Nyampah lagi, entah kapan blog ini berubah jadi blog yang agak sedikit lebih bermanfaat, hhaha...
Beres2 lemari, nemu print2an foto zaman purba. Duh, 2 jagoan sekarang udah gede2, dulu masih unyu2, time flies~
*savethismemory*
Nyampah lagi, entah kapan blog ini berubah jadi blog yang agak sedikit lebih bermanfaat, hhaha...
Beres2 lemari, nemu print2an foto zaman purba. Duh, 2 jagoan sekarang udah gede2, dulu masih unyu2, time flies~
*savethismemory*
Kenapa harus kami?
Sebuah pertanyaan yang seringkali muncul begitu saja, setelah abah dipanggil-Nya mendahului kami.
Aku, yg udah bertahun2 ikut liqo sekalipun, masih saja melewati tahap denial seolah tidak menerima kenyataan.
Aku sangat paham dan mengerti bahwa segalanya yang ada di dunia ini sejatinya milik Allah, dan kapanpun Allah ingin mengambilnya kembali, kita bisa apa? Bahkan kita sendiri pun adalah milik-Nya. Kapan saja kematian dapat menghampiri. Mau tidak mau. Suka tidak suka. Karena sejatinya kita semua milik Allah,
Masih terekam jelas di memori, saat mendengar kabar "Abah sudah kdd, Nak." Waktu itu aku masih berada di Liang Anggang, dalam mobil Muza yang mengantarku ke Banjarbaru setelah aku mendadak dapat telepon usai tutorial-skill lab, bahwa abah masuk IGD dan aku harus segera pulang ke Banjarbaru.
Aku yang sudah kalut sejak mendapat telepon, terus saja berdzikir, memintakan ampun atas abah, entah doa2 apa saja yang kulantunkan pelan namun dalam dan penuh cemas. Otakku juga selalu mengingatkan bahwa kematian adalah hal yang pasti dan kita nggak tahu kapan itu terjadi. Aku mencoba membuang pikiran itu jauh2, tapi tetap saja aku diingatkan oleh hatiku sendiri bahwa kematian itu adalah sesuatu yang pasti.
Hingga sampai pada kalimat yang dilontarkan acil di balik telepon itu, ketika sebelumnya aku marah berontak dan memohon dengan keras, "ABAH KAYAPA CIL? MAMAH MANA? KENAPA MAMAH KADA NELPON RINA? ABAH DIMANA? KISAHI PANG RINA. KENAPA BEDIAM AJA? ABAH KENAPA? KENAPA RINA HARUS LANGSUNG KE RUMAH? RINA HANDAK MELIHAT ABAH, RINA HANDAK KE IGD DULU! ABAH KADA PAPA LO CIL?" Aku terisak, sesak. Muza & Lili terdiam, wajahnya pucat pasi, bingung mau menenangkan, kelu.
Dan akhirnya, aku menerima jawaban yang memastikan bahwa kematian adalah hal yang pasti dan kita nggak tahu kapan itu terjadi. Kita semua milik-Nya. "Abah sudah kdd, Nak." Aku lunglai, tangisku luruh, beberapa detik awal aku mencoba menghibur diri, mungkin dokter salah menilai, mungkin abah bangun lagi. Hanya beberapa detik, kemudian aku sadar, aku beristighfar tanpa henti, menyesal tak sempat bersimpuh memohon ampun sama abah di waktu-waktu terakhir, meratapi aku yang belum bisa membanggakan beliau, memohonkan ampun atas segala dosanya. "Yaa Allah, hamba mohon yaa Allah, ampuni abah, ampuni segala dosa abah, ringankan lah yaa Allah." Kuulang berkali2, otakku sambil berpikir, mencoba mencari2 hikmah dari ujian ini. Ya, Allah mengambil abah duluan supaya blabla, oh ya supaya blabla juga, dan blabla. Hingga akhirnya, satu kalimat itu muncul, "Tapi Yaa Allah, kenapa harus kami? Kenapa harus kami? Aku masih kuliah, Fajar masih SMA, Adie masih SMP. Kenapa harus kami?" Sisi hatiku yang lain mencoba melawan, "Rin, semua ada hikmahnya. Sungguh, pasti banyak sekali hikmah2 yang berceceran dari kejadian ini. Ingat Rin, kematian itu adalah hal yang pasti."
Hingga sampai ke persimpangan dekat rumah, tangisku meledak kembali, sebuah tanda pasti, bendera hijau yang terpasang di depan pagar rumahku dan rombongan orang2 yang datang. Ya Rin, abah sudah berpulang pada-Nya. Aku lunglai lagi. Aku turun dari mobil, disambut para tamu yang melayat, mereka merangkulku yg berjalan gemetar. Hingga tanda pasti kedua yang kulihat di dalam rumah, sebuah jenazah yang tertutup kain coklat, terbujur kaku menghadap kiblat. Di sampingnya ada Fajar yang membaca yasin, dan Adie yang terisak dengan buku yasin di tangannya. Yaa Rabb, sungguh kuatkan hamba. Kupeluk abah, tanpa sadar airmata terus saja mengalir, aku bahkan lupa, sama sekali lupa, bahwa tak baik menangisi mereka yang telah meninggal. Aku bisikkan kalimat mohon ampun, Rina minta ampun Bah, Rina minta ampun, minta ampun, minta ampun. Lagi2, tamu2 yang melayat, entah siapa saja, memelukku dan membisikkan, "Rin, jangan menangis di depan abah. Kada boleh lah. Sabar Rin." Aku mundur, kusapu airmata, kemudian teringat mamah. "Mamah mana? Mamah mana?" Aku langsung berdiri, dan masuk ke ruang tengah, mencari mamah. Ah, mamah di kamar sedang mencari keperluan untuk memandikan abah. Coba lihat, wajahnya lelah, lelah sekali, namun sangat tegar, dan satu hal yang aku tangkap, "ikhlas". Wajah dan senyum yang sangat ikhlas. Tangisku pecah lagi, kudekap mamah erat, kuat, dan pelukan mamah hangat sekali. "Mamah, kenapa abah pulang duluan? Rina masih belum jadi apa2 mah, Rina belum membanggakan abah, kenapa abah pulang duluan?" Sebuah pertanyaan yang benar2 retoris, dan aku pun sebenarnya tahu jawabannya. Mamah mengeratkan dekapannya, tersenyum dan berbisik, "Nak, coba dengarkan mamah. Abah, mamah, Rina, Fajar, Adie, kita semua, sejatinya milik Allah. Diri kita ini haknya Allah. Pemilik sejati kita itu Allah. Jadi kapanpun Allah mau mengambil kita kembali, maka kembalilah kita. Bukan cuma abah Nak. Kita semua juga menunggu dipanggil, menunggu saatnya. Jadi, harus ikhlas ya Nak. InsyaAllah mamah kuat. Anak2 mamah semuanya kuat. Kita kuat, karena Allah yang Maha Kuat pasti selalu menguatkan. Ikhlas ya Nak."
Ah, memori itu terlalu nyata dan jelas, terekam dalam setiap detik. Hingga detik berlalu, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun. Walaupun terkadang pertanyaan "kenapa harus kami?" muncul dengan sendirinya, terutama di saat2 berat.
"Kenapa harus kami?"
Sebuah pertanyaan kurang ajar, penuh kekufuran nikmat, dan entahlah kenapa kadang2 terselip, terutama di saat cobaan datang silih berganti.
"Kenapa harus kami?'
Pertanyaan yang terpatahkan begitu saja, saat kau renungi jauh lebih dalam, melihat ke bawah, dan ternyata, masih banyak cobaan yang jauh lebih berat yang dialami mereka di luar sana.
Wahai Rabb yang Maha Kuat, kuatkanlah hamba2-Mu yang sangat lemah dan hina ini.
-Nisrina Naflah-
(copas dari grup line, mungkin ntar kalo udah punya suami bisa nunjukin ini, jadi diposting di blog dulu, yeah!)
Repost
Selamat Menikmati AWAL Pekan ...
VITAMIN A UNTUK ANAK KITA
Narasumber: Elly Risman, Psi.
(Direktur dan Psikolog Yayasan Kita dan Buah Hati)
Tantangan zaman yang luar biasa berat bagi anak-anak kita saat ini membutuhkan Vitamin A (Ayah) yang memiliki peranan sangat penting dalam proses tumbuh kembang anak.
Ayah…
Engkaulah nahkoda, penentu Garis Besar Haluan Keluarga, engkau yang menentukan kemana keluarga kita akan kau bawa.
Engkau bukan hanya pencari rizki yang penuh berkah, yang menyediakan makanan lezat dan pakaian yang hangat, serta rumah dan isinya yang tak mudah berkarat, bagi kami kau adalah pembimbing anak dan istri yang hebat.
Ayah...
Engkau adalah pembuat kebijakan dan peraturan, engkau pula yang menentukan standar keberhasilan.
Ayah..
Engkau senantiasa melakukan pemantauan dan perawatan terhadap kami dan harta benda yang kau titipkan.
Ayah..
Luangkan waktumu lebih banyak lagi ya. Obrolan sederhana yang kau bangun dengan anak kita, membuat ia menjadi anak yang:
- Tumbuh menjadi orang dewasa yang suka menghibur.
- Punya harga diri yang tinggi.
- Prestasi akademis di atas rata-rata, dan
- Lebih pandai bergaul.
Ayah lain yang kurang ngobrol dan bercengkrama dengan anak, ternyata menyebabkan anak perempuannya:
- Cenderung mudah jatuh cinta dan mencari penerimaan dari laki-laki lain.
- 7-8 kali lebih mungkin memiliki anak diluar pernikahan.
- Cenderung suka lelaki yang jauh lebih tua, dan
- Cenderung lebih mudah bercerai.
Ternyata hal ini berlaku pada anak perempuan dari latar belakang sosial ekonomi apapun.
Sedangkan anak laki-laki yang jarang diajak ngobrol oleh ayahnya:
- Lebih beresiko terlibat pornografi, narkoba, dan tindak kriminal.
- Cenderung lebih cepat puber di usia yang lebih muda.
- Cenderung join a gang, dan
- Cenderung menemui kesulitan mendapatkan atau mempertahankan pekerjaan di masa dewasa.
Ciri anak yang kekurangan vitamin A adalah lebih rentan terhadap peer pressure.
Ayah…
Ingat yuk peran kita sebagai orangtua; anak itu AMANAH; kita mendapatkan tugas dari Allah untuk mengasuh dan membesarkan anak dengan baik dan benar. Sebab itu butuh perjuangan (pikir, rasa, jiwa, tenaga, waktu dan biaya).
Ayah…
Yuk pimpin keluarga dengan membuat Visi Pengasuhan bersama Ibu. Visi membuat Ayah dan Ibu lebih mudah mengayuh bahtera keluarga bersama-sama.
Keluarga Nabi Ibrahim (QS Ibrahim: 35-37) mempunyai misi:
- Penyelamatan aqidah.
- Pembiasaan ibadah.
- Pembentukan akhakul karimah dan
- Pengajaran lifeskill (entrepreneur).
Sedangkan Visi Keluarga Imran (QS Ali Imran: 35), yakni menciptakan hamba Allah yang taat.
Ayah…
Mari kita terus perbaiki pola pengasuhan selama ini. Anak kita perlu mendapat validasi dari kita agar ia tidak perlu mencari dari orang lain. Ia membutuhkan 3P:
- Penerimaan.
- Penghargaan, dan
- Pujian.
Ayah..
Mari kita bedakan pola pengasuhan anak laki-laki dan perempuan kita, sebab:
- Otak mereka berbeda.
- Tugas dan tanggung jawab mereka kelak dewasa juga berbeda.
Sehingga, tujuan pengasuhannya pun berbeda. Anak laki-laki kita kelak mengemban tanggungjawab yang lebih besar daripada anak perempuan kita. Selain menjadi hamba yang bertakwa dan berperan di masyarakat, anak laki-laki kita kelak akan menadi pendidik dan pengayom keluarga.
Ayah…
Penting sekali vitamin A bagi anak; bukan hanya meluangkan ‘waktu lebih’, tapi kuantitas dan kualitas berjalan seimbang. Tidak hanya terlibat secara fisik, tapi melakukan authoritative parenting (kasih sayang tinggi – tuntutan tinggi, yakni orangtua memberikan dorongan, dukungan, perhatian dan menawarkan perhatian tanpa kekerasan).
Ayah…
Biasakan tanya perasaan anak kita setiap hari ya, itu berarti kau sedang membangun kekuatan emosi dan kedekatan batin dengan mereka. Ingat PERASAAN ya Yah...!
Biarkan dirimu menjadi tempat curhat anak-anakmu, tempat mereka meluapkan perasaannya. Kalian bisa ngobrol tentang apa saja, tentang hal-hal yang pribadi, tentang hal yang menyenangkan, tentang kesulitan yang dialami, tentang hal yang yang dianggap tabu dan menjadi tantangan anak zaman sekarang.
Ayah…
Berikan pondasi bagi anak-anakmu agar kelak mereka kuat dan mampu berdiri sendiri dengan arif dan disayangi banyak orang.
Ayah..
Peranmu tak tergantikan untuk membantu Ibu membesarkan anak yang sehat dan bahagia, yang nantinya akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat dan kestabilan Negara.
Pesan Rasul tercinta, manusia yang baik adalah mereka yang paling baik kepada KELUARGAnya.
Save our children
Yuuuuk dibagikan kepada para ayah❤
اللَّهُ أَكْبَرُ،اللَّهُ أَكْبَرُ,اللَّهُ أَكْبَرُ ۞ لاَ إِلَهَ إَلاَّ اللهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، ۞ اللَّهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ. ۞ اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، ۞ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، ۞ وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً
Selamat Hari Raya Idhul Adha 10 Dzulhijjah 1436H~
Sebagai pembuka, aku mau cerita dikit tentang Idul Adha kali ini. Kemaren (H-1 lebaran haji) aku lagi buka2 facebook dan di timeline ada temen, anak Palembang, bikin status tentang ucapan Idul Adha. Dia bilang dia heran kenapa ucapan idul adha gitu2 doang, copas ucapan idul fitri, mohon maaf lahir batin dan seterusnya. Padahal berkali2 udah dengerin ceramah tentang esensi hari raya kurban, makna di balik cerita Nabi Ibrahim as dan anaknya Nabi Ismail as. Kenapa sih harus mohon maaf lahir batin mulu? Gitu kata dia.
Serius, status dia bener2 bikin aku mikir, "ada benernya juga ni anak." Kenapa semua ucapan hanya sekadar ucapan tanpa memahami esensi dari hari raya yang dirayakan. Asal ngucapin aja, hhe. Tapi sebenernya gak ada salahnya juga sih bilang mohon maaf lahir batin, wong kita manusia tempat bermilyaran salah dan khilaf. Baguslah kalo sering2 minta maaf, hhehe.
Okey, status dia jujur aja bikin aku sadar, bikin aku recall kembali memori tentang kisah Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as. Dan tiba2 aja hati aku berasa kesetrum gitu. MasyaAllah, makna idul adha ini bener2 dalem banget. Gak sekadar momen untuk berkurban sapi/kambing, gak sekadar rezeki dapat bagian daging kurban trus disate atau dirawon, tapi lebih dari itu semua. Hakikat keimanan, ketaatan, cinta, dan pengorbanan yang semata2 untuk Allah. Dan itu semua LOVELY BANGET! Nyentuh sampai hati yang terdalam!
Lagi2 masih di dunia media sosial, aku ngepost ucapan idul adha pake picture cerita tentang Nabi Ibrahim as dan anaknya di path. Kelar update status, biasa lah scroll down baca status2 orang, dan lagi2 berasa kena setrum pas baca postingan salah satu temen aku. Isinya kurang lebih menyampaikan kalo setiap diri kita bisa diibaratkan Nabi Ibrahim as, yang memiliki Nabi Ismail as yang diumpamakan harta, kedudukan, dan kesenangan yang kita miliki. Hey, hakikatnya semua yang kita miliki di dunia ini MILIK ALLAH SWT. Langsung dah, lagu Maha Melihatnya Opick terngiang2 di benak, "Yang dicinta kan pergi, yang didamba kan hilang, hidup kan terus berjalan, meski penuh dengan tangisan." Brrrrrrr. Apalah daya kita sebagai hamba-Nya, ketika Dia ingin mengambil apa yang dimiliki-Nya. Yaa Rabbi, Yaa Rabbi, Yaa Rabbi, I'm yours.
Yihaaa, lanjut cerita idul adha kali ini, aku bersyukur banget bisa lebaran di rumah. Idul Fitri sebelumnya aku gak bisa ngerayain bareng keluarga karena jadwal jaga IGD full 24 jam bertepatan hari raya Idul Fitri, dan itu sedih banget. Hhahha.
Di malam hari raya, persis jam 10 malam teng, gak tau kenapa tiba2 on fire pengen bikin brownies kukus bareng mamah. Sebenarnya mamah udah bikin dua loyang gede kue tradisional paginya sebelum aku datang ke Bjb, tapi kok ya aku pengen juga bikin kue. Alhasil, dibikin lah brownies kukus dari resep mamah. Lumayan lah rasanya, walaupun ada beberapa komponen yg gak ada, kayak keju, trus chocochip, sama strawberry/cherry. Jadilah 2 loyang persegi kue brownies kukus yang flat bgt tanpa dekorasi/pemanis tampilan. Ah, yang penting jadi. Coklat batangan sisa sebagian dilelehin lagi sebagian diparut buat topping gitu. Trus biar ada warna merah2 gitu, pake semangka dipotong kecil biar kayak strawberry gitu lah, ceritanyaaaaa. Hhaha. Entah kenapa tampilannya malah jadi kayak blackforest -_- hhaha.
Daaaan di hari H, kami ke Bjm, nyekar ke makam Abah :)
Sambil silaturahim ke keluarga di Bjm.
Menyenangkan.
Idul Adha kali ini memang ada yang kurang, hari raya kurban ke3 tanpa abah, dan Fajar gak pulang karena masih kuliah di Malang. Tapi biar gimanapun, semoga esensinya nyampe.
Semoga selalu disadarkan bahwa segala yang ada di dunia ini adalah milik-Nya. Hingga bisa menumbuhkan cinta, keikhlasan, keimanan, dan ketaatan yang semakin bertambah pada-Nya.
Alhamdulillaah untuk semuanya. :)
-Nisrina Naflah-
Malam ini, karena mimpi malam tadi, aku tiba2 teringat lagi, rindu lagi, sendu lagi...
Abah, kenapa terlalu cepat pergi?
Kami sendiri...
Semoga abah selalu bahagia di sana, sampai nanti, di akhirat nanti, hingga ke surga yang abadi, bersama kami lagi...
:')
-NisrinaNaflah-
Hei, tadi malam aku tersentak dengan mimpiku sendiri.
Aku melihat abah, bepakaian bagus, serba putih, dengan peci putih pula, di sebuah mesjid dengan suasana putih pula, di sebuah acara pernikahan.
Ya, aku mimpi aku menikah, walaupun aku sama sekali gak tau siapa lelaki yang ada di balik sosok abah yang kulihat, yang jelas aku merasa bahagiaaaaaaaaa banget, abah ada di pernikahanku.
Aku senang, bahagia, terharu. Mimpi yang selalu kuimpikan dahulu. Hingga akhirnya aku terbangun dan sadar, abah hanya ada dalam mimpiku. Tanpa sadar aku meneteskan airmata yang enah kenapa sangat mudah terjatuh. Mataku panas, sembab, terlalu menyakitkan untuk menyadari bahwa aku baru saja terbangun dari tidur dengan mimpi indahku.
Yaa Rabb, aku merindukan abah, sangat merindukannya. Tempatkanlah abah di tempat yang terbaik, di sisi-Mu.
:')
071114
-NisrinaNaflah-
Aku sedang duduk di beranda suatu tempat yang akan menjadi tempatku 3 minggu ke depan.
Menunggu partner2 dalam kelompok kecilku yang belum satupun menunjukkan batang hidungnya.
Dari kejauhan terdengar suara benda yang digerek, kutoleh, dan ternyata benar.
Bapak pembawa bak sampah yang sering keliling rumah sakit, berjalan bersama anaknya.
Anak yang selama ini kulihat selalu mengiringi ayahnya.
Bernyanyi riang gembira, tanpa beban, dan selalu ringan langkah mengikuti derap kaki ayahnya.
Tidak sekolah? Entahlah.
Yang jelas aku melihat kebahagiaan yang sangat amat sederhana.
Langkah kaki yang ringan, alunan suara yang riang, senyum yang lapang.
Tanpa beban.
Dan satu hal lagi, pemandangan ini membuat aku rindu dia.
Ya, merindukan abah.
Sama seperti dulu, berjalan bersama ayah adalah salah satu kebahagiaan yang sederhana, sangat sederhana, dan melapangkan segalanya.
:)
-Nisrina Naflah-
Mamah harus tetap kuat, seperti yang kulihat selama 22 tahun ini.
Tegar, sabar, penuh senyuman keikhlasan.
Sungguh, cobaan yang datang bertubi2 akan menghapuskan segala dosamu di dunia Mah. Allah sayang mamah, dan kami selalu berdoa agar Allah senantiasa menyayangi mamah.
Moga mamah disayang Allah.
:')
Lagi dan lagi, lagi-lagi mamah dapat cobaan, dan lagi-lagi mamah menunjukkan rasa syukurnya atas setiap cobaan yang diterimanya, tak pernah menggerutu, tak pernah protes dengan ketetapan-Nya. Selalu sabar, ikhlas, dan bersyukur. Aku ingin menjadi sepertinya, bahkan lebih. Terima kasih mamah atas teladannya. Semoga anakmu yang penuh dosa ini bisa menjadi wanita luar biasa sepertimu. Sungguh benar kata abah, "kita beruntung dikasih Allah mamah dalam hidup ini."
:')
-Nisrina Naflah-
Salam.. sabar, syukur, ikhlas selalu... belajar belajar belajar...
Hey, postingan kali ini singkat saja..
Tentang sebuah keinginan, salah satu keinginan dari ratusan keinginan yang ada. Kelak, aku ingin menjadi ibunda yang luar biasa seperti mamah yang selalu masak buat suami dan anak2nya, sesibuk apapun beliau. Salah satu hal yang kukagumi dari sekian ribu hal yg kukagumi. Hal sederhana yang sangat berarti, yang membuat abah bilang, "Rin, kita beruntung punya mamah kayak mamah. Abah merasa beruntung dan bersyukur banar sama Allah," beberapa minggu sebelum kepergian beliau.
Yeah, aku juga ingin seperti itu kelak. Menjadi ibunda yang luar biasa.
:)
-Nisrina Naflah-
![]() | |
| Kartu ucapan alias doa buat mamah tersayang :') |
![]() |
| Kasih kadooo.. Difoto sama Adie :') |
![]() |
| Cium pipi mamah dulu :'D |
![]() |
| Cium pipi Rina jugaaa :'D |
![]() |
| Mamah lagi buka kado... :'D |
![]() |
| Mamah lagi 'lihat' kartu ucapannya, belum pake kacamata, jadi gak bisa baca tulisan doanya, baru bisa komen foto-fotonya, hhaha.. :'D |
![]() |
| Rina ft. Naflah :) |
![]() |
| Menundukkan pandangan, bukankan lebih indah? *filosofi* |
![]() |
| Muka ala macet fly over (-___-!) |
![]() | |
| Gayanya monoton gara-gara Fajar & Adi sok kalem ;p |
![]() |
| Rina-Adi-Fajar (R-A-Fa) |
![]() |
| Mamah-Fajar-Adi :) |
![]() |
| Fajar kayak kakek sipit kribo -____-! |
![]() |
| Sayang mamah!!! Kami sayang mamah!!! |
![]() |
| Lovely Family, miss u Abah sayang! |
![]() |
| Semoga ini bisa membantu kami go to PIMNAS! |