehingga anda tidak bisa lagi melihat sangat banyak kebaikan yang ia lakukan. Apabila mata anda ditutupi oleh kekurangan pasangan, maka anda tidak sanggup melihat berbagai kelebihan yang dimilikinya.

Mulai sekarang, fokuskan perhatian anda kepada sisi kebaikan dan sisi positif pasangan anda. Jika kebaikan dan kelebihan pasangan yang selalu anda ingat, maka anda akan selalu bersyukur karena memiliki pasangan hidup yang sangat banyak memiliki kebaikan.

Sebaliknya, anda akan selalu mengeluhkan pasangan, jika yang anda ingat hanyalah sisi kekurangan dan sisi negatif pasangan.

Nb: diambil dari https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=714978868636474&id=332421710225527

Mantapppp

-Nisrina Naflah-

Semakin ke Sini Semakin...

Semakin ke sini semakin memikirkan,

Siapa...
Kapan...
dan Bagaimana...

Hingga hati kecil terus2an mengingatkan,
"Hey, semua udah diatur sama Sang Maha Romantis. Gak perlu risau, gak perlu galau, janji-Nya benar adanya."

:)

-Nisrina Naflah-