Tampilkan postingan dengan label cerita ulang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita ulang. Tampilkan semua postingan

30 November 2015

Para Mood Boosters

Alhamdulillah, nikmat lagi, nikmat terus, nikmat dan nikmat Rabbmu manakah yang kau dustakan?

Semua pasti tahu makna dari kata mood booster, pendorong/penyokong suasana hati, yang bisa membuat tersenyum di saat murung, membuat semangat di saat down.

Ngumpul bareng temen2, apalagi sama temen2 SMA yang konon katanya merupakan masa yang paling indah dalam hidup, bisa jadi mood booster yang ampuh. Berbincang sekaligus bernostalgia selalu menciptakan tawa sekaligus haru. Sadar, ternyata sudah cukup jauh kita melangkahkan kaki, dan manisnya kita masih bisa berkumpul bersama.

Ada banyak hal yang selalu jadi bahan obrolan, mulai dari kerjaan sampai guyonan kapan ngelamar orang. Kadang terselip beberapa memori yang selalu membuat kita merasa "masih SMA". Kadang juga terselip beberapa obrolan serius tentang kehidupan, tentang mimpi masa depan.

Tadi baru aja ngumpul2 bareng anak2 SWAT, sekelompok orang yang entah mengapa selalu membuat aku bersemangat untuk keluar rumah bertemu mereka. Segerombol kawan yang entah mengapa selalu membuat aku tersenyum senang ketika pulang. Ada perasaan yang membuncah, bikin hepi, dan melayang2 setelah bernostalgia bersama, bercerita tentang kehidupan, dan saling membully. Yaa Rabb, sungguh kebersamaan adalah nikmat-Mu yang sangat luar biasa. Rasanya pengen ngumpul terus, pengen cerita2 terus, sharing segalanya, dan tertawa bersama. Ah, barulah kusadar mereka salah satu mood boosterku!

Tapi, berkumpul bersama bukan sekadar bertemu dengan suasana hepi. Kadang muncul sedikit 'sadness' yang entah bermuara darimana. Membayangkan bahwa perjalanan hidup akan terus berlanjut. Satu per satu mulai pergi meninggalkan kampung halaman, demi pekerjaan, demi masa depan, demi mimpi dan impian. Ketika bercerita tentang harapan, rencana ke depan, dan waktu yang terus berjalan. Ah, mereka semua super. Mereka semua luar biasa. Tapi kenapa harus sedih? Sedih membayangkan perpisahan akan terjadi lagi. Membayangkan masa dimana sangat sulit untuk berkumpul bersama lagi. Membayangkan saat dimana akan lebih banyak lagi tanggung jawab yang diemban.

Bersyukur, sekarang masih bisa ngumpul2 bareng, menjadikan momen2 bersama sebagai mood booster yang tiada tara. Para mood booster yang saat ini sama2 lagi berjuang dan berusaha, meraih mimpi, mewujudkan cita dan asa, untuk kebahagian dunia akhirat.

Semangat para mood boostersku. Semoga nikmat kebersamaan ini akan selalu bisa dicicipi hingga nanti.

-Nisrina Naflah-

24 Februari 2015

Suntikan Motivasi Super

Assalamu'alaikum~
Alhamdulillaah Alhamdulillaah Alhamdulillaah.
Gak terhitung nikmat yang senantiasa Allah limpahkan secara cuma2 dalam hidup kita, dilengkapi dengan kejutan2 kecil yang memekikkan hati, indah dan membahagiakan. Maka nikmat Rabbmu manakah yang kau dustakan? :)

Heyhooo, hari ini aku hepiii banget. Jadi ceritanya tadi aku maju poli di stase anak. Well, sebenarnya aku udah harus maju poli waktu masih stase di anak dulu, udah daftar ke SMF, udah bikin slide, udah ngeprint slide, udah nyiapin semua, ternyata pas hari H, konsulen senior tumbuh kembang yang jadi pembimbing maju poli ada rapat dadakan dan gak bisa hadir ke SMF, alhasil maju poliku batal. Di minggu ujian, aku coba ngatur jadwal maju poli lagi, dan lagi2 batal karena konsulennya berhalangan hadir ke SMF. Dan akhirnya 5 hari yang lalu, mumpung lagi libur pasca stase obgyn, aku putuskan untuk bayar hutang poli tumbuh kembang dan maju poli. Lagi2 maju poliku batal untuk ke3 kalinya, karena waktu itu konsulennya ngasih bimbingan DM orientasi sampai setengah 3 siang dan terlalu siang kalau dilanjutkan maju poli. Ditundalah maju poliku di Selasa depannya lagi, dan hari ini akhirnya aku bisa maju poli. Long long long journey banget ya, hhehe.

Ada hal yang sangat menarik hari ini. Aku maju bareng Jefry & Hendy, dan aku maju duluan. Selama presentasi, aku merasa gak maksimal bgt. Pilihan kata2 yang kulontarkan pas presentasi itu gak crunchy gitu, kemudian agak terburu2 (karena konsulennya minta buat presentasi 10 menit aja), dan artikulasiku gak jelas di beberapa bagian. Aku bener2 pasrah, udah gak tau lagi deh gimana hasil presentasinya. Kelar presentasi, terjadilah percakapan yang bikin sorakan2 gembira di hati.

Konsulen: "Kamu DM baru atau mengulang?"
Rina: "Mengulang dokter."
K: "Kenapa kemaren kamu gak maju poli dek?"
R: "Mohon maaf dokter, sebenarnya saya sudah daftar maju poli waktu saya masih di stase anak dulu. Tetapi pas hari H ternyata dokter ada rapat, jadi maju polinya dibatalkan dokter."
K: "Oh ya, mohon maaf ya. Berarti itu kesalahan dokter."
R: "Iya dokter, hhehe." (Ngangguk2 sambil senyum)
K: "Kamu sudah selesai koas?"
R: "Belum dokter."
K: "Ini lagi stase apa kamu?"
R: "Kemaren baru selesai stase obgyn, dokter. Senin depan mulai masuk stase IKM di puskesmas."
K: "Oh, kamu sama dengan Jefry ya berarti?"
R: "Iya, dokter." (Masih senyum2)
K: "Kapan selesainya?"
R: "insyaAllah Oktober nanti, dokter."
K: "Bagus kamu. Nanti kalo mau masuk anak, bilang aja. Dokter suka. Tadi kamu menjelaskannya bagus, memahami materi yang disampaikan, menguasai audiens, seperti ibu guru saat menjelaskan."
(sorak2 kecil bersahutan di ruanga, "cieeee", aku cuman senyam senyum sambil ngangguk2, memberikan sinyal "iyaaa dok, mau banget saya, mauuuuu.")
K: "Beneran loh. Saya itu kalo bagus, saya bilang bagus. Kalo kamu mau nanti ya, minat di anak."
(Muka gue langsung sumringah, subhanallaah senangnya)

Well, aku sadar kok semua itu bisa bikin penyakit hati, bisa bikin sombong, ujub, takabur. Tapi aku juga sadar, siapa yang menjamin konsulen itu ingat dengan kata2 yang dilontarkannya hari ini. Aku baru selesai koas Oktober, belum lagi UKMPPD, osce, sumpah dokter, internship, mengabdi, masih panjang kan perjalannya. Tapi yang jelas, perkataan beliau menjadi suntikan semangatku buat meraih mimpi menjadi Sp.A(K), cita2ku sejak kecil, tak pernah berubah sedikitpun, bahkan setelah aku melewati stase anak.

Semua pasti berharap dapat rekomendasi dari bidang yang diminati, termasuk aku. Dan perkataan konsulenku hari ini bukan rekomendasi yang real, tapi benar2 membuat aku semangat untuk terus dan tetap bermimpi menjadi Sp.A(K). Dan tahukah anda, sebelum mendapatkan lontaran kalimat dari beliau, aku sudah berminat mengambil bidang Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial, karena aku ngerasa bidang ini sangat menyenangkan. Walaupun sebelumnya aku pengen jadi Konsultan Anak di bidang Alergi & Imunologi, tapi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial ternyata rame juga, hhehe. Jadi nambah nih list mimpi2ku.

Yaaa. Konsulen yang hari ini ngasih suntikan motivasi itu bernama dr.Gladys Gunawan, Sp.A(K). Menurut aku, beliau ini konsulen yang luar biasa, bener2 mengabdikan diri di bidang pediatri dan pendidikan dokter. Beliau sudah pensiun namun masih berbaik hati untuk tetap berada di SMF Anak, berbagi ilmu dengan DM2 polos yang masuk stase anak. Beliau juga keren saat mengaplikasikan ilmunya. Cara berkomunikasi dengan pasien dan orangtuanya, cara konselingnya, dan semua2nya. Awesome!

Perbincangan terakhir setelah maju poli berakhir pun masih saja menggelorakan semangat eke.

K: "Apa sih yang kalian rasakan ketika membuat slide2 untuk presentasi ini? Sulit kh? Merasa terbebani kah? Atau senang?"
R: "Asyik, dok!" (Aku menjawab spontan)
K: "Ya, bagus itu. Asyik itu yang dicari."
(Lagi-lagi aku menyunggingkan senyum)

Seberat apapun stase anak, semenderita apapun DM anak, aku masih saja berharap suatu saat nanti aku bisa jadi
Dr. dr. Rina Purnama Sari, Sp.A(K), MMR
Aamiin yaa Rabb, tidak ada salahnya dengan "bermimpi setinggi2nya" kan? Semoga Allah meridhoi.

Terimakasih dr.Gladys atas suntikan semangatnya hari ini :)

-Nisrina Naflah-

29 November 2014

Rembulan di Matamu (I)

"Gimana? Nanti kalian cari waktu lagi ya, temui saya untuk ujian."

Ucapan dr. Riza terlontar seperti ratusan jarum yang menusuk hati. Seketika mata Desy memanas, kelopak matanya menahan agar tidak menutup hingga menjatuhkan butiran hangat airmata. Bibirnya kelu namun tetap dipaksa tersenyum, palsu.

"Baiklah dokter, terimakasih banyak," lagi-lagi kalimat penuh kepalsuan terlontar begitu saja.

Desy tidak habis pikir, semua terasa begitu menyesakkan. Sejak hari pertama minggu ujian, dia sudah berpikir untuk semangat menyelesaikan ujian agar tidak memanjang hingga minggu liburan. Nihil, sedikitnya pasien baru yang masuk bangsal mengharuskan Desy melanjutkan ujiannya hingga minggu liburan. Pupus sudah angan-angan Desy untuk berlibur menanjak sebuah bukit, mengenang indahnya episode menanjak gunung yang pernah ia lakukan dulu. Minggu ujian pun dilewatinya dengan mengikuti dr. Riza berkeliling rumah sakit, dan ternyata ujiannya pun terpaksa ditunda lagi dan dilanjutkan entah kapan waktu itu tersedia.

Desy berjalan di lorong rumah sakit setelah mengantarkan sang penguji hingga lobby, nafasnya masih terasa berat, pikirannya meronta-ronta meminta petunjuk dari-Nya akan hikmah yang bersembunyi di balik momen menyebalkan ini. Puluhan tanda tanya dan tanda seru terus saja mengiang di telinga, apalagi kata andai. Andai saja begini, andai saja begitu. Ah, dadanya semakin berat menghela nafas.

"Hey Des, gimana ujiannya? Udah kelar kan?" Nisa memanggil dari ujung lorong sambil melambaikan tangan. Tampak teman-teman sekelompok Desy sedang berjalan bersama.

Desy menelan ludah, ia siap melontarkan ribuan kalimat keluh kesah, sumpah serapah, dan segalanya yang membuatnya kecewa. Tapi ia urungkan semua.

"Hhahaha. Ujiannya ditunda lagi. Mungkin ntar habis stase anak," jelas itu tawa yang palsu, nyinyir.

"Hah? Seriusan? Jadi ngapain aja 2 minggu ini? Bukan ujian? Kirain udah ujian," Nisa menimpali dengan penuh empati, entah tulus dari hati atau bagaimana, semua tampak semu.

Desy ikut berjalan di gerombolan itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya menyengir ketika ditanya, kadang menjawab ketus dengan tampang kusut tak bersahabat.

Lagi-lagi, Desy tersadarkan dengan kenyataan yang bermain di hadapannya. Lihatlah orang-orang yang dulunya ia hibur di saat sedih. Orang-orang yang selalu ia perhatikan perasaannya. Kemana mereka? Hilang begitu saja, bersikap acuh seakan tak tahu. Ah, hidup memang penuh fatamorgana. Desy kembali menghela nafas, kali ini lebih panjang daripada sebelumnya.

***

Gadget Desy berbunyi, bergegas Desy meraihnya dan membaca pesan yang masuk.

"Woy, gue lagi galau nih. Jalan-jalan yuk, kemana kek."

"Cup cup cup, jangan galau lagi. Yuk kita jalan, lepaskan semua bebaaaan," jawab Desy tanpa pikir panjang.

Lagi-lagi Desy tak kuasa menolak. Kasihan, kasihan, kasihan, pikirnya. Tak peduli uang bulanan yang semakin menipis gara-gara menemani mereka yang sedang galau, tak peduli berapa banyak buku yang tertunda lagi untuk dibaca demi menemani mereka yang sedang sedih. Yang penting mereka jadi hepi, gak sedih lagi, begitu harapnya.

***

Entahlah, rumah sakit membuat semua orang berubah. Bukan berubah mungkin tepatnya, namun kembali menjadi dirinya yang sebenarnya. Desy semakin acuh dengan sekelilingnya. Tidak ada lagi perhatian saat melihat teman-temannya bersedih. Tidak ada lagi kalimat penghibur yang terlontar dari hati. Kalaupun ada, hanya seperlunya dan tak berempati sama sekali.

Hingga datang peristiwa itu, peristiwa yang akan merubah segalanya. Segalanya tentang Desy.

***

To be continue~

-Nisrina Naflah-

(Nb: semua hanya fiktif belaka. Awal2nya aja yang terinspirasi dari kejadian hari ini, selanjutnya biarkan imajinasi yang bermimpi, hingga terangkai menjadi cerbung yang gaje, hhaha. Rembulan di Matamu? Hhahaha)

19 Januari 2014

Padahal

Yaa Allah, hari ini makin kerasa betenya koas dimajuin. Sebenarnya sih seneng kalo koas dimajuin, bisa cepet lulus, de es te. Tapiiii, GAK BISA IKUTAN KE SOLO BUAT SMC! SMCnya tanggal 14-24 Februari, ya iyalah aku lagi koas tanggal segitu. Mau izin gimana coba? Huks. Sedihnya asli banget loh, 100% sedih.

Sebenarnya aku udah lamaaa bangeeet gak pegang bola basket, hampir 3 tahunan kayaknya. Tapi gak tahu kenapa, aku seneng kalo megang bola basket. Walaupun drible ele banget, shooting jarang banget masuk, rebound keteteran, de es be. Tapi aku suka banget sama basket. Dan tahun ini ketika kupikir ada kesempatan untuk nostalgia sama basket, ternyata terhalang saudara2.

Aku kangen ngasih semangat temen2 yang lagi tanding di lapangan, aku kangen ngasih minum ke mereka waktu break, aku kangen ngasih semangat dan pujian ke mereka waktu tanding, aku kangen teriak2 di lapangan minta bola, aku kangen rebutan bola pas mau rebound, aku kangen pengen pake kostum, aku kangen dengerin arahan dari pelatih waktu tanding, aku kangen diteriakin pelatih waktu tanding, aku kangen diteriakin sama kapten waktu tanding, aku kangen dengan suasana penuh kebersamaan itu. KANGEN BANGET, SERIUS!

Apalagi kalo tandingnya dalam satu jangka waktu, pergi bareng, nginap bareng, cari makan bareng, tanding bareng, menang bareng, pulang bareng. THAT'S SO SWEET!!! Awalnya aku pikir SMC tahun ini bakalan jadi momen nostalgiaku waktu ikutan POPDA dulu, seruuu banget, asliii. Ternyata, koas dimajukan jadwalnya saudara2, 10 Februari! Syediiiiiih banget, gak bisa ikutan mereka SMC. Huks~

Tadi aku masih ikut latihan, walaupun nama aku udah fix dicoret dari tim cewek FK Unlam. Yah, hitung2 refreshing sebelum koas. Basket itu menyenangkan saudara2, sangat menyenangkan, walaupun sekali lagi aku tekankan aku gak jago sama sekalipun. Tapi aku senaaaang. Aku senang lihat mereka game, lihat mereka three point, lihat mereka lay up nyusup2 gitu, lihat mereka gagah banget pas rebound, ahhh keren lihatnya. Apalagi kalo ikutan kan, lihat aja seneng. Huaaa.

Oia, tadi aku ngobrol2 sama Bang Hajri, pelatih tercinta kami, pelatihku sejak SMP. Beliau bilang kalo aku habis DBL 2009 kemaren seakan2 hilang ditelan bumi, terus belakangan ini tiba2 muncul kayak bangkit dari kubur! Hhahaha. Lucu juga istilahnya, ditelan bumi terus bangkit dari kubur, jadi ingat yaumil akhir nanti, semua akan dibangkitkan lagi untuk ditimbang amalan2 semasa di dunia. Eh, kembali ke laptop. Kalo dipikir2 bener juga perkataan Bang Hajri, aku kayak mayat hidup gitu, tiba2 ngongol, terus ikut latihan lagi, dan bisa ditebak betapa jeleknya permainanku sekarang. Shooting susah banget masuk, pas defense bingung, pas nyerang apalagi, hhaha. Tapi gak tahu kenapa, ada kerinduan yg mendalam gitu sama basket (oke, aku akui ini alay dan lebay, hhaha)

Dulu itu memang janjinya DBL itu kali terakhir aku main basket, soalnya sudah diwanti2 sama ortu buat fokus sama sekolah dan harus mengurangi 1 ekskul yang aku ikuti. Sebenarnya aku ini orangnya berprinsip, artinya ketika aku memilih untuk masuk di suatu komunitas, maka aku setidaknya harus memberikan sumbangsihku ke komunitas itu, dan harus bener2 serius di dalamnya. Misalnya, waktu SMA aku ikut pramuka, ya aku harus terpilih jadi regu andalan sekolah, ikut lomba2, ikut jambore, nyumbangin piala dan penghargaan buat sekolah. Sama juga halnya dengan basket, sejelek apapun aku main, tapi aku punya prinsip kalo aku harus bisa memberikan sesuatu untuk basket sekolah. Paskib juga gitu. Aku tipikal orang yang gak mau setengah2, alhasil jadi anak yang aktif banget di 3 ekskul itu. Masuk SMA, ortu ngasih saran ke aku supaya ngurangin 1 ekskul dari 3 ekskul yang bener2 aku minati itu. Pramuka? Udah gak minat lagi sebenarnya, karena ada masalah besar yg bisa dibilang bikin aku down banget di pramuka, tapiiii tahun pertama SMA itu wajib ikut pramuka, otomatis itu gak bisa dimasukkin hitungan. Sebagai gantinya, aku pilih ekskul ROHIS, emang udah niatan dari lulus SMP, mau ikut rohis, memperluas wawasan agama, soalnya waktu itu lagi di puncak2nya kesadaran bahwa Allah itu sayang banget sama aku, hiks. Paskib? Ini apalagi, ada target yang harus aku capai pas SMA, aku pengen jadi PASKIBRAKA, tingkat kota sekalipun gak masalah, maklum aku termasuk hitungan "orang yang pendek dan bantat" kalo di paskibra. Hhaha. Jadi, paskib pun gak bisa dilepas. Dan pilihan akhirnya jatuh ke basket, akhirnya aku vakum basket setelah ikutan tanding basket HUT Smansa dulu sebelumnya.

Syedih sih, tapi gak tau juga kenapa bisa memutuskan untuk bener2 vakum dari basket. Sebenarnya alasannya juga terkait dengan satu momen yang bener2 mengubah diri aku waktu itu, momen yang bisa diibaratkan gini:
"Saat aku terjatuh, bukan terjatuh, tetapi menjatuhkan diri sendiri ke dalam jurang yang dalam, yang di bawahnya sudah menanti batu2 tajam dan serigala. Saat aku tanpa sadar menjatuhkan diri, di tengah tebih jurang, tiba2 aku tersangkut di dahan kecil nan rapuh. Setengah jalan lagi, aku mungkin akan bersimbah darah karena batu2 tajam dan menjadi santapan serigala itu. Tetapi Allah itu Maha Baik, kawan. Tiba2 saja terjuntai tali dari atas jurang, terjuntai dari seberkas cahaya terang dan menyilaukan, membuatku akhirnya menggenggamnya, hingga akhirnya aku ditarik keluar dari jurang itu. Tali cinta dari Allah, menyelamatkanku dari dasar jurang yang gelap itu."

Secara gak langsung, momen itu terkait sama basket. Dan WAKTU ITU (waktu itu loh ya), setiap kali main basket, ya teringat dengan momen itu. Jadi, akhirnya vakum dari basket jadi pilihan utama waktu itu, sekalian melupakan segalanya.

Tapi, yang namanya cinta itu, emang gak bakalan lama, pasti balik lagi. Setelah 1,5 tahun vakum, pertengahan tahun 2009 aku diajakin main lagi di DBL. Waktu itu aku nolak, karena aku sebenarnya pengen teguh gitu sama keputusanku buat vakum basket (aneh kan yaaa), terus pelatih waktu itu ngejanjiin gak bakalan ngajak tanding lagi setelah DBL, ini yang terakhir, kata beliau. Okeh, tapi aku masih nolak, soalnya gak ada temen di tim yang  kerudungan. Hingga akhirnya temen2 yang lain ngejanjiin bakalan nyari 1 orang lagi yg kerudungan buat dimasukkin tim. Oke, akhirnya aku main lagi. Pasca DBL, aku bener2 menghilang lagi dari basket. Sampai masuk kuliah di FK, palingan cuman disuruh tanding basket antar prodi pas diesna, terus MBL 2011, udah, habis itu gak ada lagi main, bener2 vakum, hingga akhirnya kerinduan itu muncul lagi. Ikut latihan lagi, ikut seleksi SMC, dan aku pikir ini akan menjadi momen yang sangat menyenangkan. Ternyataaa...

Well, Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Toh, ikutan latihan basket aja iu udah lebih dari cukup, bisa mengobati kerinduanku sama basket. Tapi, ya itu tadiiii, gak tahu kenapa nyesek aja gak bisa ikut SMC. Suasana pertandingan, kebersamaan, kekeluargaannya itu loh yang dicari2. Hiks, belum rezeki tampaknya. Tapi kalo dipikir2, kapan ya bisa merasakan momen2 seperti itu lagi. :')

Kebersamaan, satu kata yang terlihat simpel, tapi maknanya daleeeeemmmm banget. Satu kata yang selalu kutulis dalam kolom "Hal yang paling disukai" di biodata2 alay zaman dahulu. Satu kata yang selalu kucari dalam setiap komunitas yang aku masuki. Satu kata yang memiliki berjuta makna, hingga membentuk sebuah keluarga baru yang menyenangkan. Yeah, kebersamaan.   Bahkan dalam bait doaku terkait koas, aku selalu memohon sama Allah supaya dikasih kelompok koas yang punya rasa kebersamaan yang super, tak terkalahkan sama duka2 di koas, gitu deh, hhaha.

Kayaknya postingan kali ini bener2 campur aduk ya, dari batalnya ikut SMC, nostalgia ekskul sama sekolah dulu, jadwal koas yang dimajukan, momen bersejarah yang mengubah cara pandang hidupku, indahnya kebersamaan, dan semuanya.

Menulis memang melegakan ya. Sebagai penutup, aku doain semoga tim cowok-cewek FK Unlam bisa jadi juara ya di SMC 2014 ini!!! Harus juara!!! Insya Allah, aamiin.

Mangat! :')

Oh ya, seneng juga bisa ikut latihan basketnya, bisa dapat kenalan2 baru dari berbagai prodi dan angkatan, adik2 yang menyenangkan... :D

Yeeeeaaaaayyy...

-Nisrina Naflah-

18 Januari 2014

Pasca Daurah

Assalamu'alaikum.
Salam sabar, syukur, ikhlas selaluuuuu.

Hey, tadi aku ikutan daurah pernikahan loooh. Harusnya sih tadi itu jadwal lyqa, tapi tiba2 tadi pagi jadwalnya diganti jadi ikutan daurah pernikahan. Mana di sms'nya itu ditulis, "khususnya yang belum menikah." Aku langsung merasa terpanggil, hhaha.

Sayangnya pas tiba di sana, udah kelewat 3 materi. Jadi cuman sempat dengerin materi terakhir tentang apa saja yang harus disiapkan untuk menikah? (hayyoooo, yang ngebet nikah pasti kebelet banget pengen tau, hhaha)

1. Kekuatan ruhiyah
Yaaa, udah tau kan ya.. Up grading keimanan itu wajib kudu harus dijalanin, apalagi buat persiapan nikah. Bagaimana cara menjadi istri yang luar biasa, ibunda yang oke punya. Cara membangun rumah tangga, mendidik anak, menyenangkan hati suami, semuanya memerlukan kekuatan ruhiyah yang super.

2. Kekuatan pikiran
Ustadznya sih merekomendasikan buku Tamannya Orang2 yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu. Dimana ya beli bukunya? Hhaha. Kata beliau sih, kelar baca buku ini langsung ngebet nikah dan merealisasikannya, gak sekadar ngebet doang. Kekuatan pikiran ini terkait bagaimana kita menyusun rencana2 untuk pernikahan kelak. Kapan mau menikah? Tanggal berapa? Mau membangun keluarga yang bagaimana? Mau punya anak berapa? Kalo aku sih pengen punya anak minimal 4 orang, wkwkwk. Terus pengen nikah kapan? 2015! Hhahaha. Tanggal? Hmm. November-Desember lah ya, habis koas, hhahaha.

3. Kekuatan emosi
Emosi harus stabil, gak boleh cepet marah, cepet ngambek, cepet cemburu buta, cepet frustasi, cepet bla bla bla.

4. Kekuatan fisik Kalo ini terkait dengan kesehatan, harus banyak makan buah+sayur. Penting banget supaya keadaan hormonal dalam tubuh normal dan bisa cepet punya keturunan. Keturunan yang insya Allah akan menjadi generasi Islam yang luar biasa. Alhamdulillaah ya, dulu aku keki banget kalo disuruh makan sayur, sekarang malah nyari2 sayur terus. Akhirnya mamah aku lega, anaknya yang satu ini udah bisa makan sayur seperti waktu bayi dulu (apaan coba).

5. Kekuatan ekonomi
Berbisnis lah, ujar si ustadz. Yaa Rabbi, ini nih yang entah kenapa belum nongol juga di diriku. Sebenarnya aku punya banyak banget ide ataupun rencana mau bisnis kecil2an ini lah, itu lah, tapi gak pernah bisa memulai. Jiwaku emang bukan jiwa bisnis, lah gimana dong. Jadi buat kekuatan ekonomi, aku nyoba nabung sedikit demi sedikit aja lah, semoga ntar jiwa bisnisnya bisa muncul. Pengen punya usaha wedding decoration, butik busana muslimah, agrowisata kebun bunga dan buah, kolam renang khusus akhwat, dan banyak sekaliii lainnya. Huwowwwwwwww.

6. Kekuatan sosial
Harus belajar hidup bermasyarakat, interaksi sosial, dan adaptasi. Menikah itu berarti merperluas hubungan keluarga dengan banyak orang. Mertua, kaka ipar, ade ipar, om ipar, tante ipar, sepupu ipar, ponakan ipar, kakek ipar, nenek ipar, segala macam lah, hhaha. Satu kuncinya, berusahalah untuk selalu mencari PERSAMAAN dalam PERBEDAAN, ihhiyyy..

Well, untuk penutup ada sebuah kisah yang diceritakan oleh sang ustadz, cekidot.

Di suatu negara, ada toko yang jualan suami. Peraturan tokonya: ada 5 lantai, di setiap lantai akan ditawarkan para ikhwan2, tetapi setiap berada di satu lantai, tidak boleh lagi turun ke lantai sebelumnya.

Kemudian ada akhwat yg masuk ke toko itu, di lantai pertama akhwat sdah mau masuk ke sebuah ruangan, ternyata ada tulisan, "Di dalam sini ada ikhwan2 yang gagah, tampan, dan rupawan" Si akhwat berpikir, "Wah pasti di lantai selanjutnya lebih keren lagi."

Naik ke lantai 2, di depan ruangan ada tulisan, "Di dalam sini ada ikhwan2 yang gagah, tampan, rupawan, dan sholeh."

Berpikir hal serupa, si akhwat nyoba naik ke lantai berikutnya lagi.

Di lantai 3, "Di dalam sini ada ikhwan2 yang gagah, tampan, rupawan, sholeh, dan perhatian dgn istri."

Si akhwat semakin yakin kalo di lantai selanjutnya ada ikhwan2 yang jauh lebih keren, ternyata benar.

Di lantai 4, "Di dalam sini ada ikhwan2 yang gagah, tampan, rupawan, sholeh, perhatian dengan istri, dan sayang dengan anak2."

"Ihhhh woooooowwww, pasti di lantai 5 ada ikhwan yang lebih sempurna," pikir si akhwat.

Hingga akhirnya tiba di lantai 5, tetoooooot, maaf anda kurang beruntung, di sini gak ada ikhwan sama sekali, silakan pulang dgn helikopter..

Yah, pelajarannya gak ada ikhwan/akhwat yg sempurna di dunia ini, justru ketika bersatu di tali suci pernikahan itulah yg akan menyempurnakan keduanya. Up grading diri selalu~

Jreng jreng jreng.

Kalimat seorang sahabat setelah daurah ini, "Kita sih gak terlalu perlu motivasi ginian, kita sudah termotivasi banget buat nikah. Yang perlu motivasi ini ikhwan2nya tuh. Kita perlunya motivasi untuk memperbaiki diri aja lagi, ya kan?"

Hahahaha. Bisa jadi bisa jadi bisa jadi.

Kuncinya saat ini: "MEMPERBAIKI DIRI"

Wallaahu a'lam.

-Nisrina Naflah-

5 Januari 2014

Muslimah itu Bermacam-macam Karakternya

Tulisan kali ini sengaja dicopas dari dakwatuna.com, membuka pandangan mengenai seorang muslimah. 'Kembali' memastikan jawaban dari pertanyaanku ketika masih menjadi newbie di rohis sekolah, pertanyaan yang cukup dahsyat membuat seorang Nisrina Naflah bingung dengan jati dirinya sendiri. Pertanyaan yang sempat membuat seorang Nisrina Naflah disangka lagi sakit/lagi punya problem dalam 2 hari full. Pertanyaan yang akhirnya terjawab ketika murabbi menyampaikan materi melalui diskusi yang seru dan mencengangkan. Cekidot.

dakwatuna.com - Saya tiba-tiba teringat dengan percakapan bersama adik kelas, laki-laki, waktu di kampus dulu. Tak seperti biasanya, dia yang memulai awal diskusi. Biasanya dia lebih banyak diam mendengarkan. Tampak sekali raut penasaran pada wajahnya.

“Bang, jadi akhwat muslimah berjilbab lebar tu, kalau jalan harus nunduk gitu ya bang? Trus klo disapa gitu ‘cool’ banget. Blum lagi kalau ditanya, jawabnya dikit-dikit, ditanya satu-jawabnya satu,” cerocosnya penasaran memulai diskusi kami.

“Hehehe…nasib ente aje bro, baru ketemu yang begituan. Muslimah itu sama kayak kita-kita ini. Ada yang melankolis, plegmatis, koleris bahkan sanguinis sejati yang bikin ente satu kelas senyam senyum mulu,” terang saya.
“Nah, kebetulan aja,” lanjut saya, “ente baru ketemu dengan para melankolis,”

“Oo, gitu ya bang? Tapi masak sih ada yang beda dari itu. Perasaan sama semua deh,” ujarnya.

“Ente sih, kurang baca sirah (sejarah) nabi dan sahabat. Dari dulu dah ada bro, emang beda-beda gitu, sama kayak kita,” jawab saya
“Dulu itu,” jelas saya mengisahkan, “sudah ada muslimah yang jago bela diri seperti Nusaibah binti Ka’ab yang melindungi Rasulullah ke manapun beliau bergerak dalam perang… mhhmm, koleris banget gak neh? Dan ane pun pernah ketemu dengan yang beginian, karena hobby karate sejak SMP, setiap dia maen volley dan dapat giliran service, tu bola biasanya gak balek lagi, karena sangking kenceng mukulnya… hehe”.

“Baru dengar yang beginian bang…” jawabnya dengan mata membulat (serius dengar atau shock kale ya, wkwk)

“Juga ada yang ketika rapat, klo dah dikasih giliran ngômong, teruusss aja ngomong ngasih pendapat. Hingga lebih dari dua orang bilang ‘cukup…cukup…cukup’, baru berhenti. Itu pun dari awal ngomong suaranya tenor mulu… ckckck… bayangin…tu stamina dari mana coba?” (Hahaha…)
“Atau ente jangan-jangan juga belum pernah dengar ada akhwat muslimah yang pulang mudik sendirian pake motor, lewat pesawangan tengah malam? (soalnya masih single gitu… qiqiqi). Sesungguhnya dia memiliki kepribadian kuat dan pemberani seperti seorang shahabiyah Hani’ binti Abu Thalib.”
“Juga ada yang sanguinis, bawaannya ceria seperti bunda ‘Aisyah RA. Humornya, humor cerdas, tak pernah nyakitin dan merendahkan orang lain, apalagi merendahkan dirinya,”
“Juga ada yang doyan membentak (mungkin juga dengan mata melotot… ini mungkin ya, sebab belum pernah lihat yang sampai melotot… tapi klo membentak ada banyak… hehe), bahkan tertawa terbahak (bukan terbahak-bahak ya) seperti Hafshah Ra…”
“Tentunya, tak ketinggalan yang berkarakter lembut dan keibuan seperti Khadijah RA” terang saya.

“Wahhhh, jadi gak semuanya nunduk dan pemalu gitu ternyata ya bang?” tanyanya dengan wajah berbinar (heran, kok bisa senang gini neh anak? Qiqiqi)

“Ya betul gitu,” jawab saya. “Tapi perlu diingat bro, karakter mereka emang beda-beda, namun memiliki satu kesamaan,”

“Apa tu bang?” tanyanya penuh semangat.

“Apapun karakternya, muslimah yang baik itu, jika kau coba-coba menggodanya, apalagi iseng-iseng menyentuh tangannya… yang pandai bela diri akan langsung pasang kuda-kuda untuk menghantammu bro… atau yang gak pandai bela diri… akan langsung jongkok ambil batu, siap nimpukin kepalamu (reaksi fitrah batu gilingan cabe :p), hahahaha,” tukas saya dengan jenaka.

“Ahh, abang ne ada-ada aja,” jawabnya nyengir.

Ya, begitulah Islam. Islam tak kan menghapus warna-warni nan indah. Ia bahkan memadukannya bersama syariat agar semakin teduh dan sedap di pandang mata.
Saudariku, banggalah jadi muslimah berjilbab syar’i…

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/03/22/29742/saudariku-banggalah-berjilbab-syari/#ixzz2pWUIf356 Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Yeahhhh, karakter manusia memang beda2, dan di situlah letak keindahannya. Siapa bilang muslimah sejati itu harus pendiam, kalem, lemah lembut, dan anggun? Aahhh, kalo aku gitu, ntar bakalan dikira sakit/punya problem lagi kayak kejadian 5 tahun yang lalu, hhaha. Emang yang paling enak itu jadi diri sendiri, tapi harus dalam batasan syar'i. Dan itulah yang sedang kupelajari. Menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

-Nisrina Naflah-

27 Desember 2013

Kelamaan Vakum Itu... Huft!

Alhamdulillaah Alhamdulillaah Alhamdulillaah... Allah itu baik banget, ngasih hidup yg luar biasa buat semua hamba-hamba-Nya.

Berhubung gak ada kerjaan, lagi nunggu obat di praktiknya dr. Asyikin, jadi aku ngepos nih. Baru aja kelar latihan basket, udah berapa lama vakum ya??? 2,5 tahunan kayaknya, terakhir latihan2 sama tanding kecil2an waktu diesna 2011. Habis itu gak ada main basket lagi, paling banter drible2 biasa, nabok bola basketnya ke dinding rumah, udah gitu doang. Itu pun sebelum bola basket di rumah robek, gara2 udah benjol gak ketulungan. Alhasil, terakhir kali main basket alias drible+ngeshoot kecil2an di lapangan basket waktu di JP 2 pas IMO kemaren.

Dan hari ini aku ikut latihan tim basket putri, kebayang betapa jeleknya permainanku hari ini. Cepet tepar, dan saking lamanya gak latihan basket, ada banyak hal yang lupa kuperhatikan.

Yang pertama, sepatu basket. Hey, sekarang aja aku gak tahu gimana nasib sepatu basketku, mungkin udah didaur ulang kali ye. Intinya aku gak punya sepatu basket sekarang, jadi pas latihan tadi cuman pake sepatu yang biasanya aku pake jogging, hhaha. Tabungan lagi miris nih, jadi belum ada niatan untuk beli sepatu basket baru, ntar deh ya, kalo fix, ckckckck --'

Yang kedua, kerudung yang pas buat latihan basket. Hey, pas latihan tadi aku lebih fokus sama kerudungku, "hey kerudung-kerudung, jangan terbang2 pliiiiissss." Aku lupa ngefiksasi bagian bawah kerudungku pake peniti supaya gak terbang2, jadinya gak fokus sama bola. Huks. Udah lama vakum, gak fokus pula, ke laut aja deh Rin.

Yang ketiga, bawa minum yang banyak. Hey, aku lupa kalo ini latihan basket, bukan nonton basket, hhaha. Sebenarnya aku udah bawa tempat minum yang cukup gede (cukup gede kalo cuman dibawa ke kampus buat kuliah doang). Udah lama vakum bikin stamina cepet banget drop, dan alhasil, ha-us-da-ha-ga-ji-wa-dan-ra-ga!!! Minumku udah habis pas latihan baru jalan setengah, yaa Rabbi. Lain kali harus bawa minum pake 10 tempat minum kayaknya.

Yang keempat, BENDA YANG PENTING BANGET BUAT DIBAWA, apa itu? HANDUK!!! Keringatku cetar membahana membabi buta, dan untungnya kerudungku multifungsi, bisa dijadikan lap buat keringat, hiks. Betapa kasihannya.

Hey, sekali lagi aku tekankan aku lagi nunggu racikan obat di praktik dr. Asyikin, sendirian. Dengan peluh yang bersimbah, bau badan yang menyengat, hufttt. Untung bisa ngepos. Dan sekali lagi aku mau bilang, kelamaan vakum ituuuuuuu huft! Menyedihkan, saudara2. Telapak tanganku harus beradaptasi dari awal lagi sama permukaan bola basket, kakiku, tanganku, mataku, jariku, semua anggota badanku, dan itu gak gampang. Tadi itu seriusan jelek banget ah mainnya. Gak fokus, lupa pola nyerang, lupa pola defense, keteteran pas man to man, rebound cemen banget, main bawah apalagi, Yaa Rabbi... Sedih sedih sedih. Aku merasa cemen pake banget nget nget. Huwooo!!!

Tapiiii, berhubung udah libur, jadi aku ikut aja latihannya, masalah gimana ntar, diserahin sama Allah deh, Allah kan Yang Paling Tahu yang terbaik untuk hamba-Nya. Sekalian bakar lemak, hhaha.

Baiklah, postingan selesai, tapi racikan obat belum juga kelar. Mungkin setelah ngepos ini, aku bakalan meneruskan sesuatu yang sempat tertunda hari2 belakangan ini, tenang aku lagi gak bisa shalat Maghrib, jadi libur dulu shalatnya. (Yang nanya siapa ya Rin?) hhahaha. Ingat2, belajar sabar-syukur-ikhlas selalu.. Walaupun hari ini capek dan jelek banget mainnya, tapi aku senaaaang... Makasihhh Yaa Allah, I love YOU!!! :)

-Nisrina Naflah-

26 Desember 2013

Dua Bebek

Alhamdulillaah, alhamdulillaah, alhamdulillaah.
Masih berusaha untuk jadi pribadi yang senantiasa sabar, syukur, dan ikhlas, chayooo!!!

Hey, postingan kali ini sebenarnya telat sih. Mau ngebahas tentang dua bebek. Alkisah, ada segerombolan bebek yang hidup bahagia. Mereka memiliki tempat bermain yang sama, di sebuah kali yang terletak di tengah hutan yang penuh dengan semak belukar yang indah. Segerombolan bebek itu sering sekali bermain di sana bersama-sama. Ber-kwek-kwek dengan riangnya, tentu saja mereka selalu berjalan maupun berenang secara rombongan, bebek jantan dengan bebek jantan, bebek betina dengan bebek betina. Mereka nggak pernah campur baur, soalnya bukan muhrim katanya, hhaha. Di antara banyaknya gerombolan bebek itu, ternyata diam-diam ada yang saling jatuh cinta, tapi mereka hanya diam dan menutupinya. Kata ustadz dan ustadzah bebek, mereka harus diam dan banyak-banyak berpuasa, hhaha. Dua bebek itu pun bertingkah seolah tak ada apa-apa, padahal dalam hati siapa yang tahu? Hanya Sang Pencipta mereka saja yang tahu dan Maha Tahu. Hingga akhirnya kedua bebek itu sudah mulai dapat menjaga hati mereka masing-masing. Tiba-tiba, datang banjir badang saat gerombolan bebek sedang asyik bermain. Hal itu dapat dipastikan terjadi karena penebangan liar yang dilakukan orang-orang kota yang tidak bertanggung jawab di hutan itu. Seenak jidatnya meraup keuntungan dari bumi tanpa muka berdosa. Hey, lihatlah bebek-bebek itu hanyut terbawa arus banjir badang yang sangat besar. Siapa sangka, aliran arusnya membawa mereka ke sungai di sebuah desa. Dan siapa sangka dua bebek itu diselamatkan oleh seorang anak kecil dari desa tersebut. Mereka dirawat dan dipelihara dengan baik.
"Hey, ternyata ini bebek jantan dan betina," ucap si anak tersebut.
"Oh, benar. Kita kawinkan saja, biar bertelur banyak dan kita kembangbiakkan. Sebagian telurnya bisa kita jual ke kota," kakaknya mengajukan sebuah ide.
"Hahaha, iya ya Kak. Pasti anaknya lucu-lucu," sang adik tertawa membayangkan.
Happily ever after, dua bebek itu akhirnya menikah, memiliki banyak telur, dan memiliki banyak anak-anak. Mereka pun bahagia, dunia-akhirat. -TAMAT-
Bwahahahahahahahahahahahahahahaahahahahahaha.

Percaya kalo postingan kali ini tentang cerita dongeng di atas? Hhahaha. BUKAN! Cerita di atas muncul gitu aja pas mau nulis kalimat pembuka postingan kali ini, anggap saja itu adalah "sudut pandang istimewa" seperti yang dibilang Bang Tere Liye. Iseng doang, hhahahaha. Tapi bisa diambil pelajaran tuh, kalo menikah berlandaskan cinta karena Allah itu solusi buat bahagia dunia akhirat (nah lo, mulai lagi kan... Gejolak kepala 2), hhaha.

Well, kita masuk ke topik yang sesungguhnya. Jadi, kali ini aku ngambil judul "DUA BEBEK" itu sebenarnya mau ngasih gambaran tentang, hmmmm, kok rada berat ya bilangnya? Hahahaha. Ya, maksudnya ngasih gambaran tentang usiaku sekarang yang serupa dengan DUA BEBEK aliah 22 tahun! Tua bener yak? Hhahaha. Alhamdulillaah. Banyak banget sih yang dirasain di 20 Desember tahun ini. Ini adalah 20 Desemberku yang kedua tanpa abah, tentu rasanya ada yang kurang. Hey Babeh, anak perempuanmu yang unik ini sudah 22 tahun loh! Hehehe.

Ini foto bareng abah di Kotabaru waktu usiaku genap1 tahun (20-12-1992)

Hal yang beda lagi adalah kondisi kai (ayah dari mamah.red) yang agak berbeda dari 20 Desember tahun sebelumnya. Tahun lalu kai masih sehat, belum kena semacam Alzheimer gitu, bahkan tahun lalu aku masih foto-foto sama beliau, noh fotonya:
Nah, ini foto bareng kai waktu umur 21 tahun (20-12-2012)

Dua hal itu yang rada bikin sedih sih, tapi selain 2 hal itu, aku sangat amat bersyukur atas segala nikmat yang udah Allah kesih ke aku dengan cuma-cuma. Hey, aku masih dikasih umur panjang, masih dikasih nikmat iman, Islam, dan ihsan, diberi indahnya rasa sabar, syukur, dan ikhlas, diizinkan melewati 20 Desember 2013 kali ini sama mamah, Fajar, Adie, keluarga, dan sahabat-sahabat. Kalo ditulis di sini juga gak bakalan bisa menulis nikmat dari Allah yang aku rasain.

Umur dua bebek ini bisa dibilang usia yang dewasa, jadi harusnya gak boleh kayak anak kecil lagi, pecicilan, grasak-grusuk gak karuan, teriak ngakak sana-sini, sombong, takabur, iri, dengki, sotoy, egois, nyakitin hati orang lain, suka telat, suka cari-cari alasan, suka ngeluh, suka ngerendahin diri sendiri, suka ngambek, dan banyak lagi yang lain. Waduh, banyak banget ya yang harus diubah (tuh kan, baru dibilangin, udah ngeluh lagi), hhaha. Dicoba ya, diusahain, diupayain, sedikit demi sedikit, terus memperbaiki diri, jadi hamba-Nya yang luar biasa, yuhuuuu.

Okeh, 20 Desember selalu jadi hari istimewa, karena apa? Banyak sekali bercucuran doa-doa dari semuanya. Dan aku ini orang yang paling suka kalo dapat doa dari orang lain, soalnya aku sendiri banyak dosa (you know what I mean). Lebih-lebih kalo doa'nya itu dipanjatkan diam-diam dalam hati seseorang, tanpa diketahui sedikitpun, soalnya kan hadits bilang kalo“Doa seorang muslim untuk saudaranya (sesama muslim) tanpa diketahui olehnya adalah doa mustajabah. Di atas kepalanya (orang yang berdoa) ada malaikat yang telah diutus. Sehingga setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan, “Amin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu." Cihuy banget kan yaaa.

Berhubung usia 2 bebek ini bisa dibilang usia yang langka (kalo usia 1 bebek, aku belum bisa posting di blogger, kalo usia 3 bebek mungkin gak nyampe kali yah, wallahu a'lam jika Allah yang berkehendak), jadi postingan kali ini akan menampilkan serba-serbi di usia 2 bebekku.

Yang Pertama, bersama mamah-Fajar-Adie. Kita jalan-jalan ke Banjarmasin, nyari sesuatu dan akhirnya dapat! Yeyeyeyeyey, Alhamdulillaah senang. Walaupun rada gimana gitu, tabungan yang rencananya buat nikah 2015 ntar (hahahaha) ludes seketika, yeah harus nabung lagi, go go go! Gara-gara akunya juga yang gak sabaran kemaren-kemaren, kena tipu, ludes deh tabungan. Huks, tapi gapapa, penuh pelajaran! Setelah keliling-keliling kita makan di DM, yang aneh itu si Fajar, dia gak mau mesen apa-apa (biasa lah, takut BBnya naik kali), padahal aku yang traktir loh. Yaudah akhirnya aku pesenin aja makanan yang rada ringan gitu, ujung-ujungnya dimakan juga sama dia, hhaha.

Fajar si Ceking, gak mau makan apa-apa,ckckck

Mamah sengaja foto candid gitu, hhaha. Cantik kok, mah! :*

Adie si cakep aku foto tiba-tiba, jadi gini, hhaha.
Terus kami jalan-jalan bentar, pas lagi nunggui mamah lihat-lihat baju di Shafira, tiba-tiba aku denger pengumuman, "Perhatian, panggilan kepada Rina Purnama Sari, ditunggu kawannya di depan Pizza Hut." Awalnya aku nggak ngeh, pas panggilan kedua aku mulai heran, kenapa namanya sama persis ya sama namaku? Aneh juga, ngapain diumumin segala, kalo itu beneran aku yang dipanggil ya tinggal nelpon/sms aku aja kan? Aku sama sekali gak keGRan. Pas mamah yang denger pengumuman itu, mamah langsung nyuruh aku ngecek dulu ke sana, kali aja beneran aku si Rina Purnama Sari yang dimaksud. Lha, aku bilang aja ke mamah, gak mungkin itu aku, siapa juga yang manggil-manggil aku via mba2 pengumuman itu, lagian nama Rina Purnama Sari itu BEJIBUN di Indonesia, cek aja di facebook atau twitter, banyak banget yang namanya Rina Purnama Sari (hikssss, pasaran). Yaudah, akhirnya kami turun dan nyampe di lt. 1 mamah nyuruh ngecek dulu ke depan Pizza Hut, dan hasilnya? Nihil, gak ada tuh tanda-tanda ada temenku. "Tuh kan mah, bukan Rina." Hahahaha. Untung aku gak keGRan. Mamah masih ngajakin lihat-lihat baju di Ranti lantai dasar. Belum berapa menit di Ranti,tiba-tiba Ditonk nelpon, nanyain lagi dimana. Terus nyuruh aku gak kemana-mana dulu, soalnya mau ngebalikin botol minum aku yang ketinggalan di kampus. Okedeh, kami nunggu di Ranti. Gak berapa lama, tiba-tiba aku lihat Detty sama Yeni lari2, terus masuk ke Ranti sambil pura-pura gak sengaja ketemu aku, hhahahahahaa. Asli muka Detty waktu itu polos banget sambil bilang, "Eh, ada Rinaaaa." Bwahahahahahaha, aku langsung keluar dan bilang "aku udah lihat kok, gak usah pura2 gitu deh Det, muka kamu gak pas aktingnya, hhahaha" Yeni langsung mukulin Detty, lucu. hhaha. Terus tiba-tiba dari arah belakangku datang 2 bidadari bumi (eaaaaaaa, hahahah) si Ditonk sama Nyid bawa cake sama kado. Ahahaha. Terharunyaaa, dan ternyata yang bikin pengumuman tadi itu mereka! Dan ternyata lagi, pengumumannya juga mereka bikin di Solaria dan Gramedia, oh noooo, betapa terkenalnya aku hari itu di DM, ckckckck. Luar biasa ya 4 cewek cantik itu. :')

Ini difoto sama Fajar, sebenarnya 4 kali foto, tapi gak ada hitungannya, jadi 4 foto sama semua gayanya, hiks.  Dari kiri-kanan: Yeni-Ditonk-Mamah-aku-Nyid-Detty. Makasih ya cantik2 kesayanganku. :*
Kue yang ganjil sekali, sejak kapan mereka mau nulis Rina Cantik, ini keajaibaan!

Kejutan belum berakhir di DM, ada yang lebih bikin terharu. Nyampe rumah ternyata di kolong pintu sudah ada kertas yang bertulisan ini:

Ternyata mereka ke rumah pas aku udah pergi ke Bjm, kasihan jauh-jauh dari Bjm ke Bjb, akunya malah gak ada. Maaf yaaa sobat, terima kasih banyak atas 20 Desember 2013nya. :')


Yang Kedua, special greeting cards from my great friends! Ada yang so sweet, ada yang gokil, ada yang gelo, ada yang minta ditabok, ada yang gosip, ahahaha~ But, I love all of them! Really lovely! :')

Ini greeting card pertama yang aku dapat, dari Ditonk sayong, hhaha. Unyu banget doanya, "segera dapat pangeran duani akherat" AAMIIN YAA RABB! :D :D :D Terus apa itu "RINA si Purnama kami yg selalu bersinar walau tertutup kabut malam sekalipun"??? Puitissssss banget, ahahaha. Makasih sahabat sabuuun. :D
Ini dari Piecan alias Epie. So sweet banget ah Epie, theme'nya Eeyore yang aku suka, terus doanya berkaitan sama beberapa poin dari 100 mimpi yang aku bikin, makasih Piecan cantik!
Ini juga dari Piecan. Sama kaya yang sebelumnya, gaya greeting cardnya lembut banget, persis sama orangnya. Mana aku didoain supaya lembut lagi, aaaaah Epie bikin malu aje, hhahaha *ups harus kalem... :)
Nah ini dia greeting card yang gosip banget yaaakkk. Hahaha. Siapa lagi yang bikin kalo bukan Vincan! Ini dari Vina yang ngaku2 kalo Royyan itu anak pertamaku. Ah, kapan nikahnya coba? Tiba-tiba punya anak segede itu, hhaha. Umi Royyan (dr. Siti Wasilah.red) sampai2 heran lihatnya. Aduh, belum izin sama uminya, foto anaknya jadi artis sehari, ckckck. Makasih Vinaaa yang luar biasa :D

Kalo ini bisa ditebak dari siapa, noh liat aja foto kanan bawah, si sobat yang gokil gila gak ada habisnya, yang selalu ketawa bareng kalo ingat segalanya, hhahaha. Kingkin!!! Reaksi aku pas liat ini+baca ucapannya: KETAWA+NANGIS TERHARU! Hhaha. Coba lihat muka eke di sini, yaa Allah cetar banget kan yakkk. Emang si Kingkin kocaknya gak pernah mati sih ya. Makasih banyak Kingkin sayang :*
Nah kalo ini MINTA DITABOK, seriusan. Eh, kenapa bisa si Yusro ini dapat foto hidung vacuum cleanerku itu? Haaaaaah? "Ingat umur udah 22" katanya??? dia sendiri udah 22 tahun 10 hari pas aku genap 22 tahun, ahahahaha. Ini juga bikin ngakak+terharu. Gak nyangka si Unyil yang ahli PSDM ini bikinin greeting card gelo, tapi aku suka banget. Mana backgroundnya kebun bunga matahari lagi. Aaaaaaaa, lovely banget, makasih Yusro sobat 15 tahunkuuu! :D

Rhiesay itu panggilan khusus dari Ghea buat aku, aku pun manggil dia Ghesay. Sahabatku yang manis ini jiwanya juga manis. Aaaaaaaah jadi kangen bareng-bareng Ghea lagi. Ghea yang pernah bilang "Ih lucunya kucingnyaaa, coklat.." dari jauh, ternyata yang dia bilang kucing lucu itu cuman daun kering! Hahahahahaha. Dia waktu itu gak pake kacamata soalnya, hahahha. Ghea Ghea... Makasih banyak Ghesaykuuuu! :D
Greeting card kedua dari Vina, my bestest partner! Entah berapa kompetisi ataupun kegiatan yang bikin kami jadi partner'an. Greeting card ini bikin terharu+kalang kabut. Kalang kabut? Yap, aku merasa kartuku terbuka dengan selebar-lebarnya, ckckck. Semoga gak ada yang sadar ataupun curiga, hhahaha. Makasih Vincaaan :*

Kalo ini dari si cantik Idama. Co cwiiiit banget yaaaa, foto2 waktu SMA pas kami selalu ber4 sama Ghea dan Ara. Hey, kangeeeeeen bangeeeeeet! Btw, itu foto yang tengah rasa-rasanya foto pas aku jadi pembahas di sidang KTI 2 kelompok Dama, hhaha, sok rajin baca buku, padahal itu NOVEL TERE LIYE! hhaha. Makasih Dama sayang, love bgt dah :*

Dan yang terakhir, aaaaawwww cetar membahana badai bgt dah, dari Lia'nya Reno yang tahu banget apa yang aku suka. Bunga matahari dan Toto (gubrak!), hhaha. Syoook lihat greeting card ini, kenapa foto bareng Toto dimasukkin, plus doanya juga, yaa Rabbi. Hahahaha. Lucu banget, so sweet juga. Keren deh, makasih Lia sayang muah!

Yang Ketiga, kado dari ceman-ceman tercincaaa, hwohoho.. Alhamdulillah, dapat benda-benda yang aku perluin, rata-rata serba hijau/kuning, dan bermanfaat insya allah. :')
Pencil case lucu dari sahabat kosabra, Kingkin. Dengan gantungan kunci yang merangkap jadi kartu ucapan, aaaahhh suka banget. Alhamdulillaah dapat kotak pensil buat koas ntar, yeayyy. Maaciiih Kingkin sayang~
Kalo ini mug lucu dari Lia, lucu banget. Warnanya hijau dan ada gambar kucingnya, 2 hal yang aku suka. Dan yang gak kalah pentingnya, kartu ucapannya bunga matahari, yeayyyy. Asyik, dapat gelas baru buat di kos. Makasih pasangan serasi Lia-Reno..

Ini dari dede Nyecan, mukena yang aku suka banget warnanya :') Nyunye ngasihnya tanggal 19 Desember loh, so sweet banget kan yaaa. Maacih Nyecan! :*
Tas yang pengen aku beli! Suka pake banget! Dari Ditonk unyu. Coba lihat, aku juga dikasih buku "Menikah untuk Bahagia", pas buka kado ini mamah sempat heran lantas ketawa. Ada-ada aja, kok buku menikah, kata mamah, hhaha. Wajar, mah. 2015 sebentar lagi loh, hhahaha. Maacih Ditonk! :*
Aaaaaa Ameliaaaa, buku penutup serial anak mamak Tere Liye, buku yang tertunda aku beli karena budgetnya dipake buat keperluan lain, padahal ngebet banget pengen beli. Ternyata dikasih Yeni, aaaaa seneng woy. Love bgt oi. Maacih Yencan! :*
Ayooo tebak ini dari siapa, gak ada kartu ucapannya, hhaha. Lihat, kadonya perpaduan warna kesukaanku, hijau-kuning. Ini dari sobat Chinaku, si Bernadet medhok yang rupawan, hhaa. Ini botol minum yang selalu kulirik dulu, ternyata dijadiin kado dari Nadet. Hand sanitizer minionnya juga lucu, sukaaa. Maacih Nadet! :*
Buku luar biasa dari Nyid si baik hati, keren bukunya! Ada menara eiffelnya... Aaaa, insya Allah bermanfaat, secepatnya akan dibaca. Maacih Nyidcan! :*
Serba hijau dari si cantik Naisya. Jamnya cute banget, dengan jarum warna kuning, dan angkanya warna putih. Pas banget perpaduan warna kesukaanku hijau-kuning-putih. Plus botol minum hijau yang lucu. Sukaaa banget, Maacih Naycan! :*
Aaaaaaaa ini kado terlebar, photo frame ukuran 20x30 dengan gambaran keren, ada siluet akunya di tengah! Dari Ghea yang nitipin kadonya lewat Ditonk. Cool deh pokoknya, suka!!! Maacih Ghesay! :*
Ini dari Vina, hiks. Terharu dikasih tensimeter pegas, buat koas ntar. Manfaat banget insya Allah. Terharu juga pas baca kartu ucapannya. Jadi pengen meluk jarak jauh deh. :') eits, ada rahasia dibalik tanda love yang sengaja aku buat di foto ini, hahahaha. Rahasia tentang 'hati' Vina, penasaran gak? hhaha. Maacih Vincan! :*
Kado luar biasa dari Epie, dua buah buku tebal kumpulan hadits shahih, A;-Lu'lu wal Marjan. Gak nyangka dikasih buku ini sama Epie, awalnya gara-gara status facebook aku tentang "menjadi ibunda yang luar biasa kelak" yang dikomen sama seseorang yang cukup nyelekit sih ya. Tapi ada hikmahnya juga, jadi dapat buku ini hhahaha. Semoga secepatnya bisa baca bukunya sampe habis, manfaat, aamiin. Maacih Piecan! :*

Well, demikian serba-serbi dua bebek di 20 Desember 2013 ini. Terima kasih yaa Rabb atas hidupku yang luar biasa berkesan ini, entah sampai di tahun keberapa aku merasakannya, entah bersama siapa melewatinya, dan entah dengan hal seperti apa mengisinya. Semoga sampai tahun dimana aku memiliki anak-cucu, semoga bersama orang-orang yang mencintai-Mu, dan semoga dengan hal-hal bermanfaat yang menjadikanku hamba-Mu selalu. Semoga senantiasa dapat memperbaiki diri, lebih baik, lebih baik, dan lebih baik lagi. Aamiin yaa Rabb.

nb: postingan ini semata-mata menunjukkan betapa bahagianya seorang Nisrina Naflah di usia dua bebeknya sekarang, tak kurang dan tak lebih :)

-Nisrina Naflah-






15 Desember 2013

Jawaban Atas Lima Keganjilan



Handphoneku berbunyi, ringtone tanda sms masuk. Ternyata sms dari acil (tante.red) Atin.

"Rina esok haur kah nak? Kawa lah menukarkan obat kai?"

Aku sebenarnya heran, gak biasanya aku disuruh beli obat kai (kakek.red). Apalagi yang minta tolong Acil Atin. Biasanya mamah selalu meluangkan waktunya untuk beli obat ke Banjarmasin sekalian menjengukku ke kos, lantas minta ditemani ke tempat praktik dokter. Dan kenapa tumben-tumbennya Acil Atin yang nyuruh? Kenapa gak sekalian mamah aja yang nyuruh? KEGANJILAN YANG PERTAMA.

"Okesip insya Allah, Cil. Kartu obatnya gimana?"

Sebenarnya hari-hari belakangan itu aku sibuk mempersiapkan sidang KTI 2, baru saja selesai konsul revisi KTI 2 pra-sidang. Besok ada ujian blok, terus lyqa, terus mau ngasih undangan & KTI 2 ke pembimbing dan penguji. Dan rencananya aku bakal pulang ke Banjarbaru sorenya. Kebayang capeknya, dan kalau aku beli obat buat kai, dapat dipastikan aku bakalan pulang malam. But, it's okay. Gak masalah lah pulang malam, yang penting enjoy. Kapan pun itu, perjalanan pulang selalu menyenangkan, dan ketika sisi ban motormu sudah bergulir di halaman rumah, semua capek pasti hilang seketika. Trust me. :)

Keganjilan selanjutnya adalah ketika handphoneku berbunyi lagi, kali ini ringtone hape yang menandakan ada panggilan masuk. 'My Lovely Mom" tertera di layar hape. Ah, senangnya dua hari belakangan ini mamah gak ada nelpon, aku cuman smsan sama beliau. Dan setelah kuangkat, yang terdengar adalah suara Acil Atin. Hey, ke mana mamah? Ditanya pun Acil Atin hanya menjawab, "ini ada ay mamah di samping Acil. Sudahlah, Nak. Semoga lancar KTInya? Ujian tadi lancar aja lo? Rina jangan terlalu mikirin macam-macam lah." KEGANJILAN YANG KEDUA.

Besok harinya, pagi-pagi sekali sebelum berangkat ke kampus, aku baru sadar pulsaku habis dan gak isa nelpon mamah. Alhasil, aku cuma ngesms mamah, seperti biasa minta doakan ujian blok dan segala aktivitasku yang akan kukerjakan hari itu. Lagi-lagi KEGANJILAN YANG KETIGA. Mamah nggak nelpon balik. Ah, mungkin mamah lagi jogging atau ke pasar pagi dan hapenya ditinggal di rumah. Nanti pasti smsnya dibaca.

Ujian blok pun dilalui dengan sumringah, HEY INI UJIAN BLOK TERAKHIR DALAM 3,5 TAHUN INI, YEAY!

Sorenya aku pergi ke praktik dokter untuk membeli obat kai. Kai kena penyakit sejenis Alzheimer yang memerlukan obat yang harus dikonsumsi jangka panjang. Karena kai ada di Barabai, jadi obatnya selalu dibeli dalam jumlah yang cukup banyak yang cukup untuk 1 bulan. Jenis obat yang digunakan pun banyak sekali, semuanya digerus dan dibagi-bagi dalam kapsul yang cukup besar. Kadang aku sedih lihat kai harus minum obat dengan kondisinya yang sudah mulai melemah, tapi Alhamdulillah kondisi beliau berangsur membaik.

Ternyata keberuntungan berpihak padaku, antriannya pasiennya tidak terlalu banyak. Tapi tetap saja, aku harus duduk menunggu di tempat praktik dokter itu selama 1,5 jam. Waktu yang cukup panjang, membuat bosan. Alhasil, aku baru bisa pulang jam 6 sore saat langit mulai berubah menjadi jingga. Cantik sekali langitnya, adzan Maghrib berkumandang saat aku tiba di Landasan Ulin. Hingga akhirnya, tepat jam 7 kurang 10 menit aku tiba di rumah dengan KEGANJILAN YANG KEEMPAT yang sudah menanti.

Aku masuk ke garasi dengan perasaan yang bertanya-tanya. Maghrib-Maghrib begini kok motor mamah gak ada? Mamah pergi kemana? Lembur di kantor? Atau ke rumah Acil Atin? Atau ada kerjaaan dadakan? Adie yang membukakan pintu masuk dari garasi langsung kusodori dengan pertanyaan atas kebingunganku.

"Die, Mamah ke mana?"

"Ada ay di rumah."

"Lho, motor mamah di mana?"

"Masih di kantor mamah ka, bekas jatoh kemaren."

Dalam hitungan sepersekian detik aku langsung kaget+marah+kecewa+bingung dan entahlah apa. Jatuh? Siapa yang jatuh? Motornya? Atau motor dan mamah? Kenapa aku gak tau? Kenapa aku baru tau? Ada apa sebenarnya?

"Hah? Jatoh apanya? Kenapa Die? Apa yang jatoh."

"Lho, kakak belum tahu kah?" (plisss, muka Adie polos banget, padahal sebenarnya dia tau kalo aku gak tau)

"Jahat ah, kakak kada dikabari!" (mewek, masuk rumah, lihat mamah masih sholat, langsung ke kamar, nangis)

Fajar, adikku yang pertama menghampiri ke kamar. Aku langsung nanya kejadian sebenarnya apa? -Mamah jatoh sama motornya di deket kantor- Aku langsung marahin dia, kenapa aku nggak dikabarin? -Dia diem, sambil bilang kata mamah gak usah bilang ke kak Rina- NGIK! Rina gak usah dikabarin gitu? Aku tambah nangis, kenapa mamah kecelakaan gak ada satu orang pun yang ngabari aku? HAH? ANEH!

Aku sadar, saat itu perasaan aku udah kaya kena tsunami plus gunung meletus plus badai angin topan. Langsung aku ambil air wudhu, dan sholat Maghrib dengan pintu kamar yang terkunci. Baru aja aku rakaat 2, pintu kamar diketuk dari luar. Mamah!

"Nak, buka pintunya Nak..."

Aku masih sholat, sambil nangis.

"Nak, buka pintunya Nak..."

Berulang-ulang mamah mengetuk pintu dan melontarkan kalimat serupa. Aku mencoba menyaringkan suara agar mamah mendengar kalo aku masih sholat, tapi nggak bisa, suaraku serak.

"Nak... (suara mamah bergetar), buka pintunya Nak, mamah minta maaf Nak, mamah nangis nah, Nak."

Lagi-lagi aku mencoba menyaringkan suara agar mamah mendengar kalo aku masih sholat, tapi nggak bisa. Gak ada suara yang bisa keluar, yang ada malah air mata yang tumpah dalam sujud terakhirku.Ketukan pintu dan suara lirih mamah menghilang, hingga akhirnya salam kulafadzkan. Aku melantunkan doa favoritku sebentar, lantas membuka pintu kamar dan berlari ke ruang tengah dengan mukena yang masih terpasang.

"Mamaaaaah..."

Mamah tersenyum dengan mata berkaca, kupeluk tubuh wanita yang paling kusayang itu, wanita super itu, wanita tegar itu, wanita luar biasa itu. Kupeluk erat sekali, takut kehilangan. Sesekali dalam isakan, kutanya kenapa aku gak tau kabar itu. Kenapa gak cerita. Kenapa gak ada satupun yang ngabarin aku. Kenapa? Rina gak penting? Rina orang lain dalam keluarga ini?

"Nak, dengarkan mamah. Mamah sayaaaaang banar sama Rina. Sayaaaaaaang banar. Kami semua sayang Rina."

Aku semakin terisak. Hey! Aku juga sayang mamah! Sayang banget! Emang enak gitu rasanya gak dikabarin ada berita buruk gini? Mamah kecelakaan, aku gak dikabarin? Hey! Aku sayang banget sama mamah! Aku gak mau mamah kenapa-kenapa! Aku gak mau kejadian itu terulang lagi (peristiwa ketika abah dipanggil Sang Maha Kuasa-nanti akan ada di postingan selanjutnya.red). Kalo sayang aku, harusnya mereka ngabarin aku dong. Ini adalah KEGANJILAN YANG KELIMA.

"Iya Nak, mamah tau Rina sayang banar jua lawan mamah. Yang penting kita harus bersyukur, Nak. Allah masih ngasih mamah rezeki hidup, umur yang panjang, mamah masih ada di sini kok, mamah kada kemana-mana. Bersyukur lah sayang."

Aku tambah mewek, pelukanku tambah erat.

"Mamah cuman luka-luka, Nak. Kadada yang patah, untung pas mamah jatuh kadada mobil di belakang mamah. Allah masih memanjangkan umur mamah, Nak."

Aku langsung melepas pelukanku dan menyoroti tubuh mamah dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tampak beberapa luka lecet di kedua tangan dan kaki mamah. Dan, hey! Bibir mamah bengkak, mamah masih tersenyum simpul lantas bilang, "Allah cuma ngambil gigi mamah, nih hilang 1." Mamah mengembangkan senyumnya hingga terlihat gigi yang sudah tanggal 1 di depan bagian atas.

Astaghfirullaah, gigi mamah sampai copot ke akar-akarnya! Aku mewek lagi. Meluk lagi. Nanya-nanya masih ada yang sakit gak? Kepala ada kebentur gak? Bagian dada sama perut kena benturan juga gak? Gak ada muntah kan? Di punggung gak ada sakit-sakit kan? Kaki & tangannya bsa digerakin semua kan? Mamah ketawa renyah. SUBHANALLAH! Di saat yang seperti itu, wanita luar biasa ini masih saja bisa tertawa, bersyukur, dan berpikir positif? Sungguh malu aku jadi anaknya, masih banyak sekali hal-hal yang patut kucontoh dan kupelajari dari hidupnya, super mommy!

Mamah kemudian bercerita tentang kronologi kejadian, menceritakan betapa bersyukurnya mamah, menceritakan bagian mana saja yang lecet. Tangan kiri mamah yang masih kaku untuk digerakkan. Bibir tengah mamah yang pecah atas-bawah dan luar-dalam. Dan yang pasti, bercerita tentang gigi yang tercabut sampai ke akarnya, bercerita bahwa dokter gigi bilang kalo gigi yang copot itu jika masih kurang dari 45 menit, masih bisa disterilisasi dan ditanam ke gusinya lagi. Sayangnya, mamah dibawa ke IGD yang notabenenya gak ada dokter gigi di sana, dan akhirnya mamah harus ompong gitu. Mamah tertawa, membuat aku dan adik-adikku ikut tertawa, menggoda.

Hingga akhirnya sampai pada bagian yang sesuai dengan judul postingan kali ini. Jawaban Atas Lima Keganjilan. Mamah bilang sebenarnya mau nelpon Rina, ngabarin kalo mamah kecelakaan dan masuk IGD. Tapi atas pertimbangan beliau dengan acil Atin, aku gak usah dikabarin dulu, soalnya lagi sibuk nyiapin KTI 2 sama ujian blok. Takut kalo aku jadi panik dan ngebut ke Banjarbaru, dan malah akunya yang kenapa-napa. Iya juga sih, soalnya aku tuh kalo panik+sedih+gugup bisa gak fokus gitu, mana aku ini suka ngebut kalo ke Banjarbaru. Jadinya ya gak dikabarin dulu, biar tau pas pulang ke Banjarbaru aja. Lagian sejak mamah kecelakaan, mamah masih susah banget ngomong karena bibirnya yang pecah dan luka di lidah, jadi gak ada nelpon aku, cuma balas sms doang.

"TAKUT RINA KENAPA-NAPA, TAKUT RINA GAK FOKUS DAN KONSEN SAMA KTI 2 DAN UJIAN BLOKNYA, TAKUT RINA BLA-BLA-BLA."

Masya Allah mamah, gitu doaaaaang. Apalah artinya KTI 2 sama ujian blok kalo dibandingin sama mamah. Detik itu juga aku mewanti-wanti mamah supaya selalu ngabarin aku apapun yang terjadi. Gak peduli aku lagi ujian kek, lagi ngapain kek, pokoknya harus dikabarin! Terlebih dari itu, aku berterima kasih karena udah khawatir minta ampun sama aku. Gak berapa lama kemudian, Acil Atin datang sambil mewek minta maaf sama aku, aku yang baru selesai mewek, jadi mewek lagi. Dan penjelasan Acil Atin melengkapi jawaban dari empat keganjilanku.

"Rin, Fajar-Adie jangan disariki lah. Itu Acil yang mengancam bagiannya supaya kada mesms/menelpon Rina tentang keadaan mamah."

Hahaha. Aku langsung mendorong bahu ade-adeku, dan minta maaf udah marahin mereka di awal. Habisnya kesel banget, mamah kenapa-napa aku gak dikabarin. Gimana sih, bisa jaga mamah gak sih! Hahaha. Mereka akhirnya ngetawain aku. "Serem ah, datang langsung marah-marah, lucu, hhahaha." Oi, anak-anak muda itu tidak tahu takut+sedih+kecewa+campur khawatir itu gimana rasanya. hhaha.

Terkadang, yang perlu kita lakukan dalam menghadapi rentetan mozaik kehidupan, baik ataupun buruk, hanyalah dengan berusaha. Berusaha? Yap, berusaha untuk ikhlas, sabar, dan bersyukur. Terlalu banyak hikmah-hikmah yang berceceran, yang dapat kita pungut satu per satu hingga membentuk senyuman yang tulus, seburuk apapun mozaik kehidupan itu datang. Tetaplah tersenyum, penuhi hatimu dengan ikhlas, sabar, dan syukur. Semua pasti yang terbaik dari-Nya.

Dan untuk beberapa keganjilan yang kita temui dalam hidup, biarkan waktu terbaik yang akan menjelaskannya dengan bijaksana. Menciptakan pemahaman yang tulus, menyadarkan pemikiran yang menyimpang.

Ikhlas. Sabar. Syukur.

Dan satu lagi quote penutup dari Darwis Tere Liye:
"Jika kau tahu sedikit saja apa yang telah seorang ibu lakukan untukmu, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian."

(NB: Cerita ini terjadi pada tanggal 29 November 2013, di saat langit senja yang jingga itu menambah rasa syukur dan kecintaanku pada-Nya, Allah yang Maha Besar)

-Nisrina Naflah-

16 Oktober 2013

Kebayang Gak Sih? Selamat Idul Adha! Selamat Milad Mamah!

Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Allah swt. masih ngasih nikmat umur panjang sampai Idul Adha tahun ini. Walaupun tanpa abah, mudah-mudahan rasa syukur ini gak akan hilang dari hati. Mudah-mudahan dari perayaan Hari Raya Kurban ini semua umat Muslim di dunia bisa memetik hikmah yang terkandung di dalamnya. Tentang keimanan yang mendalam kepada-Nya, keimanan yang takkan mampu ditukar dengan kenikmatan lainnya. Meneladani sikap Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail yang sungguh luar biasa. Kebayang gak sih kalo kita yang ada di posisi beliau-beliau itu? Jamin, gak bakalan bisa seikhlas dan seluar biasa itu. Subhanallah.

Yeayyy! Hari ini lagi-lagi Allah swt. memberikan kepingan mozaik kehidupan yang super dalam hidupku. Allah swt. itu selalu mendengar dan mengerti dengan keinginan hamba-Nya, dan senantiasa memberikan apa yang diminta hamba-Nya selama itu memang yang terbaik di mata-Nya.

Alhamdulillaah, tahun ini aku bisa berkurban. Dapat arisan di RT, sama 6 orang tetanggaku. Tujuh orang berkurban 1 ekor sapi. Walaupun bukan atas nama individu/keluarga sendiri, tapi aku bersyukurrr banget. Alhamdulillaah. :’)

Alhamdulillaah, hari ini mamah nambah umur, sudah 51 tahun beliau hidup di dunia milik Allah swt ini. Menjadi mamah yang luar biasa, yang selalu ngasih inspirasi ke anak-anaknya, dan berjuang demi ketiga anaknya, terlebih ketika status single parent itu hinggap di pundaknya. :’)

Alhamdulillaah, aku bisa ngasih kado ke mamah. Yaaa walaupun cuma tas yang sederhana (mamah emang suka yang sederhana dan simpel, sama seperti kepribadiannya yang gak neko-neko) dan sepucuk kartu ucapan. Tapi itu semua bisa mencetuskan airmata haru antara kami. :’)

Awalnya seru gitu, pas ngasih kado, terus dibuka sama mamah. Mamah seneng banget dapat tas. Eeeh, giliran lihat kartu ucapannya, mamah gak bisa baca tulisannya karena lagi gak pake kacamata. Mamah malah nanya foto-foto yang ada di kartu ucapannya. “Ini foto waktu kapan, Rin?” “Loooh, ini foto kita berlima pas kapan?” Pokoknya cuman bisa lihat+komen foto-foto yang ada di kartu ucapan itu. Adie langsung ngambilin kacamata mamah, dan jeng jeng mamah baca ucapan alias doa yang kutulis di kartu ucapan itu. Eh, pas baca mamah diemmm, aku jadi bingung. Dan pas selesai baca, mamah langsung terisak gitu. Aaaaaaaa, aku ikutan nangis terus kita pelukan lamaaaaaa bangeeeeet. “Rina sayaaaaaaang banar sama mamah... Mamah jangan nangis, mamah jangan sedih, semangattttt!” Aku terisak-isak sambil ngelus punggung mamah pas pelukan. SEDIHHHH BANGETTTT! Rasanya semua gambaran perasaan mamah itu nyalur ke perasaan aku. Aku tahu apa yang ada di benak mamah, mamah yang selalu termotivasi untuk terus kuat demi ketiga anaknya. Tuh kan, aku berkaca-kaca lagi nih nulisnya.

Aku ingat, sangat ingat tentang momen itu. Momen di saat kudapati jasad abah yang sudah terbujur kaku menghadap kiblat di rumah ketika aku datang. Kupeluk, kuminta ampun, kumohonkan ampun, kudoakan, kuusap wajahnya, kuratapi kenapa beliau pulang kepada-Nya terlalu cepat? Lantas kucari mamah, memeluknya erat sambil terisak. Bertanya “Mah, kenapa abah mah? Kenapa? Kenapa abah harus pergi duluan? Rina belum jadi anak yang membanggakan, Mah. Rina belum lulus kuliah. Rina belum jadi dokter. Kenapa, Mah?” (pertanyaan yang sebenarnya aku sudah tahu jawabannya, dan entah kenapa waktu itu tetap kulontarkan ke mamah).

“Nak, coba dengarkan mamah. Kita semua milik Allah, Nak. Mamah milik Allah, Rina-Fajar-Adie milik Allah, Abah milik Allah, semua itu sejatinya milik Allah. Jadi, kapanpun Sang Pemilik Sejati ingin mengambil yang dimilikinya, maka diambillah. Dan sekarang abah yang diambil duluan. Allah tahu kita kuat, Nak. InsyaAllah mamah kuat. Kita pasti kuat.” Mamah dengan nada lembut menjawab lontaran pertanyaanku, menyejukkan, menenangkan. Seharusnya aku yang menenangkan beliau, beliau yang ada di samping abah saat sakaratul maut, mendampingi suaminya hingga nafas terakhir, pasti lebih terpukul daripada aku. :’)

Usai mendengar jawaban dari mamah, aku langsung bilang, “Pokoknya mamah harus kuat. Mamah harus sehat. Mamah harus panjang umur. Mamah harus lihat Rina-Fajar-Adie sukses jadi orang. Mamah harus ada nanti.” Entahlah, perkataan itu spontan keluar dari mulutku pas meluk mamah waktu itu. Yaa Rabbi, berat banget rasanya. :’)

Mamah menjawab perkataanku dengan sebuah janji. Janji untuk kuat, janji untuk sehat, janji berjuang untuk ketiga anaknya. :’)

Itu yang jadi motivasi mamah sekarang. Motivasinya untuk kerja, banting tulang nyari nafkah buat kami. Motivasinya untuk sehat, jalan pagi tiap 2 hari sekali. Motivasinya untuk kuat, membaca Al-Qur’an 1 juz setiap hari dan dzikir-dzikir lainnya. Dan motivasi-motivasi lainnya yang selalu membuat beliau terlihat semangat. Isak tangis yang selalu kudengar di setiap 1/3 akhir malam, yaa Rabb sayangilah mamah, bahagiakan mamah dunia akhirat, aamiin yaa Rabb. :’)

Semoga aku-Fajar-Adie bisa jadi anaknya yang membanggakan. Jadi anak yang sholeh-sholehah. Jadi anak yang bisa mengantarkan mamah-abah ke surga. Aamiin yaa Rabb.

Kebayang gak sih, kalo berada di posisi Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail?? Gini aja aku udah merasa sedihhhhh bangeeeeetttt, apalagi jadi mereka. Perlu keimanan dan keikhlasan yang sangat dalam untuk bisa demikian. Subhanallah.



Kartu ucapan alias doa buat mamah tersayang :')
Kasih kadooo.. Difoto sama Adie :')
Cium pipi mamah dulu :'D
Cium pipi Rina jugaaa :'D
Mamah lagi buka kado... :'D
Mamah lagi 'lihat' kartu ucapannya, belum pake kacamata, jadi gak bisa baca tulisan doanya, baru bisa komen foto-fotonya, hhaha.. :'D

Beruntungnya aku terlahir dari rahim seorang ibu luar biasa sepertinya. Luar biasanya hidupku dapat melangkah dengan kawalan doa darinya. :')

-Nisrina Naflah-