Tampilkan postingan dengan label ABAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ABAH. Tampilkan semua postingan

30 April 2016

Save This Memory

Nyampah lagi, entah kapan blog ini berubah jadi blog yang agak sedikit lebih bermanfaat, hhaha...

Beres2 lemari, nemu print2an foto zaman purba. Duh, 2 jagoan sekarang udah gede2, dulu masih unyu2, time flies~

*savethismemory*

2 Maret 2016

Kenapa Harus Kami?

Kenapa harus kami?

Sebuah pertanyaan yang seringkali muncul begitu saja, setelah abah dipanggil-Nya mendahului kami.
Aku, yg udah bertahun2 ikut liqo sekalipun, masih saja melewati tahap denial seolah tidak menerima kenyataan.
Aku sangat paham dan mengerti bahwa segalanya yang ada di dunia ini sejatinya milik Allah, dan kapanpun Allah ingin mengambilnya kembali, kita bisa apa? Bahkan kita sendiri pun adalah milik-Nya. Kapan saja kematian dapat menghampiri. Mau tidak mau. Suka tidak suka. Karena sejatinya kita semua milik Allah,
Masih terekam jelas di memori, saat mendengar kabar "Abah sudah kdd, Nak." Waktu itu aku masih berada di Liang Anggang, dalam mobil Muza yang mengantarku ke Banjarbaru setelah aku mendadak dapat telepon usai tutorial-skill lab, bahwa abah masuk IGD dan aku harus segera pulang ke Banjarbaru.
Aku yang sudah kalut sejak mendapat telepon, terus saja berdzikir, memintakan ampun atas abah, entah doa2 apa saja yang kulantunkan pelan namun dalam dan penuh cemas. Otakku juga selalu mengingatkan bahwa kematian adalah hal yang pasti dan kita nggak tahu kapan itu terjadi. Aku mencoba membuang pikiran itu jauh2, tapi tetap saja aku diingatkan oleh hatiku sendiri bahwa kematian itu adalah sesuatu yang pasti.
Hingga sampai pada kalimat yang dilontarkan acil di balik telepon itu, ketika sebelumnya aku marah berontak dan memohon dengan keras, "ABAH KAYAPA CIL? MAMAH MANA? KENAPA MAMAH KADA NELPON RINA? ABAH DIMANA? KISAHI PANG RINA. KENAPA BEDIAM AJA? ABAH KENAPA? KENAPA RINA HARUS LANGSUNG KE RUMAH? RINA HANDAK MELIHAT ABAH, RINA HANDAK KE IGD DULU! ABAH KADA PAPA LO CIL?" Aku terisak, sesak. Muza & Lili terdiam, wajahnya pucat pasi, bingung mau menenangkan, kelu.
Dan akhirnya, aku menerima jawaban yang memastikan bahwa kematian adalah hal yang pasti dan kita nggak tahu kapan itu terjadi. Kita semua milik-Nya. "Abah sudah kdd, Nak." Aku lunglai, tangisku luruh, beberapa detik awal aku mencoba menghibur diri, mungkin dokter salah menilai, mungkin abah bangun lagi. Hanya beberapa detik, kemudian aku sadar, aku beristighfar tanpa henti, menyesal tak sempat bersimpuh memohon ampun sama abah di waktu-waktu terakhir, meratapi aku yang belum bisa membanggakan beliau, memohonkan ampun atas segala dosanya. "Yaa Allah, hamba mohon yaa Allah, ampuni abah, ampuni segala dosa abah, ringankan lah yaa Allah." Kuulang berkali2, otakku sambil berpikir, mencoba mencari2 hikmah dari ujian ini. Ya, Allah mengambil abah duluan supaya blabla, oh ya supaya blabla juga, dan blabla. Hingga akhirnya, satu kalimat itu muncul, "Tapi Yaa Allah, kenapa harus kami? Kenapa harus kami? Aku masih kuliah, Fajar masih SMA, Adie masih SMP. Kenapa harus kami?" Sisi hatiku yang lain mencoba melawan, "Rin, semua ada hikmahnya. Sungguh, pasti banyak sekali hikmah2 yang berceceran dari kejadian ini. Ingat Rin, kematian itu adalah hal yang pasti."
Hingga sampai ke persimpangan dekat rumah, tangisku meledak kembali, sebuah tanda pasti, bendera hijau yang terpasang di depan pagar rumahku dan rombongan orang2 yang datang. Ya Rin, abah sudah berpulang pada-Nya. Aku lunglai lagi. Aku turun dari mobil, disambut para tamu yang melayat, mereka merangkulku yg berjalan gemetar. Hingga tanda pasti kedua yang kulihat di dalam rumah, sebuah jenazah yang tertutup kain coklat, terbujur kaku menghadap kiblat. Di sampingnya ada Fajar yang membaca yasin, dan Adie yang terisak dengan buku yasin di tangannya. Yaa Rabb, sungguh kuatkan hamba. Kupeluk abah, tanpa sadar airmata terus saja mengalir, aku bahkan lupa, sama sekali lupa, bahwa tak baik menangisi mereka yang telah meninggal. Aku bisikkan kalimat mohon ampun, Rina minta ampun Bah, Rina minta ampun, minta ampun, minta ampun. Lagi2, tamu2 yang melayat, entah siapa saja, memelukku dan membisikkan, "Rin, jangan menangis di depan abah. Kada boleh lah. Sabar Rin." Aku mundur, kusapu airmata, kemudian teringat mamah. "Mamah mana? Mamah mana?" Aku langsung berdiri, dan masuk ke ruang tengah, mencari mamah. Ah, mamah di kamar sedang mencari keperluan untuk memandikan abah. Coba lihat, wajahnya lelah, lelah sekali, namun sangat tegar, dan satu hal yang aku tangkap, "ikhlas". Wajah dan senyum yang sangat ikhlas. Tangisku pecah lagi, kudekap mamah erat, kuat, dan pelukan mamah hangat sekali. "Mamah, kenapa abah pulang duluan? Rina masih belum jadi apa2 mah, Rina belum membanggakan abah, kenapa abah pulang duluan?" Sebuah pertanyaan yang benar2 retoris, dan aku pun sebenarnya tahu jawabannya. Mamah mengeratkan dekapannya, tersenyum dan berbisik, "Nak, coba dengarkan mamah. Abah, mamah, Rina, Fajar, Adie, kita semua, sejatinya milik Allah. Diri kita ini haknya Allah. Pemilik sejati kita itu Allah. Jadi kapanpun Allah mau mengambil kita kembali, maka kembalilah kita. Bukan cuma abah Nak. Kita semua juga menunggu dipanggil, menunggu saatnya. Jadi, harus ikhlas ya Nak. InsyaAllah mamah kuat. Anak2 mamah semuanya kuat. Kita kuat, karena Allah yang Maha Kuat pasti selalu menguatkan. Ikhlas ya Nak."

Ah, memori itu terlalu nyata dan jelas, terekam dalam setiap detik. Hingga detik berlalu, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun. Walaupun terkadang pertanyaan "kenapa harus kami?" muncul dengan sendirinya, terutama di saat2 berat.

"Kenapa harus kami?"
Sebuah pertanyaan kurang ajar, penuh kekufuran nikmat, dan entahlah kenapa kadang2 terselip, terutama di saat cobaan datang silih berganti.

"Kenapa harus kami?'
Pertanyaan yang terpatahkan begitu saja, saat kau renungi jauh lebih dalam, melihat ke bawah, dan ternyata, masih banyak cobaan yang jauh lebih berat yang dialami mereka di luar sana.

Wahai Rabb yang Maha Kuat, kuatkanlah hamba2-Mu yang sangat lemah dan hina ini.

-Nisrina Naflah-

23 Februari 2016

Vitamin A

(copas dari grup line, mungkin ntar kalo udah punya suami bisa nunjukin ini, jadi diposting di blog dulu, yeah!)

Repost
Selamat Menikmati AWAL Pekan ...

VITAMIN A UNTUK ANAK KITA

Narasumber: Elly Risman, Psi.
(Direktur dan Psikolog Yayasan Kita dan Buah Hati)

Tantangan zaman yang luar biasa berat bagi anak-anak kita saat ini membutuhkan Vitamin A (Ayah) yang memiliki peranan sangat penting dalam proses tumbuh kembang anak.

Ayah…
Engkaulah nahkoda, penentu Garis Besar Haluan Keluarga, engkau yang menentukan kemana keluarga kita akan kau bawa.

Engkau bukan hanya pencari rizki yang penuh berkah, yang menyediakan makanan lezat dan pakaian yang hangat, serta rumah dan isinya yang tak mudah berkarat, bagi kami kau adalah pembimbing anak dan istri yang hebat.

Ayah...
Engkau adalah pembuat kebijakan dan peraturan, engkau pula yang menentukan standar keberhasilan.

Ayah..
Engkau senantiasa melakukan pemantauan dan perawatan terhadap kami dan harta benda yang kau titipkan.

Ayah..
Luangkan waktumu lebih banyak lagi ya. Obrolan sederhana yang kau bangun dengan anak kita, membuat ia menjadi anak yang:
- Tumbuh menjadi orang dewasa yang suka menghibur.
- Punya harga diri yang tinggi.
- Prestasi akademis di atas rata-rata, dan
- Lebih pandai bergaul.

Ayah lain yang kurang ngobrol dan bercengkrama dengan anak, ternyata menyebabkan anak perempuannya:
- Cenderung mudah jatuh cinta dan mencari penerimaan dari laki-laki lain.
- 7-8 kali lebih mungkin memiliki anak diluar pernikahan.
- Cenderung suka lelaki yang jauh lebih tua, dan
- Cenderung lebih mudah bercerai.

Ternyata hal ini berlaku pada anak perempuan dari latar belakang sosial ekonomi apapun.

Sedangkan anak laki-laki yang jarang diajak ngobrol oleh ayahnya:
- Lebih beresiko terlibat pornografi, narkoba, dan tindak kriminal.
- Cenderung lebih cepat puber di usia yang lebih muda.
- Cenderung join a gang, dan
- Cenderung menemui kesulitan mendapatkan atau mempertahankan pekerjaan di masa dewasa.

Ciri anak yang kekurangan vitamin A adalah lebih rentan terhadap peer pressure.

Ayah…
Ingat yuk peran kita sebagai orangtua; anak itu AMANAH; kita mendapatkan tugas dari Allah untuk mengasuh dan membesarkan anak dengan baik dan benar. Sebab itu butuh perjuangan (pikir, rasa, jiwa, tenaga, waktu dan biaya).

Ayah…
Yuk pimpin keluarga dengan membuat Visi Pengasuhan bersama Ibu. Visi membuat Ayah dan Ibu lebih mudah mengayuh bahtera keluarga bersama-sama.

Keluarga Nabi Ibrahim (QS Ibrahim: 35-37) mempunyai misi:
- Penyelamatan aqidah.
- Pembiasaan ibadah.
- Pembentukan akhakul karimah dan
- Pengajaran lifeskill (entrepreneur).

Sedangkan Visi Keluarga Imran (QS Ali Imran: 35), yakni menciptakan hamba Allah yang taat.

Ayah…
Mari kita terus perbaiki pola pengasuhan selama ini. Anak kita perlu mendapat validasi dari kita agar ia tidak perlu mencari dari orang lain. Ia membutuhkan 3P:
- Penerimaan.
- Penghargaan, dan
- Pujian.

Ayah..
Mari kita bedakan pola pengasuhan anak laki-laki dan perempuan kita, sebab:
- Otak mereka berbeda.
- Tugas dan tanggung jawab mereka kelak dewasa juga berbeda.
Sehingga, tujuan pengasuhannya pun berbeda. Anak laki-laki kita kelak mengemban tanggungjawab yang lebih besar daripada anak perempuan kita. Selain menjadi hamba yang bertakwa dan berperan di masyarakat, anak laki-laki kita kelak akan menadi pendidik dan pengayom keluarga.

Ayah…
Penting sekali vitamin A bagi anak; bukan hanya meluangkan ‘waktu lebih’, tapi kuantitas dan kualitas berjalan seimbang. Tidak hanya terlibat secara fisik, tapi melakukan authoritative parenting (kasih sayang tinggi – tuntutan tinggi, yakni orangtua memberikan dorongan, dukungan, perhatian dan menawarkan perhatian tanpa kekerasan).

Ayah…
Biasakan tanya perasaan anak kita setiap hari ya, itu berarti kau sedang membangun kekuatan emosi dan kedekatan batin dengan mereka. Ingat PERASAAN ya Yah...!

Biarkan dirimu menjadi tempat curhat anak-anakmu, tempat mereka meluapkan perasaannya. Kalian bisa ngobrol tentang apa saja, tentang hal-hal yang pribadi, tentang hal yang menyenangkan, tentang kesulitan yang dialami, tentang hal yang yang dianggap tabu dan menjadi tantangan anak zaman sekarang.

Ayah…
Berikan pondasi bagi anak-anakmu agar kelak mereka kuat dan mampu berdiri sendiri dengan arif dan disayangi banyak orang.

Ayah..
Peranmu tak tergantikan untuk membantu Ibu membesarkan anak yang sehat dan bahagia, yang nantinya akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat dan kestabilan Negara.

Pesan Rasul tercinta, manusia yang baik adalah mereka yang paling baik kepada KELUARGAnya.

Save our children
Yuuuuk dibagikan kepada para ayah❤

24 September 2015

Idul Adha 1436H

اللَّهُ أَكْبَرُ،اللَّهُ أَكْبَرُ,اللَّهُ أَكْبَرُ ۞ لاَ إِلَهَ إَلاَّ اللهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، ۞ اللَّهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ. ۞ اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، ۞ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، ۞ وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً

Selamat Hari Raya Idhul Adha 10 Dzulhijjah 1436H~

Sebagai pembuka, aku mau cerita dikit tentang Idul Adha kali ini. Kemaren (H-1 lebaran haji) aku lagi buka2 facebook dan di timeline ada temen, anak Palembang, bikin status tentang ucapan Idul Adha. Dia bilang dia heran kenapa ucapan idul adha gitu2 doang, copas ucapan idul fitri, mohon maaf lahir batin dan seterusnya. Padahal berkali2 udah dengerin ceramah tentang esensi hari raya kurban, makna di balik cerita Nabi Ibrahim as dan anaknya Nabi Ismail as. Kenapa sih harus mohon maaf lahir batin mulu? Gitu kata dia.

Serius, status dia bener2 bikin aku mikir, "ada benernya juga ni anak." Kenapa semua ucapan hanya sekadar ucapan tanpa memahami esensi dari hari raya yang dirayakan. Asal ngucapin aja, hhe. Tapi sebenernya gak ada salahnya juga sih bilang mohon maaf lahir batin, wong kita manusia tempat bermilyaran salah dan khilaf. Baguslah kalo sering2 minta maaf, hhehe.

Okey, status dia jujur aja bikin aku sadar, bikin aku recall kembali memori tentang kisah Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as. Dan tiba2 aja hati aku berasa kesetrum gitu. MasyaAllah, makna idul adha ini bener2 dalem banget. Gak sekadar momen untuk berkurban sapi/kambing, gak sekadar rezeki dapat bagian daging kurban trus disate atau dirawon, tapi lebih dari itu semua. Hakikat keimanan, ketaatan, cinta, dan pengorbanan yang semata2 untuk Allah. Dan itu semua LOVELY BANGET! Nyentuh sampai hati yang terdalam!

Lagi2 masih di dunia media sosial, aku ngepost ucapan idul adha pake picture cerita tentang Nabi Ibrahim as dan anaknya di path. Kelar update status, biasa lah scroll down baca status2 orang, dan lagi2 berasa kena setrum pas baca postingan salah satu temen aku. Isinya kurang lebih menyampaikan kalo setiap diri kita bisa diibaratkan Nabi Ibrahim as, yang memiliki Nabi Ismail as yang diumpamakan harta, kedudukan, dan kesenangan yang kita miliki. Hey, hakikatnya semua yang kita miliki di dunia ini MILIK ALLAH SWT. Langsung dah, lagu Maha Melihatnya Opick terngiang2 di benak, "Yang dicinta kan pergi, yang didamba kan hilang, hidup kan terus berjalan, meski penuh dengan tangisan." Brrrrrrr. Apalah daya kita sebagai hamba-Nya, ketika Dia ingin mengambil apa yang dimiliki-Nya. Yaa Rabbi, Yaa Rabbi, Yaa Rabbi, I'm yours.

Yihaaa, lanjut cerita idul adha kali ini, aku bersyukur banget bisa lebaran di rumah. Idul Fitri sebelumnya aku gak bisa ngerayain bareng keluarga karena jadwal jaga IGD full 24 jam bertepatan hari raya Idul Fitri, dan itu sedih banget. Hhahha.

Di malam hari raya, persis jam 10 malam teng, gak tau kenapa tiba2 on fire pengen bikin brownies kukus bareng mamah. Sebenarnya mamah udah bikin dua loyang gede kue tradisional paginya sebelum aku datang ke Bjb, tapi kok ya aku pengen juga bikin kue. Alhasil, dibikin lah brownies kukus dari resep mamah. Lumayan lah rasanya, walaupun ada beberapa komponen yg gak ada, kayak keju, trus chocochip, sama strawberry/cherry. Jadilah 2 loyang persegi kue brownies kukus yang flat bgt tanpa dekorasi/pemanis tampilan. Ah, yang penting jadi. Coklat batangan sisa sebagian dilelehin lagi sebagian diparut buat topping gitu. Trus biar ada warna merah2 gitu, pake semangka dipotong kecil biar kayak strawberry gitu lah, ceritanyaaaaa. Hhaha. Entah kenapa tampilannya malah jadi kayak blackforest -_- hhaha.

Daaaan di hari H, kami ke Bjm, nyekar ke makam Abah :)
Sambil silaturahim ke keluarga di Bjm.
Menyenangkan.

Idul Adha kali ini memang ada yang kurang, hari raya kurban ke3 tanpa abah, dan Fajar gak pulang karena masih kuliah di Malang. Tapi biar gimanapun, semoga esensinya nyampe.

Semoga selalu disadarkan bahwa segala yang ada di dunia ini adalah milik-Nya. Hingga bisa menumbuhkan cinta, keikhlasan, keimanan, dan ketaatan yang semakin bertambah pada-Nya.

Alhamdulillaah untuk semuanya. :)

-Nisrina Naflah-

13 November 2014

Malam Sendu

Malam ini, karena mimpi malam tadi, aku tiba2 teringat lagi, rindu lagi, sendu lagi...
Abah, kenapa terlalu cepat pergi?
Kami sendiri...
Semoga abah selalu bahagia di sana, sampai nanti, di akhirat nanti, hingga ke surga yang abadi, bersama kami lagi...
:')

-NisrinaNaflah-

7 November 2014

Menikah

Hei, tadi malam aku tersentak dengan mimpiku sendiri.
Aku melihat abah, bepakaian bagus, serba putih, dengan peci putih pula, di sebuah mesjid dengan suasana putih pula, di sebuah acara pernikahan.
Ya, aku mimpi aku menikah, walaupun aku sama sekali gak tau siapa lelaki yang ada di balik sosok abah yang kulihat, yang jelas aku merasa bahagiaaaaaaaaa banget, abah ada di pernikahanku.
Aku senang, bahagia, terharu. Mimpi yang selalu kuimpikan dahulu. Hingga akhirnya aku terbangun dan sadar, abah hanya ada dalam mimpiku. Tanpa sadar aku meneteskan airmata yang enah kenapa sangat mudah terjatuh. Mataku panas, sembab, terlalu menyakitkan untuk menyadari bahwa aku baru saja terbangun dari tidur dengan mimpi indahku.
Yaa Rabb, aku merindukan abah, sangat merindukannya. Tempatkanlah abah di tempat yang terbaik, di sisi-Mu.
:')

071114

-NisrinaNaflah-

25 April 2014

Kebahagiaan Sederhana

Aku sedang duduk di beranda suatu tempat yang akan menjadi tempatku 3 minggu ke depan.
Menunggu partner2 dalam kelompok kecilku yang belum satupun menunjukkan batang hidungnya.
Dari kejauhan terdengar suara benda yang digerek, kutoleh, dan ternyata benar.
Bapak pembawa bak sampah yang sering keliling rumah sakit, berjalan bersama anaknya.
Anak yang selama ini kulihat selalu mengiringi ayahnya.
Bernyanyi riang gembira, tanpa beban, dan selalu ringan langkah mengikuti derap kaki ayahnya.
Tidak sekolah? Entahlah.
Yang jelas aku melihat kebahagiaan yang sangat amat sederhana.
Langkah kaki yang ringan, alunan suara yang riang, senyum yang lapang.
Tanpa beban.
Dan satu hal lagi, pemandangan ini membuat aku rindu dia.
Ya, merindukan abah.
Sama seperti dulu, berjalan bersama ayah adalah salah satu kebahagiaan yang sederhana, sangat sederhana, dan melapangkan segalanya.
:)

-Nisrina Naflah-

19 Februari 2014

Beruntung

Mamah harus tetap kuat, seperti yang kulihat selama 22 tahun ini.
Tegar, sabar, penuh senyuman keikhlasan.
Sungguh, cobaan yang datang bertubi2 akan menghapuskan segala dosamu di dunia Mah. Allah sayang mamah, dan kami selalu berdoa agar Allah senantiasa menyayangi mamah.
Moga mamah disayang Allah.

:')

Lagi dan lagi, lagi-lagi mamah dapat cobaan, dan lagi-lagi mamah menunjukkan rasa syukurnya atas setiap cobaan yang diterimanya, tak pernah menggerutu, tak pernah protes dengan ketetapan-Nya. Selalu sabar, ikhlas, dan bersyukur. Aku ingin menjadi sepertinya, bahkan lebih. Terima kasih mamah atas teladannya. Semoga anakmu yang penuh dosa ini bisa menjadi wanita luar biasa sepertimu. Sungguh benar kata abah, "kita beruntung dikasih Allah mamah dalam hidup ini."

:')

-Nisrina Naflah-

9 Januari 2014

Aku Juga Ingin

Salam.. sabar, syukur, ikhlas selalu... belajar belajar belajar...

Hey, postingan kali ini singkat saja..

Tentang sebuah keinginan, salah satu keinginan dari ratusan keinginan yang ada. Kelak, aku ingin menjadi ibunda yang luar biasa seperti mamah yang selalu masak buat suami dan anak2nya, sesibuk apapun beliau. Salah satu hal yang kukagumi dari sekian ribu hal yg kukagumi. Hal sederhana yang sangat berarti, yang membuat abah bilang, "Rin, kita beruntung punya mamah kayak mamah. Abah merasa beruntung dan bersyukur banar sama Allah," beberapa minggu sebelum kepergian beliau.

Yeah, aku juga ingin seperti itu kelak. Menjadi ibunda yang luar biasa.

:)

-Nisrina Naflah-

4 November 2013

Lagi-lagi Sindrome Aneh itu Menyerang

Semangat ikhlas sabar syukur!!!

Hey, hari ini aku kayak mayat hidup. Dari awal datang ke kampus, disambut tatapan curiga temen2 yang lagi duduk di depan lobby.
T: "Rin, kam dasar kada beniat kuliah THT kah?"
*aku bengong*
T: "Mantap Rin, indera ke-6 yang baik! Bujur ja perkiraan kam."
*tambah bengong*
Temen2 yang sadar kalo aku cuma nganga kaya sapi ompong pas ditanyai gitu akhirnya sadar.
T: "Rin, kam tahu lah kuliah THT jam 8 tadi?"
R: "HAH??? Maksudnya??? Dimajukan kh jadwalnya? Bukannya di jarkom jam 9???"
T: "Oalah, pantas ay kam hanyar datang. Kuliah THT jam 8, Rin. Sudah dijarkom, ada jarkom terbaru."
R: "Masya Allah!" *langsung buka hape, nyari jarkom, betapa oon-nya aku yang gak sadar kalo ada revisi jadwal kuliah. Tapi hasilnya NIHIL, 2 jarkom kuliah yang kuterima SAMA! Gak ada bedanya. KULIAH THT jam 10-12. Ngikkkk*
T: "Berarti kam kada dapat jarkom. Padahal di BBM + line ada jua Rin jarkomnya."
*Langsung buka grup line, NIHIL! Kaga ada woy! BBM? Kaga aktif!*
R: "Jadi tadi udah kuliah THT? Udah selesai?"
T: "Makanya kami bilang perkiraan kam bagus, Rin. Kadada kuliah THT, dokternya belum datang."
*Aku langsung berbinar-binar. Naik ke ruang kuliah lantai 4, sumpedeh, kelas udah penuh sama kakak2 koass THT dan temen2. Aku bener2 merasa disorientasi waktu.*

Sebenarnya dari malam sebelumnya aku udah kayak mayat hidup, ditambah lagi besok paginya badan febris, eh sampai kampus tambah loyo karena perginya dari Banjarbaru. Alhasil, ke-hiperaktif-anku berkurang drastis hari ini. Nyatat kuliah males-malesan. Istirahat malah tidur-tiduran. Pokoknya mayat hidup bgt dah.

Kenapa gitu? Akar masalahnya yaaaa sindrome itu lagi. Sindrom dari safari kondangan. Kemaren aku sama mamah ke 4 resepsi perkawinan. Keluarga mamah, kak Adis, kakaknya Dita Otonk, sama anaknya temen mamah. Dan seperti biasa lah, happy sih liat pengantinnya, dekorasi ruangannya, kue perkawinannya, makanannya, dsb. Tapiiii, lagi-lagi sindrome itu muncul. Ngebayangin ntar kalo aku resepsi, gak ada abah. huahuahuahua. Terus ada beberapa pikiran yang semakin bikin sedih. Ditambah lagi, ucapan seorang teman terkait satu hal yang, hmm sebenarnya sudah terlupakan. Huuuuffffttt. Pulang-pulang langsung drop badan sama pikiran.

Malamnya tambah parah. Aku mikir, gini aja sudah lemah, nyerah, gak bisa ngatur waktu, drop, dll. Gimana ntar kalo koass? Gimana ntar kalo jadi dokter? Gimana ntar jadi istri? Gimana ntar jadi ibu? HARUS KUAT DONG, RIN!!! HARUS BELAJAR KUAT DARI SEKARANG!!!

Sayangnya ni badan tetep aja nge-drop. Alhasil, hari ini jadi mayat hidup beneran dah. Pulang ke Banjarbaru, langsung tepar, tidur dengan badan yang semakin febris. Yaa Rabb, ternyata normotermi itu nikmat Allah swt yang luar biasa loh. Gak enak banget rasanya demam pas cuaca lagi dingin kayak sekarang ini. Bawaannya lemes. Huks.

Eits, tapi gak boleh terus-terusan sedih + lemes dong, soalnya kan sekarang TAHUN BARU 1435 H!!!
Horeeeeeee... Semoga di tahun ini semua bisa jadi lebih baik, lebih baik, dan lebih baik lagi. Menjadi hamba-Nya yang beriman, senantiasa sabar, syukur, dan ikhlas, dan semakin luar biasa dalam hal ruhaniyah, ilmiyah, dan jasadiyah. Aamiin yaa Rabb.

Gak sabar buat besok, mau bikin empek-empek sama mamah. Semoga badan kembali fit dan bugar. Semoga sindrome ini segera menyingkir. Insya Allah.

SENYUM!!! :)

-Nisrina Naflah-

16 Oktober 2013

Kebayang Gak Sih? Selamat Idul Adha! Selamat Milad Mamah!

Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Allah swt. masih ngasih nikmat umur panjang sampai Idul Adha tahun ini. Walaupun tanpa abah, mudah-mudahan rasa syukur ini gak akan hilang dari hati. Mudah-mudahan dari perayaan Hari Raya Kurban ini semua umat Muslim di dunia bisa memetik hikmah yang terkandung di dalamnya. Tentang keimanan yang mendalam kepada-Nya, keimanan yang takkan mampu ditukar dengan kenikmatan lainnya. Meneladani sikap Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail yang sungguh luar biasa. Kebayang gak sih kalo kita yang ada di posisi beliau-beliau itu? Jamin, gak bakalan bisa seikhlas dan seluar biasa itu. Subhanallah.

Yeayyy! Hari ini lagi-lagi Allah swt. memberikan kepingan mozaik kehidupan yang super dalam hidupku. Allah swt. itu selalu mendengar dan mengerti dengan keinginan hamba-Nya, dan senantiasa memberikan apa yang diminta hamba-Nya selama itu memang yang terbaik di mata-Nya.

Alhamdulillaah, tahun ini aku bisa berkurban. Dapat arisan di RT, sama 6 orang tetanggaku. Tujuh orang berkurban 1 ekor sapi. Walaupun bukan atas nama individu/keluarga sendiri, tapi aku bersyukurrr banget. Alhamdulillaah. :’)

Alhamdulillaah, hari ini mamah nambah umur, sudah 51 tahun beliau hidup di dunia milik Allah swt ini. Menjadi mamah yang luar biasa, yang selalu ngasih inspirasi ke anak-anaknya, dan berjuang demi ketiga anaknya, terlebih ketika status single parent itu hinggap di pundaknya. :’)

Alhamdulillaah, aku bisa ngasih kado ke mamah. Yaaa walaupun cuma tas yang sederhana (mamah emang suka yang sederhana dan simpel, sama seperti kepribadiannya yang gak neko-neko) dan sepucuk kartu ucapan. Tapi itu semua bisa mencetuskan airmata haru antara kami. :’)

Awalnya seru gitu, pas ngasih kado, terus dibuka sama mamah. Mamah seneng banget dapat tas. Eeeh, giliran lihat kartu ucapannya, mamah gak bisa baca tulisannya karena lagi gak pake kacamata. Mamah malah nanya foto-foto yang ada di kartu ucapannya. “Ini foto waktu kapan, Rin?” “Loooh, ini foto kita berlima pas kapan?” Pokoknya cuman bisa lihat+komen foto-foto yang ada di kartu ucapan itu. Adie langsung ngambilin kacamata mamah, dan jeng jeng mamah baca ucapan alias doa yang kutulis di kartu ucapan itu. Eh, pas baca mamah diemmm, aku jadi bingung. Dan pas selesai baca, mamah langsung terisak gitu. Aaaaaaaa, aku ikutan nangis terus kita pelukan lamaaaaaa bangeeeeet. “Rina sayaaaaaaang banar sama mamah... Mamah jangan nangis, mamah jangan sedih, semangattttt!” Aku terisak-isak sambil ngelus punggung mamah pas pelukan. SEDIHHHH BANGETTTT! Rasanya semua gambaran perasaan mamah itu nyalur ke perasaan aku. Aku tahu apa yang ada di benak mamah, mamah yang selalu termotivasi untuk terus kuat demi ketiga anaknya. Tuh kan, aku berkaca-kaca lagi nih nulisnya.

Aku ingat, sangat ingat tentang momen itu. Momen di saat kudapati jasad abah yang sudah terbujur kaku menghadap kiblat di rumah ketika aku datang. Kupeluk, kuminta ampun, kumohonkan ampun, kudoakan, kuusap wajahnya, kuratapi kenapa beliau pulang kepada-Nya terlalu cepat? Lantas kucari mamah, memeluknya erat sambil terisak. Bertanya “Mah, kenapa abah mah? Kenapa? Kenapa abah harus pergi duluan? Rina belum jadi anak yang membanggakan, Mah. Rina belum lulus kuliah. Rina belum jadi dokter. Kenapa, Mah?” (pertanyaan yang sebenarnya aku sudah tahu jawabannya, dan entah kenapa waktu itu tetap kulontarkan ke mamah).

“Nak, coba dengarkan mamah. Kita semua milik Allah, Nak. Mamah milik Allah, Rina-Fajar-Adie milik Allah, Abah milik Allah, semua itu sejatinya milik Allah. Jadi, kapanpun Sang Pemilik Sejati ingin mengambil yang dimilikinya, maka diambillah. Dan sekarang abah yang diambil duluan. Allah tahu kita kuat, Nak. InsyaAllah mamah kuat. Kita pasti kuat.” Mamah dengan nada lembut menjawab lontaran pertanyaanku, menyejukkan, menenangkan. Seharusnya aku yang menenangkan beliau, beliau yang ada di samping abah saat sakaratul maut, mendampingi suaminya hingga nafas terakhir, pasti lebih terpukul daripada aku. :’)

Usai mendengar jawaban dari mamah, aku langsung bilang, “Pokoknya mamah harus kuat. Mamah harus sehat. Mamah harus panjang umur. Mamah harus lihat Rina-Fajar-Adie sukses jadi orang. Mamah harus ada nanti.” Entahlah, perkataan itu spontan keluar dari mulutku pas meluk mamah waktu itu. Yaa Rabbi, berat banget rasanya. :’)

Mamah menjawab perkataanku dengan sebuah janji. Janji untuk kuat, janji untuk sehat, janji berjuang untuk ketiga anaknya. :’)

Itu yang jadi motivasi mamah sekarang. Motivasinya untuk kerja, banting tulang nyari nafkah buat kami. Motivasinya untuk sehat, jalan pagi tiap 2 hari sekali. Motivasinya untuk kuat, membaca Al-Qur’an 1 juz setiap hari dan dzikir-dzikir lainnya. Dan motivasi-motivasi lainnya yang selalu membuat beliau terlihat semangat. Isak tangis yang selalu kudengar di setiap 1/3 akhir malam, yaa Rabb sayangilah mamah, bahagiakan mamah dunia akhirat, aamiin yaa Rabb. :’)

Semoga aku-Fajar-Adie bisa jadi anaknya yang membanggakan. Jadi anak yang sholeh-sholehah. Jadi anak yang bisa mengantarkan mamah-abah ke surga. Aamiin yaa Rabb.

Kebayang gak sih, kalo berada di posisi Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail?? Gini aja aku udah merasa sedihhhhh bangeeeeetttt, apalagi jadi mereka. Perlu keimanan dan keikhlasan yang sangat dalam untuk bisa demikian. Subhanallah.



Kartu ucapan alias doa buat mamah tersayang :')
Kasih kadooo.. Difoto sama Adie :')
Cium pipi mamah dulu :'D
Cium pipi Rina jugaaa :'D
Mamah lagi buka kado... :'D
Mamah lagi 'lihat' kartu ucapannya, belum pake kacamata, jadi gak bisa baca tulisan doanya, baru bisa komen foto-fotonya, hhaha.. :'D

Beruntungnya aku terlahir dari rahim seorang ibu luar biasa sepertinya. Luar biasanya hidupku dapat melangkah dengan kawalan doa darinya. :')

-Nisrina Naflah-

10 Oktober 2013

Yeah, Gambar Pria Berkacamata Itu...


Assalamu’alaikum. Salam sabar, syukur, dan ikhlas selalu! :D


Hari ini aku melihat satu gambar di timeline facebook sahabatku, Febri. Gambar yang mengingatkan kembali pada impianku dulu. Impian tentang seorang laki-laki terbaik dari Allah swt. yang akan meminta izin sama Abah untuk mengambil-alih tanggung jawabnya atas putrinya. Impian tentang suasana akad nikah ketika Abah menjabat erat tangan laki-laki terbaik dari Allah swt. itu saat ijab kabul. Impian bahwa di saat momen sakral itu terjadi, masih ada Abah yang akan melepaskanku ke tangan laki-laki terbaik dari Allah swt. untukku. Haaaaa, jadi melow gini. Tapi serius, pas lihat gambar itu aku jadi sedih. Mau lihat gambarnya? Ini nih...



Dan aku langsung share gambar ini dengan komentar “Seandainya saja sosok dalam gambar pria berkacamata itu masih ada...”

Heran juga, kenapa setiap kali lihat yang beginian, lihat acara pernikahan, lihat resepsi perkawinan, bawaannya melow terus gara-gara ingat Abah. Sedih aja, ketika momen sakral itu berlangsung nanti (aamiin, mudah-mudahan panjang umur), sosok laki-laki kebanggaanku sudah nggak ada. Aaaaaaaaaaaa. :”) :”) :”) :”) :”)

Pria berkacamata dalam gambar ini mengingatkan pada beliau, mengingatkan impian-impian, yang insyaAllah akan terganti dengan momen yang luar biasa indahnya nanti. Jauh lebih indah dari yang diimpikan.

Aamiin yaa Rabb.

-Nisrina Naflah-

7 Juli 2013

Episode Bahagia itu Sederhana

Assalamu'alaikum. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Hari ini luarrr biasaaa. Ingat, sabar & syukur selalu dalam setiap langkah kehidupan, supaya bahagia dunia akhirat (sebenarnya ini nasihat buat diri sendiri, bisa jadi nasihat buat berumah tangga kelak juga, kayak lagu nasyid Gradasi Kupinang Engkau dengan Al-Qur'an itu, bagus banget liriknya... Lho kok jadi nyasar ke sini tulisannya -____-!)

Yeay, kali ini aku mau posting gaje tentang ceritaku hari ini. Well, mulai dari rencana kami (aku+mamah+Fajar+Adi.red) yang mau jalan-jalan ke Duta Mall. Kenapa harus ke Duta Mall? Kenapa gak ke Q mall aja? Aku juga bingung, kalo mau tahu silakan tanya langsung ke mamah. -___-!

Oke, awalnya kami sudah berencana pergi dari rumah jam 9 pagi, supaya bisa nyampe di DM jam 10an dan gak repot nyari tempat parkir. Tahu sendiri kan, kalo weekend nyari tempat parkir di DM itu kaya nyari kutu di rambut gimbal, susahnya minta ampun. Apalagi sekarang ada makhluk yang namanya FLY OVER yang berbentuk mudigah, semakin siang kalian lewat sana, semakin panjang macet yang nelangsa. Dan yaaaa seperti biasa, ngaret-ngaretan jam itu juga terjadi di keluarga kami. Ujung-ujungnya kami baru berangkat dari rumah jam 11, telat 2 jam sodara-sodara. Kebayang ular mobil di area pembangunan fly over dan lautan mobil yang ada di DM, ngebayanginnya aja sudah bikin kebelet pipis 10 liter.

Dalam 1 tahun belakangan ini aku punya profesi yang membanggakan. Apaan tuh? SUPIR KELUARGA! Apalagi semenjak abah meninggal, kalo kemana-mana selalu aku yang nyetir. Ya iyalah, kasihan kalo mamah yang nyetir. Fajar & Adi? Masih di bawah umur! ;p Well, ada kejadian gaje sebelum kami berangkat ke Banjarmasin. Pas aku ngeluarin mobil dari garasi, dan mamah+Fajar+Adi sudah siap-siap mau masuk mobil, aku langsung matiin mobil dan keluar. "NGAPAIN WOY?" Biasaaaa, orang narsis lagi kambuh! Aku lihat bunga matahariku di halaman rumah lagi nunduk bersahaja gitu, kalem banget kelihatannya. Dan aku baru sadar, ternyata bunga matahari itu kalo lagi hujan dia jadi nunduk gitu ya, kelihatannya sedih karena gak bisa natap matahari (ceileeeh, cerpen banget). Alhasil, aku langsung ngasih hape ke Adi dan minta fotoin. Hahahaha. Mamah sampai heran, sempat-sempatnya udah mau berangkat tiba-tiba turun dari mobil dan FOTO-FOTO!!!??? Yaaa begitulah. Ini dia foto bunga matahari yang sedang menunduk takzim, entah lagi galau atau lagi kalem???

Rina ft. Naflah :)
Menundukkan pandangan, bukankan lebih indah? *filosofi*

Lanjut ke potongan episode berikutnya, di tengah jalan mamah tiba-tiba mengeluarkan 'lagi' ceritanya tentang nenek-nenek yang panjang umur karena beliau suka nyetir. Yaa Allah, itu sudah kesekian kalinya mamah cerita tentang nenek-nenek yang panjang umur itu, katanya sih selain panjang umur, beliau juga gak pikun, karena beliau hobi nyetir. Terus mamah langsung ngerengek-rengek minta nyetir, rupanya bener-bener terinspirasi sama nenek-nenek itu. Ya sudah, akhirnya mamah gantiin posisi aku sebagai supir. Gereget banget, hahaha.

Hingga akhirnya episode sampai di tempat yang sebenarnya ingin dilompati saja, FLY OVER!!! Yaa Allah, fly over ini sungguh menyiksa, dan kali ini panjang macetnya bukan main sodara-sodara. Dan seperti inilah muka-muka 4 manusia yang terjebak dalam macetnya fly over (sungguh, keluarga ini memang narsis gaje-gaje gimana gitu. Maklum ada aku -____-!)

Muka ala macet fly over (-___-!)

Ternyata macet itu belum berakhir gitu aja, di DM sudah menanti lautan mobil yang cetar membahana. Mamah masih mencoba sabar pas masuk gak ada satu pun celah buat parkir (nb: mamah selalu parkir di bawah, di halaman DM. Mamah gak pernah berani parkir di dalam ataupun di atas). Satu kali muter halaman DM (dari depan sampai belakang) gak nemu parkiran yang kosong, akhirnya mamah nyerah, 'mencoba' mempercayakanku untuk menduduki kembali bangku supir. Akhirnya dengan ajaran memarkir mobil di lantai atas yang diajarkan Otonk, dengan segenap jiwa dan raga dalam membasmi kejahatan, aku pun menggas mobil ke atas, huwoooow... Ternyata sama aja kaya naik jembatan, kirain serem. -____-! Kalian tahu muka mamah gimana? Pucat pasi gak ketolongan, komat-kamit, sampai atas, hhaha. Dan di atas, lagi-lagi ular mobil yang panjang menanti. Aku sudah mesem-mesem, jangan2 parkiran di atas habis juga? Oh, NO!!! Sekalian aja numpang parkir di kampus kalo gini caranya. *mulai emosi* Dan ternyata, DAPAT! Dengan antrean yang begitu panjangnya hanya untuk mendapatkan subsidi parkiran. Luar biasa! Nyampe DM udah jam setengah 2! Fuiiih...

Lanjut pipis, sholat, dan bernarsis-ria kembali. Yaa Allah, tolong... Kali ini beneran deh, mamah yang ngajakin photobox ber4. Ciyus deh, enelan. Aku langsung ngajak mamah+Fajar+Adi ke tempat photobox yang biasa aku sama temen2ku datengin. Ternyata antri 2 orang, yo weisss lah nunggu. Mamah entah kenapa bilang mau ke ujung sebentar, ada yang mau dilihat. Okelah, pikirku. Selang beberapa menit kemudian, mba2 photobox udah manggil aku, nyuruh milih background. Lhaaaa, mamahnya belum balik. Sontak aja aku geger, nyuruh Fajar+Adi nyariin mamah. Pulsa gak ada buat nelpon, sms pending, ulalala. Kemana ini sang mamah yang cantik luar-dalam??? Dengan tampang ikhlas dan baik hati, aku mempersilakan orang lain untuk photobox duluan, "Anak-anak ayam mau nyari induknya yang hilang dulu, mba!" -_____-! Kami cari-cari di lantai dasar, gak nemu-nemu. Yaa Allah, kemana ini mamah? Saking pasrahnya kami balik lagi ke tempat photobox, aku lagi2 nanyain Fajar+Adi "Serius gak ada pulsa? Telpon mamah, telpoooon." Terus dengan tampang gak berdosanya, si Fajar bilang "Kalo 2.000 itu cukup buat nelpon lah?" Arrrrgggghhhhh CUKUP BRO! Cepat telpon, sebelum mamah diculik! hhahaha. Dan beberapa detik kemudian, mamah dengan muka innocentnya datang, "Sudah mau giliran kita ya?" JOOOOSSSSHHH, ini sudah 2 antrian nyelip kita mamah. ckckckcck. Kemana aja??? Ternyata si mamah ke lantai atas, beli apa sodara-sodara? LIPSTIK! *gubrakkkk* Dan ini dia foto2 gaje kami. Ada yang lucu, di awal aku sudah wanti-wanti, ini lihat ke kamera ya, jangan lihat ke kaca, ke kamera. Mamah juga ngewanti2 Fajar+Adi yang sebelumnya emang gak pernah mau diajak photobox. Ehhh, gak tahunya pas lihat hasilnya malah aku+mamah yang banyak lihat ke atas -____-! maklum, cewekkk. :D

Gayanya monoton gara-gara Fajar & Adi sok kalem ;p
Rina-Adi-Fajar (R-A-Fa)

Mamah-Fajar-Adi :)



Fajar kayak kakek sipit kribo -____-!

Sayang mamah!!! Kami sayang mamah!!!

Potongan episode beralih ke sebuah tempat makan yang dirahasiakan namanya. Perut udah keroncongan, berharap bisa cepet makan dan makanannya enak. Semua makanan & minuman sudah terpesan dengan sempurna. Pertama, pesanan minuman kami datang (selalu seperti ini). Kedua, makanan pesananku yang datang. Lama nunggu, akhirnya pesanan Adi datang. Suara jangkrik dalam perut sudah menggila, mamah yang cantik luar dalam langsung mengerti dan mengeluarkan ucapan pamungkas, "Sudah, Rina sama Adi makan aja duluan, ntar dingin makanannya." NGIK. Lamaaaaa banget pesanan mamah+Fajar gak datang-datang. Baru aja aku mau manggil waitressnya, tiba-tiba aku denger salah satu waitressnya teriak2 ke arah dapurnya, "Woi, nasi goreng ***** sudah belum?" (itu makanan pesanan Fajar!!!). Trus mba waitress itu teriak lagi, "Hah, sudah???" Kami melongo pengen bilang, "BELUMMMM!" Sebelum kami teriak, mba waitressnya langsung balik badan ke arah kami dan dengan bahasa isyaratnya nanya ke Fajar, "Belum kan mas?" Terus aku yang nyahut, "Belum, mba... Nasi sapi lada hitamnya juga belum..." (namaku adalah Mas Rina, -___-!) Beberapa menit kemudian pesanan Fajar datang, lantas pesanan mamah kemana??? Kali ini aku sudah gak bisa diam lagi, langsung aku serang tuh mba yang ngantarin pesanan Fajar, "Mba, satu pesanan lagi belum ada nih..." (sambil senyum manis tanpa pemanis buatan). Oh iya, sebentar katanya. Eh, pas aku intip ternyata mba'nya baruuuuuuu ajaaaaaa bilang ke temennya yg ada di dapur, "Eh, nasi sapi lada hitamnya 1." JADI??? Pesanan mamah dari tadi, dari setengah jam yang lalu itu belum dibikinin??? MasyaAllah, kasihan si mamah yang cantik luar dalam, nunggu lamaaa banget. Dan pas pesanannya datang, mamah langsung bilang, "Lain kali beli nasi itik gambut aja, bawa, makan di mobil! Jelas lebih cepat,enak, dan murah..." hhahahaha. cupcupcup mamah sayang.

Lanjut episode selanjutnya, kali ini sesi belanja khusus buat 2 lelaki tampan, Fajar+Adi. Periodenya untuk memanjakan mereka berdua. Aku? Ntar aja! Hiks. Jadi ini judulnya adalah menemani adik-adik tercinta berbelanja. Pas liat baju-baju cowok, aku tiba2 mikir asyik kali ya ngebeliin baju buat suami ntar (huwoooo, langsung salto ke planet Pluto!). Mana di sekeliling itu banyak banget pasangan suami-istri yang masih muda (semoga memang benar sudah menikah) lagi keliling-keliling nyari sepatu, sendal, baju, dll. Lha aku? Keliling-keliling sendiri liat sendal-sepatu, celingukan gak karuan. hhaha.

Alhamdulillah, hari ini bener-bener luar biasa. Aku bahagia. Bahagia itu sederhana. Saat kami tersenyum bersama, di tengah kerinduan pada sosok luar biasa. Pasti beliau juga sedang tersenyum di sana. Ya, kami tersenyum bersama. :')

Lovely Family, miss u Abah sayang!

Oh iya, malam ini lagi-lagi berkutat di depan laptop, buka tutup email, kirim-unggah-save file, edit-recheck together sama Nita & Pandji. Malam ini malam terakhir buat unggah laporan kemajuan dan log book PKM, buat MONEV ntar, inyaAllah tanggal 17-19 Juli. Yaa Allah, mudah-mudahan dilancarkan dan diberikan hasil yang terbaik. Bismillaahirrahmaanirrahiim, PIMNAS! MATARAM! 2 mimpi sekaligus dalam 1 kesempatan, semoga terwujud. Aamiin allahumma aamiin. :')

Semoga ini bisa membantu kami go to PIMNAS!


-Nisrina Naflah-

26 Juni 2013

Pertama Kalinya

Hari minggu lalu bisa jadi kuanggap sebagai hari yang membahagiakan sekaligus menyedihkan, kenapa? Untuk pertama kalinya aku sama mamah dan ade-adeku makan di luar rumah tanpa abah. Kami makan siang bareng di d'cost sebelum bersilaturahmi ke Kuin sekaligus ziarah ke kubur abah. Seru? Pasti. Tapi tanpa sadar mataku panas membayangkan sosok yang semestinya juga ada bersama kami saat itu. Bercanda, mengeluarkan guyonan khasnya, dan tertawa. Aku rindu. :')

Dan Sya'ban kali ini pun adalah Sya'ban pertama kami tanpa abah. Dan Ramadhan nanti akan menjadi Ramadhan pertama kami tanpa abah. Berlomba-lomba khatam Al-Qur'an, tarawih panjang, shalat berjama'ah, sahur & buka bareng, beli kue & cemilan bareng, menasihati, memberikan pelajaran bermakna bersama, dll. Yaa Rabb, pasti Ramadhan kali ini akan berbeda, dan membuat rindu dengan Ramdhan-Ramadhan sebelumnya.

Semoga abah di sana selalu tersenyum, ikut berbahagia. Kami sayang abah, karena Allah. :')

-Nisrina Naflah-

15 Januari 2013

Untitled 6

Hari ini aku tertidur usai adzan Isya, seakan lemah. Padahal seharian aku gak melakukan hal-hal yang bikin cape. Aku cuma ke Bank tadi pagi jam 10 dan pulang jam 11. Oh ya, sorenya nyuci-nyuci sampai 3 kali. Cape? Gak sih, mungkin lebih tepatnya suntuk. Bukan, lebih tepatnya lagi uring-uringan. Aku pikir begitu, tapi setelah terbangun jam setengah 10 ini, aku kayak orang kebingungan. Sungguh, aku merasa seperti ada suara taxi, kemudian bunyi pagar rumah dibuka, dan ketukan pintu dengan salam yang bijak. Ya, seperti itulah suasana saat abah pulang dari setiap dinasnya ke luar kota/pulau dulu. Dulu, sebelum Allah memanggilnya. Ya, saat terbangun, itu yang kurasakan. Membuat airmata ini meleleh sendiri seperti es krim yang terkena panas matahari. Luluh. Akhirnya aku sadar, kenapa aku seakan lemah. AKU SEDANG MERINDUKANNYA, merindukan abah, sangat merindukannya.

20 Oktober 2012

Yang Terbaik Bagimu, Wahai Sosok Luar Biasa...

Sosok itu luar biasa. Sangat supel ketika bertemu pertama kali dengan orang-orang yang tak dikenal. Bercerita ke sana-sini, mencoba mengakrabkan diri. Entah koheren atau tidak, aku yakin tujuannya hanya satu, mengajak berbicara untuk menghangatkan suasana. Terbuka dengan siapa saja, bercerita tentang istrinya, anak-anaknya, keluarganya, dan hal-hal lainnya. Tak jarang, sosok itu melemparkan beberapa lelucon yang membuatnya tertawa sendiri, dan orang yang mendengarnya ikut terkekeh.

Beliau itu luar biasa. Selalu bertanggung jawab dengan apa yang telah diamanahkan kepadanya. Mengerjakan dengan sepenuh hati, berharap cemas agar segala sesuatunya berjalan sesuai perhitungannya. Beliau benar-benar bekerja, seorang pekerja keras, yang tidak pernah makan gaji buta. Tak pernah melemparkan tugas begitu saja. Jika lelah, ia akan meminta tolong pada staffnya sambil mengarahkan. Disukai oleh para staffnya, karena sering ngasih bonus di akhir pekerjaan. Sosok yang royal dan senang berbagi.

Laki-laki itu luar biasa. Senantiasa bertahan dalam kesederhanaan dan kelurusan hatinya. Di saat teman-teman kantornya sudah ribut dengan mobil-mobil baru dan blackberrynya, ia masih bertahan dengan motor dinas dan hapenya yang biasa. Tak pernah sedikit pun merasa gengsi dan ingin bergaya. Ketika nafsu akan harta dunia memenuhi atmosfer tempat kerjanya, ia mencoba bertahan dalam kelurusan dan minta dijagakan Allah dari hal-hal yang haram hukumnya. Jujur, seiring dengan kelurusan hatinya.

Pria itu luar biasa. Berdzikir setiap waktu, bersyukur setiap saat. Tak pernah lupa bahwa semuanya berasal dari Allah, semuanya sejatinya milik Allah. Setiap saat mencari hikmah yang tercecer dilangkah hidupnya. Diresapi, direnungkan, dan dibagi kepada semua orang yang ditemuinya. Selalu menyebut nama orangtua, istri, dan anak-anak dalam doanya. Meminta untuk diberikan kebahagiaan dunia akhirat. Memohon agar kami semua dimatikan dalam keadaan khusnul khatimah. Memahami betul hakikat dari hidup yang fana. Selalu membantu saudara yang sedang kesusahan.

ABAH ITU LUAR BIASA. Sosok suami yang sangat baik untuk mamah. Sosok ayah yang sangat baik untuk aku, Fajar, dan Adi. Abah yang selalu memilih untuk makan bersama di rumah ketimbang makan di luar. Abah yang selalu jadi imam shalat berjama'ah di rumah. Abah yang selalu mengerjakan urusan rumah ketika mamah sakit. Abah yang selalu membantu kami dalam mengerjakan tugas kampus/sekolah. Abah yang selalu membelikan segala sesuatu yang kami perlukan, dengan sesegera mungkin. Abah yang selalu semangat dalam mencari nafkah untuk menyekolahkan kami setinggi-tingginya. Abah yang selalu tersenyum gembira ketika melihat kami makan masakan mamah dengan lahapnya. Abah yang selalu memberikan semangat dan kekuatan ketika kami sudah mulai lelah dengan kegiatan kampus/sekolah. Abah yang selalu menampakkan kasih sayangnya untuk mamah dan kami. Abah yang selalu menepati janji-janjinya. Abah yang hanya memikirkan mamah dan kami. Abah yang selalu mendoakan kami dengan kalimat-kalimatnya yang menggetarkan hati. Abah yang selalu masuk ke dalam kamar anak-anaknya , setelah kami tertidur pulas. Abah yang selalu mendengarkan cerita istri dan anak-anaknya, sambil memberikan solusi terbijak untuk kami semua. Abah yang selalu selalu selalu mencontohkan hal-hal luar biasa pada istri dan anak-anaknya. Terlalu banyak, sangat banyak, hal-hal luar biasa yang ada pada diri abah. Mungkin jika dijabarkan dengan spesifik, jari ini takkan mampu mengetiknya. Sosok yang lurus hatinya, apa adanya, supel, suka bercanda, penyayang, pekerja keras, dewasa, lucu, dan LUAR BIASA.

Mamah, aku, Fajar, dan Adi menyayangi abah, sangat teramat sangat menyayangi abah. Dan ternyata Allah JAUH LEBIH SAYANG dengan abah. Hingga abah dipanggil lebih dulu oleh-Nya. Ya, kembali kepada Sang Pemiliknya. Tepat pada tanggal 17 Dzulqaidah 1433 H, abah berpulang ke rahmatullah. Begitu tenang, begitu gampang, dengan lantunan dzikir yang diucapkan abah berulang-ulang hingga malaikat izrail mencabut nyawanya, tanpa rasa sakit, tanpa kata aduh ataupun mengerang. Hanya berdzikir, "Laa ilahaillallahu muhammadarrasulullaah..." hingga nafas itu berhenti. Begitu cerita mamah. Ya, di akhir waktunya, abah hanya didampingi mamah. Fajar dan Adi sudah berangkat sekolah, aku sendiri masih di Banjarmasin untuk kuliah. Begitu cepat abah pergi, dalam hitungan menit yang dapat dihitung dengan jari tangan. Tanpa sakit sebelumnya, tanpa tanda sebelumnya. Abah tak ingin menyusahkan orang-orang yang ditinggalkannya. Abah seperti hanya membuka pintu pulang, keluar, lantas pergi begitu saja, tak pernah kembali lagi. Tapi sungguh, abah selalu ada di hati kami. :')

Abah, Rina sayang sama abah. Sayaaaang sesayang-sayangnya. Rina sayang abah karena Allah. Sama seperti mamah, Fajar, dan Adi. Kami sayang abah karena Allah, jadi jika Allah lebih sayang abah dan memanggil abah duluan, kami ikhlas. Kami akan meraup segenap hikmah yang berhamburan dalam ujian ini, kami akan menjadi hamba-hamba-Nya yang kuat, Bah. InsyaAllah. Abah pasti sudah tenang kan di sana. Allah pasti sayang sama abah, sayang sesayang-sayangnya. :')

Terlalu banyak ucapan dari orang-orang yang menggambarkan betapa baiknya pribadi seorang Alm. Ir. H. Agus Mawardi. Sungguh, tak terhitung berapa orang yang membisikkan, "Abah kamu orangnya baik banget, yang sabar ya. Allah sayang sama abah kamu, makanya dipanggil duluan. Abah orangnya baik, Rin." di hari itu, sangat banyak. :')

Beberapa bulan terakhir, abah sering banget bilang gini, "Beruntung banar kita punya mamah. Abah merasa beruntuuuuuung banar. Alhamdulillaah." (Beruntung banget kita punya mamah. Abah ngerasa beruntuuuuuung banget.) Sungguh, nampak sekali rasa cinta abah ke mamah. Bahkan di hari terakhir abah di dunia, abah masih saja sempat mengkhawatirkan mamah dan menunjukkan kasih sayangnya dengan luar biasa. Yaa Rabb, ingin rasanya punya suami seperti abah kelak. :')

Abah, semoga kuburmu dilapangkan, diterangkan. Semoga Allah menerima semua amal ibadah yang abah kerjakan selama di dunia. Semoga Allah mengampuni semua dosa-dosa yang telah abah perbuat semasa di dunia. Semoga Allah mengumpulkan kita kembali di dalam surga-Nya kelak. :')

Kami akan bertahan, kami kuat, kami akan terus semangat, Bah. Memenuhi segala permintaanmu, harapanmu, cita-citamu. Yang terbaik bagimu, ABAH... :')

Kami sangat beruntung karena diberikan kesempatan untuk hidup bersamamu, abah. Amat sangat BERUNTUNG. :')











Really love you, Abah. Because of Allah swt. :')

-Nisrina Naflah-