Tampilkan postingan dengan label MAMAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MAMAH. Tampilkan semua postingan

14 Mei 2016

Kutipan Buku Genap

★ AKAD NIKAH ★

Izinkan aku memulai cerita ini dari sepenggal akad yang kamu ucapakan di pelaminan. Bukan karena sebelum itu kita tak punya banyak cerita, tapi karena sebelum itu kita tidak saling bertanggungjawab atas diri kita masing-masing. Kamu bukan tanggungjawabku, begitu sebaliknya. Apalah artinya repot-repot menghabiskan pikiran dan perasaan untuk seseorang, yang sebenarnya orang itu bukan tanggungjawabnya kita. Apalah hebatnya berkorban untuk seseorang, yang sebenarnya orang itu tidak layak atas pengorbanan kita. Bukan berarti tak boleh, hanya saja masih ada yang lebih berhak untuk bersemayam dalam pikiran dan perasaan kita, masih banyak yang lebih layak untuk mendapatkan pengorbanan kita; keluarga kita, orang-orang terdekat kita, orang-orang yang selama ini begitu berarti bagi kehidupan kita, mereka-mereka yang memang menjadi tanggung jawabnya kita. Bukan orang lain yang entah siapalah.

Memang sudah selayaknya seorang perempuan menitikkan air mata, ketika seorang laki-laki mengucapkan akad untuk menggenapinya. Bagaiamana tidak, akad adalah prosesi penyerahan tanggungjawab dari orangtua kepada seorang laki-laki. Ketika seorang perempuan mendengarkan akad yang diucapkan laki-laki yang menggenapinya, saat itu juga tanggungjawab berpindah. Bayangkan, perempuan, makhluk yang selalu butuh kepastian mempercayakan dan menitipkan masa depannya pada seorang laki-laki yang belum begitu lama dikenalnya, menggantikan orangtua yang sudah dari lahir membersamainya. Ada rasa bahagia, sedih, khawatir, yang bercampur-aduk dalam satu waktu, yang sangat cukup menghasilkan zat bernama air mata. Akupun mengalaminya. Dan kamu tahu? Selalu ada perempuan lain yang menitikkan air mata lebih banyak daripada pengantin perempuan dalam seremoni sakral itu; perempuan yang biasa aku panggil dengan sebutan mama.

Aku pikir sederhana saja, ibu manapun akan sedih berpisah dengan anak perempauan yang dilahirkannya, dengan anak yang selama ini membersamainya. Tapi ternyata, masalahnya tidak sesederhana itu. Setidaknya bagi mama. Aku baru mengerti betapa rumitnya hubungan itu, betapa sulitnya melepaskan orang yang kita cintai walaupun itu untuk kebahagiaannya, betapa dibutuhkan keikhlasan tingkat tinggi untuk melepaskan peran yang sudah berpuluh-puluh tahun melekat. Dan aku baru tahu belakangan, betapa seorang ibu membutuhkan kesiapan yang lebih untuk menikahkan anak perempuannya, daripada si anak itu sendiri.

Laki-laki yang menggenap masih bertanggungjawab atas ibunya, bakti utamanya masih tetap ibu. Bahkan di beberapa kasus, seorang laki-laki yang sudah menikah, harus mengambil peran sebagai ayah dalam keluarganya. Sedangkan perempuan, ketika ada laki-laki yang menggenapinya, pada saat akad terucap, perempuan itu menjadi tanggungan suaminya, bakti utamanya berpindah dari orangtua ke suami. Hak dan kewajiban seorang ibu otomatis berkurang banyak, saat anak perempuannya menggenap. Dan itu bukan perasaan yang sederhana. Seorang ibu yang belum siap melepaskan anak perempuannya, terkadang tidak bisa mengendalikin diri untuk tidak terlalu mencampuri urusan rumah tangga anaknya, masih merasa punya hak dan kewajiban yang sama sebelum anak perempuannya menggenap. Hak dan kewajiban yang sebagian sudah otomatis berpindah ke tangan suami melalui akad.

→Kutipan Buku Genap, Nazrul Anwar←

30 April 2016

Save This Memory

Nyampah lagi, entah kapan blog ini berubah jadi blog yang agak sedikit lebih bermanfaat, hhaha...

Beres2 lemari, nemu print2an foto zaman purba. Duh, 2 jagoan sekarang udah gede2, dulu masih unyu2, time flies~

*savethismemory*

3 Maret 2016

J-O-D-O-H

Seperti tertampar ribuan kali.
Tepat sasaran.
Dan pas sekali waktunya.
Notification line berbunyi usai doa yang dihaturkan.
Kubuka kunci layar.
Ternyata line dari kak Hajjah-murobbiyah baruku.

***

TENTANG JODOH

Kalau dia benar mencintaimu, dia takkan mengkhianatimu.
Kalau dia benar menyayangimu, dia rela berpisah demi kebaikanmu.
Kalau dia benar setia padamu, ia takkan menduakanmu.

Karena masalah jodoh, bukan masalah seberapa tampan atau cantik dirinya.
Bukan seberapa kaya dan terkenal dirinya,
Atau seberapa dekat kau dengannya.

Tapi jodoh adalah masalah kecocokan jiwa.
Dan kesiapan untuk hidup bersama dalam suka dan duka.
Menerima kelebihannya, juga memaklumi kekurangannya.

Bukan titik yang menciptakan tinta. Tapi tintalah yang menyebabkan titik. Bukan cinta yang membuat jadi cantik, tapi karena cintalah ia terlihat cantik.

Moga, yang sedang dalam penantian diberikan keistiqomahan dan sikap positif. Sehingga jika tiba saatnya, moga Allah berikan dia yang akan setia menjadi pendamping hidupmu. Aamiin

***

Kalau dia, kalau dia, kalau dia...
Ini tentang kecocokan jiwa dan kesiapan untuk hidup bersama...
Ya, seperti kalimat yang sering sekali terlontar dari bibir mamah.
"Yang paling penting adalah, keduanya ikhlas..."

Entahlah, semua masih sangat semu, tak bisa ditebak, apalagi dipastikan.

-Nisrina Naflah-

2 Maret 2016

Kenapa Harus Kami?

Kenapa harus kami?

Sebuah pertanyaan yang seringkali muncul begitu saja, setelah abah dipanggil-Nya mendahului kami.
Aku, yg udah bertahun2 ikut liqo sekalipun, masih saja melewati tahap denial seolah tidak menerima kenyataan.
Aku sangat paham dan mengerti bahwa segalanya yang ada di dunia ini sejatinya milik Allah, dan kapanpun Allah ingin mengambilnya kembali, kita bisa apa? Bahkan kita sendiri pun adalah milik-Nya. Kapan saja kematian dapat menghampiri. Mau tidak mau. Suka tidak suka. Karena sejatinya kita semua milik Allah,
Masih terekam jelas di memori, saat mendengar kabar "Abah sudah kdd, Nak." Waktu itu aku masih berada di Liang Anggang, dalam mobil Muza yang mengantarku ke Banjarbaru setelah aku mendadak dapat telepon usai tutorial-skill lab, bahwa abah masuk IGD dan aku harus segera pulang ke Banjarbaru.
Aku yang sudah kalut sejak mendapat telepon, terus saja berdzikir, memintakan ampun atas abah, entah doa2 apa saja yang kulantunkan pelan namun dalam dan penuh cemas. Otakku juga selalu mengingatkan bahwa kematian adalah hal yang pasti dan kita nggak tahu kapan itu terjadi. Aku mencoba membuang pikiran itu jauh2, tapi tetap saja aku diingatkan oleh hatiku sendiri bahwa kematian itu adalah sesuatu yang pasti.
Hingga sampai pada kalimat yang dilontarkan acil di balik telepon itu, ketika sebelumnya aku marah berontak dan memohon dengan keras, "ABAH KAYAPA CIL? MAMAH MANA? KENAPA MAMAH KADA NELPON RINA? ABAH DIMANA? KISAHI PANG RINA. KENAPA BEDIAM AJA? ABAH KENAPA? KENAPA RINA HARUS LANGSUNG KE RUMAH? RINA HANDAK MELIHAT ABAH, RINA HANDAK KE IGD DULU! ABAH KADA PAPA LO CIL?" Aku terisak, sesak. Muza & Lili terdiam, wajahnya pucat pasi, bingung mau menenangkan, kelu.
Dan akhirnya, aku menerima jawaban yang memastikan bahwa kematian adalah hal yang pasti dan kita nggak tahu kapan itu terjadi. Kita semua milik-Nya. "Abah sudah kdd, Nak." Aku lunglai, tangisku luruh, beberapa detik awal aku mencoba menghibur diri, mungkin dokter salah menilai, mungkin abah bangun lagi. Hanya beberapa detik, kemudian aku sadar, aku beristighfar tanpa henti, menyesal tak sempat bersimpuh memohon ampun sama abah di waktu-waktu terakhir, meratapi aku yang belum bisa membanggakan beliau, memohonkan ampun atas segala dosanya. "Yaa Allah, hamba mohon yaa Allah, ampuni abah, ampuni segala dosa abah, ringankan lah yaa Allah." Kuulang berkali2, otakku sambil berpikir, mencoba mencari2 hikmah dari ujian ini. Ya, Allah mengambil abah duluan supaya blabla, oh ya supaya blabla juga, dan blabla. Hingga akhirnya, satu kalimat itu muncul, "Tapi Yaa Allah, kenapa harus kami? Kenapa harus kami? Aku masih kuliah, Fajar masih SMA, Adie masih SMP. Kenapa harus kami?" Sisi hatiku yang lain mencoba melawan, "Rin, semua ada hikmahnya. Sungguh, pasti banyak sekali hikmah2 yang berceceran dari kejadian ini. Ingat Rin, kematian itu adalah hal yang pasti."
Hingga sampai ke persimpangan dekat rumah, tangisku meledak kembali, sebuah tanda pasti, bendera hijau yang terpasang di depan pagar rumahku dan rombongan orang2 yang datang. Ya Rin, abah sudah berpulang pada-Nya. Aku lunglai lagi. Aku turun dari mobil, disambut para tamu yang melayat, mereka merangkulku yg berjalan gemetar. Hingga tanda pasti kedua yang kulihat di dalam rumah, sebuah jenazah yang tertutup kain coklat, terbujur kaku menghadap kiblat. Di sampingnya ada Fajar yang membaca yasin, dan Adie yang terisak dengan buku yasin di tangannya. Yaa Rabb, sungguh kuatkan hamba. Kupeluk abah, tanpa sadar airmata terus saja mengalir, aku bahkan lupa, sama sekali lupa, bahwa tak baik menangisi mereka yang telah meninggal. Aku bisikkan kalimat mohon ampun, Rina minta ampun Bah, Rina minta ampun, minta ampun, minta ampun. Lagi2, tamu2 yang melayat, entah siapa saja, memelukku dan membisikkan, "Rin, jangan menangis di depan abah. Kada boleh lah. Sabar Rin." Aku mundur, kusapu airmata, kemudian teringat mamah. "Mamah mana? Mamah mana?" Aku langsung berdiri, dan masuk ke ruang tengah, mencari mamah. Ah, mamah di kamar sedang mencari keperluan untuk memandikan abah. Coba lihat, wajahnya lelah, lelah sekali, namun sangat tegar, dan satu hal yang aku tangkap, "ikhlas". Wajah dan senyum yang sangat ikhlas. Tangisku pecah lagi, kudekap mamah erat, kuat, dan pelukan mamah hangat sekali. "Mamah, kenapa abah pulang duluan? Rina masih belum jadi apa2 mah, Rina belum membanggakan abah, kenapa abah pulang duluan?" Sebuah pertanyaan yang benar2 retoris, dan aku pun sebenarnya tahu jawabannya. Mamah mengeratkan dekapannya, tersenyum dan berbisik, "Nak, coba dengarkan mamah. Abah, mamah, Rina, Fajar, Adie, kita semua, sejatinya milik Allah. Diri kita ini haknya Allah. Pemilik sejati kita itu Allah. Jadi kapanpun Allah mau mengambil kita kembali, maka kembalilah kita. Bukan cuma abah Nak. Kita semua juga menunggu dipanggil, menunggu saatnya. Jadi, harus ikhlas ya Nak. InsyaAllah mamah kuat. Anak2 mamah semuanya kuat. Kita kuat, karena Allah yang Maha Kuat pasti selalu menguatkan. Ikhlas ya Nak."

Ah, memori itu terlalu nyata dan jelas, terekam dalam setiap detik. Hingga detik berlalu, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun. Walaupun terkadang pertanyaan "kenapa harus kami?" muncul dengan sendirinya, terutama di saat2 berat.

"Kenapa harus kami?"
Sebuah pertanyaan kurang ajar, penuh kekufuran nikmat, dan entahlah kenapa kadang2 terselip, terutama di saat cobaan datang silih berganti.

"Kenapa harus kami?'
Pertanyaan yang terpatahkan begitu saja, saat kau renungi jauh lebih dalam, melihat ke bawah, dan ternyata, masih banyak cobaan yang jauh lebih berat yang dialami mereka di luar sana.

Wahai Rabb yang Maha Kuat, kuatkanlah hamba2-Mu yang sangat lemah dan hina ini.

-Nisrina Naflah-

29 Februari 2016

Pertanyaan Sekaligus Pernyataan

"Memangnya ada yang ditunggu? Berharap yang lain? Kalau gak ada, ya sudah Nak, yakin aja."

Pertanyaan mamah yang sekaligus menjadi pernyataan.
Membuat terdiam, kemudian mengangguk.
Untung saja, aku punya mamah.
Mengerti, memahami, dan meyakinkan.
Dan selalu mempercayakan segala pilihan.

"Karena mamah yakin, Rina sudah dewasa, sudah bisa menentukan mana yang baik untuk Rina."

Perbincangan seperti ini sudah pernah terjadi beberapa kali sebelumnya.
Dengan situasi hati yang berbeda, dengan keyakinan yang tak sama.
Dan sekarang, semua mengalir begitu saja.
Teryakinkan.

"Mamah selalu bahagia dengan segala hal yang bisa membuat Rina bahagia. Rina bahagia, mamah jauh lebih bahagia."

Semoga, harapan ini menjadi doa yang terijabah oleh-Nya.

-Nisrina Naflah-

15 Januari 2016

Mamah, Mamah, Mamah

Sekarang masih : mamah, mamah, mamah, ayah, kerabat terdekat.

Nanti akan: suami, suami, suami, suami, dan suami.

Semoga dikasih suami yang sholeh, dan bisa senantiasa belajar untuk jadi istri yang sholehah serta taat pada suami.

Aamiin yaa Rabb.

16 November 2015

Jodoh Jodoh Jodoh

Alhamdulillaah, ucap syukur atas nikmat Allah yang gak pernah ada habisnya.

Well, postingan kali ini bukan masalah galau jodoh, bukan! Gak ada kata galau kalo kita yakin sama janji Allah, hho. Postingan kali ini tentang pertanyaan jodoh..

Yap, entah kenapa dalam 1 minggu belakangan kata jodoh selalu mencuat ke arahku. Entah dari mamah, keluarga, temen2, bahkan orang2 yang baru kukenal. Baik dalam bentuk pertanyaan dan pernyataan diiringi dengan bingkisan doa, ceileh.

Kalo mamah, sebenarnya udah sering sih. Doa beliau gak pernah habis2nya buat ketiga anaknya, termasuk masalah jodoh. Yang bikin heran, belakangan ini mamah sering banget bilang, "Semoga Rina ntar dapat jodoh dokter juga yah." Glekkk. Padahal aku gak keukeh banget pengen jodoh dari profesi yang sama. Siapa aja dia, asalkan baik agamanya, baik asal usulnya, dan mapan (maksudnya punya penghasilan menetap), why not? Walaupun sebenernya maksud mamah gak saklek gitu, tapi tetep aja kalimat itu bikin aku diam tanpa kata sejenak kemudian bilang, "Ya gak tau lah Mah, Allah ngasihnya apa ntar, pasti yang terbaik, ya kaaaan." Mamah senyum ngangguk sambil ngelus pundak aku. Aih, sayang banget deh sama mamah..

Kalo keluarga, hhaha beraneka ragam. Kemaren baru aja ikut mamah kerja ke Barabai, otomatis nginap di rumah kakek+tante. Kalo ini lain lagi doanya, "Semoga Rina dapat jodoh pejabat." Hhahahaha. Kalo ini aku langsung nyahut "Ayja, diaamiinkan aja. Dapat yang terbaik pokoknya." Ini gak sekali dua kali si tante nyeletuk kayak gitu, sampai2 aku ketawa lucu, kenapa harus pejabat??? Hhaha.

Kalo temen2, yaelah jangan ditanya. Masalah jodoh selalu jadi guyon yang berujung dengan sepikan yang entah kenapa kadang bikin nohok juga. Selalu. Parahnya lagi kadang2 muncul statement yang entah dapat darimana. Saking abstraknya jodoh aku sampai sekarang, jadi mereka suka jadiin bahan guyonan. Anggap aja aku jadi orang teraniaya, dan langsung berdoa, hha.

Nah, kalo orang2 ini yang kadang bikin gimana gitu. Dalam 1 pekan ini sudah ada 2 "orang yang baru kukenal" yang udah main jodoh2in aku sama keluarga mereka. Baru juga ketemu sekali, ada yang langsung moto2 aku pake hape, terus nunjukin rumah yang mau dijodoh2in sama aku, ada juga yang nawarin mau jodohin sama adenya lah, syerem kadang agresif banget yak. Dan semua "orang yang baru kukenal" itu IBU-IBU. Well, maklum aja lah, mungkin mereka miris ngeliat aku yang umurnya udah segini masih single belum ketemu jodoh. Hhaha. Makasih ibu2 sekalian, udah berusaha untuk membantu, tapi ya gimana, jodoh udah diatur sama Yang Di Atas, ya kan. Hhaha.

Galau jodoh sih gak, sekarang mah fokus ngebenerin diri dulu. Semoga semakin didekatkan.

Aamiin yaa Rabb.

-Nisrina Naflah-

6 November 2015

Mengalahkan Superhero

Alhamdulillaah alhamdulillaah alhamdulillaah atas segala nikmat dalam hidup ini, how lucky I am!

Semua pasti tau lah sama superhero yang kerennya minta ampun. Sosok2 yang diciptakan dan diilustrasikan oleh manusia, membuat para penonton berdecak kagum dan berkhayal para superhero itu beneran ada.

Well, tadi habis liqo, ngebahas tentang seminar parenting minggu lalu yang kebetulan aku gak ikutan (alasannya sih gara2 lagi di Bjb males ke Bjm dan besoknya mau ujian, alah alasan, hhaha). Jadi murobbiyahku, kak Muna, nyeritain ulang tentang isi seminarnya. Intinya tentang cara mendidik anak dengan Al-Qur'an dan shirah. Yap, shirah nabawiyyah alias cerita perjalanan hidup Rasulullaah SAW. Sebenernya ini topik yang sangaaaaat menarik, terlebih kalo ingat umur yang udah kepala dua, artinya amanah sebagai madrasah buat anak2 sebentar lagi akan dipikul (aamiin yaa Rabb). So, penting banget buat belajar gimana caranya mendidik anak yang super.

Jadi ceritanya panjang sih, banyak hal2 yang bisa kita lakukan untuk menerapkan parenting yang berdasarkan Al-Qur'an dan Shirah, intinya harus dimulai dari kita sendiri dulu. Kalau gini, aku sendiri jadi malu. Ngebet banget pengen punya anak sholeh/sholehah ntar, tapi diri sendiri masih jauuuuuh banget dari harapan. Semoga diteguhkan hati.

Yang jadi hal menarik dari liqa hari ini adalah gimana caranya kita bisa bikin tokoh2 di shirah nabawiyyah itu jadi idola dan panutan anak2. Jleb, aku langsung mikir kenapa selama ini yang dielu2kan itu para avengers, batman, spiderman, ironman, dkk yang notabenenya itu cuman tokoh fiktif belaka. Helloooow, kita punya jagoan yang nyata euy, Rasulullaah saw dan para sahabatnya yang punya karakter masing2 yang LUAR BIASA. MasyaAllah, kalo dibayangin jadi ngefans pake banget, kyaaaaaa.

Semoga dalam waktu yang dekat, para tokoh2 di shirah nabawiyyah bisa jadi panutan seluruh anak2 di muka bumi, dielu2kan, dan dikagumi. Sampai para superhero itu gak bisa nandingin lagi. Saat dimana decak kagum selalu terarah pada Rasulullaah saw berserta sahabatnya. Saat dimana akhlak anak2 kita dihiasi oleh akhlak Rasulullaah saw yang luar biasa indahnya. Ah, so sweetnya.

Semoga bisa jadi madrasah luar biasa untuk anak2 kelak, aamiin yaa Rabb.

-Nisrina Naflah-

21 Oktober 2015

Ibu

Bagi semua orang yang memandang wanita sebelah mata, ah ke got aja sana.
Sebel aku lihatnya, sudah dipastikan bagaimana dia memandang ibunya.
"Cuman ngurus anak aja kan kerjaannya."

Aduh nduk nduk, tugas seorang ibu itu kompleks sekali menurutku. Itu bagi mereka yang punya (walaupun sedikit) orientasi akhirat, tugas seorang itu tidak hanya ngelonin anak. Ibu itu MADRASAH buat anak2nya. Bayangin aja, seorang ibu punya tugas sebagai istri yang baik buat suaminya, dan juga madrasah yang baik untuk anak2nya. Investasi dunia akhirat cuy. Apalagi kalo ibu itu juga kerja, nambah lagi tugasnya. Capek kan ya, pasti lah.

Oleh karena itu, bagi mereka yang bilang "Ah, apanya yang berat? Cuman ngurus anak aja kan kerjaannya," semoga cepet sadar kalo sudut pandang mereka salah. Dan semoga lebih bisa menghargai wanita. Aku udah sebel aja bawaannya lihat ni orang. Parah.

Dan mamah adalah alasan utama kenapa aku sangat menjunjung tinggi status sebagai IBU. Semoga jannah-Nya menjadi hadiah untuknya kelak. Terimakasih mah atas segala inspirasinya. :)

-Nisrina Naflah-

24 September 2015

Idul Adha 1436H

اللَّهُ أَكْبَرُ،اللَّهُ أَكْبَرُ,اللَّهُ أَكْبَرُ ۞ لاَ إِلَهَ إَلاَّ اللهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، ۞ اللَّهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ. ۞ اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، ۞ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، ۞ وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً

Selamat Hari Raya Idhul Adha 10 Dzulhijjah 1436H~

Sebagai pembuka, aku mau cerita dikit tentang Idul Adha kali ini. Kemaren (H-1 lebaran haji) aku lagi buka2 facebook dan di timeline ada temen, anak Palembang, bikin status tentang ucapan Idul Adha. Dia bilang dia heran kenapa ucapan idul adha gitu2 doang, copas ucapan idul fitri, mohon maaf lahir batin dan seterusnya. Padahal berkali2 udah dengerin ceramah tentang esensi hari raya kurban, makna di balik cerita Nabi Ibrahim as dan anaknya Nabi Ismail as. Kenapa sih harus mohon maaf lahir batin mulu? Gitu kata dia.

Serius, status dia bener2 bikin aku mikir, "ada benernya juga ni anak." Kenapa semua ucapan hanya sekadar ucapan tanpa memahami esensi dari hari raya yang dirayakan. Asal ngucapin aja, hhe. Tapi sebenernya gak ada salahnya juga sih bilang mohon maaf lahir batin, wong kita manusia tempat bermilyaran salah dan khilaf. Baguslah kalo sering2 minta maaf, hhehe.

Okey, status dia jujur aja bikin aku sadar, bikin aku recall kembali memori tentang kisah Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as. Dan tiba2 aja hati aku berasa kesetrum gitu. MasyaAllah, makna idul adha ini bener2 dalem banget. Gak sekadar momen untuk berkurban sapi/kambing, gak sekadar rezeki dapat bagian daging kurban trus disate atau dirawon, tapi lebih dari itu semua. Hakikat keimanan, ketaatan, cinta, dan pengorbanan yang semata2 untuk Allah. Dan itu semua LOVELY BANGET! Nyentuh sampai hati yang terdalam!

Lagi2 masih di dunia media sosial, aku ngepost ucapan idul adha pake picture cerita tentang Nabi Ibrahim as dan anaknya di path. Kelar update status, biasa lah scroll down baca status2 orang, dan lagi2 berasa kena setrum pas baca postingan salah satu temen aku. Isinya kurang lebih menyampaikan kalo setiap diri kita bisa diibaratkan Nabi Ibrahim as, yang memiliki Nabi Ismail as yang diumpamakan harta, kedudukan, dan kesenangan yang kita miliki. Hey, hakikatnya semua yang kita miliki di dunia ini MILIK ALLAH SWT. Langsung dah, lagu Maha Melihatnya Opick terngiang2 di benak, "Yang dicinta kan pergi, yang didamba kan hilang, hidup kan terus berjalan, meski penuh dengan tangisan." Brrrrrrr. Apalah daya kita sebagai hamba-Nya, ketika Dia ingin mengambil apa yang dimiliki-Nya. Yaa Rabbi, Yaa Rabbi, Yaa Rabbi, I'm yours.

Yihaaa, lanjut cerita idul adha kali ini, aku bersyukur banget bisa lebaran di rumah. Idul Fitri sebelumnya aku gak bisa ngerayain bareng keluarga karena jadwal jaga IGD full 24 jam bertepatan hari raya Idul Fitri, dan itu sedih banget. Hhahha.

Di malam hari raya, persis jam 10 malam teng, gak tau kenapa tiba2 on fire pengen bikin brownies kukus bareng mamah. Sebenarnya mamah udah bikin dua loyang gede kue tradisional paginya sebelum aku datang ke Bjb, tapi kok ya aku pengen juga bikin kue. Alhasil, dibikin lah brownies kukus dari resep mamah. Lumayan lah rasanya, walaupun ada beberapa komponen yg gak ada, kayak keju, trus chocochip, sama strawberry/cherry. Jadilah 2 loyang persegi kue brownies kukus yang flat bgt tanpa dekorasi/pemanis tampilan. Ah, yang penting jadi. Coklat batangan sisa sebagian dilelehin lagi sebagian diparut buat topping gitu. Trus biar ada warna merah2 gitu, pake semangka dipotong kecil biar kayak strawberry gitu lah, ceritanyaaaaa. Hhaha. Entah kenapa tampilannya malah jadi kayak blackforest -_- hhaha.

Daaaan di hari H, kami ke Bjm, nyekar ke makam Abah :)
Sambil silaturahim ke keluarga di Bjm.
Menyenangkan.

Idul Adha kali ini memang ada yang kurang, hari raya kurban ke3 tanpa abah, dan Fajar gak pulang karena masih kuliah di Malang. Tapi biar gimanapun, semoga esensinya nyampe.

Semoga selalu disadarkan bahwa segala yang ada di dunia ini adalah milik-Nya. Hingga bisa menumbuhkan cinta, keikhlasan, keimanan, dan ketaatan yang semakin bertambah pada-Nya.

Alhamdulillaah untuk semuanya. :)

-Nisrina Naflah-

10 Mei 2015

Sudut Pandang Mana?

"Wah, sepertinya ibu yang paling berperan dalam memotivasi anak2 ibu, hingga mereka bisa berprestasi dan sukses seperti sekarang."

Atau

"Wah, anaknya ganteng, lebih cocok kalo yang jadi ibunya si ibu yang cantik itu loh. Bapak kan ganteng, harusnya punya istri yang cantik juga."

Ungkapan mana yang akan kamu percaya?
Sudut pandang mana yang akan kamu pilih?
Kekuatan dan semangat seorang ibu untuk membesarkan anak2nya menjadi manusia yang sukses dunia akhirat ataukah kecantikan seorang ibu yang dapat meninggikan gengsi sebagai seorang suami?

Ungkapan mana yang lebih menggetarkan hati?
Sudut pandang mana yang lebih membukakan mata hati?

Detik demi detik terus bergulir, dan semakin banyak fakta yang membuatku semakin mengagumimu, wahai ibu.

:)

29 Maret 2015

Semangat Minggu

Alhamdulillaah, hari ini berasa lebih produktif dari hari Minggu sebelumnya.
Dari bangun pagi sama ayam kukuruyuk, sampai detik ini.
Jogging sambil ngomongin urusan akhirat bareng sahabat jagoanku.
Motongin kerupuk ikan tenggiri homemade bikinan mamah kemaren, berhubung aku baru pulang ke Bjb kemaren sore, jadi kemaren kebagian tugas jaga tungku api, sama motongin adonan kerupuknya tadi. Banyak banget mamah bikin kerupuknya. Jari tangan sampai kaku2 gitu.
Cuci baju yang udah numpuk 1 minggu bawaan dari kos. Maklum anak kos hemat, gak bisa cuci baju di kos juga karena gak ada jemurannya, jadinya ya nyuci tiap weekend hha.
Trus ngurusin pesanan oriflame, ceritanya bisniswati gitu.
Lanjut masak2 di dapur, lumayan lah ni masakan pake bumbu ribet gitu, masakan emak2, mumpung bisa pulang ke Bjb ketemu mamah, bantu2 sekalian belajar.
Dan sekarang mau makaaaaaan dulu.
Habis ini tugas bikinin slide menanti.
Dan tugas2 IKM lainnya (rencananya sih mau nyusun2 persiapan status ujian gitu, RENCANANYAAAA)
Yaaaaaa harus produktif dong, Allah aja bilang "Jika kau selesai satu urusan, maka kerjakanlah urusan yang lain."

Nyoook semangat nyoook, ke depannya bakalan lebih banyak lagi urusan yang harus dikerjakan, lebih banyak lagi peran yang harus dimainkan, lebih banyak lagi amanah yang harus dilaksanakan.

Satu tujuan kita, ridho Allah :)

-Nisrina Naflah-

19 Februari 2014

Beruntung

Mamah harus tetap kuat, seperti yang kulihat selama 22 tahun ini.
Tegar, sabar, penuh senyuman keikhlasan.
Sungguh, cobaan yang datang bertubi2 akan menghapuskan segala dosamu di dunia Mah. Allah sayang mamah, dan kami selalu berdoa agar Allah senantiasa menyayangi mamah.
Moga mamah disayang Allah.

:')

Lagi dan lagi, lagi-lagi mamah dapat cobaan, dan lagi-lagi mamah menunjukkan rasa syukurnya atas setiap cobaan yang diterimanya, tak pernah menggerutu, tak pernah protes dengan ketetapan-Nya. Selalu sabar, ikhlas, dan bersyukur. Aku ingin menjadi sepertinya, bahkan lebih. Terima kasih mamah atas teladannya. Semoga anakmu yang penuh dosa ini bisa menjadi wanita luar biasa sepertimu. Sungguh benar kata abah, "kita beruntung dikasih Allah mamah dalam hidup ini."

:')

-Nisrina Naflah-

9 Januari 2014

Aku Juga Ingin

Salam.. sabar, syukur, ikhlas selalu... belajar belajar belajar...

Hey, postingan kali ini singkat saja..

Tentang sebuah keinginan, salah satu keinginan dari ratusan keinginan yang ada. Kelak, aku ingin menjadi ibunda yang luar biasa seperti mamah yang selalu masak buat suami dan anak2nya, sesibuk apapun beliau. Salah satu hal yang kukagumi dari sekian ribu hal yg kukagumi. Hal sederhana yang sangat berarti, yang membuat abah bilang, "Rin, kita beruntung punya mamah kayak mamah. Abah merasa beruntung dan bersyukur banar sama Allah," beberapa minggu sebelum kepergian beliau.

Yeah, aku juga ingin seperti itu kelak. Menjadi ibunda yang luar biasa.

:)

-Nisrina Naflah-