15 Juni 2016

Sadar

Sekarang bener2 menyadari satu hal...

Bersyukurlah dengan apa yang kamu dapatkan, sekalipun jika kamu memandang apa yang dimiliki orang lain terlihat jauh lebih baik dari apa yang kamu dapatkan....

Qana'ah... Merasa cukup lah...

Karena bisa jadi ketika kamu tidak bersyukur dan melepas nikmat itu begitu saja, ternyata setelah beberapa langkah kemudian kamu tersadar, bahwa nikmat yang "pernah" kamu dapatkan dulu itu benar2 nikmat yang luar biasa dahsyatnya...

Dan sekarang mari bersyukur, jangan lupa qana'ah, rasakan nikmatnya :')

-Nisrina Naflah-

14 Mei 2016

Kutipan Buku Genap

★ AKAD NIKAH ★

Izinkan aku memulai cerita ini dari sepenggal akad yang kamu ucapakan di pelaminan. Bukan karena sebelum itu kita tak punya banyak cerita, tapi karena sebelum itu kita tidak saling bertanggungjawab atas diri kita masing-masing. Kamu bukan tanggungjawabku, begitu sebaliknya. Apalah artinya repot-repot menghabiskan pikiran dan perasaan untuk seseorang, yang sebenarnya orang itu bukan tanggungjawabnya kita. Apalah hebatnya berkorban untuk seseorang, yang sebenarnya orang itu tidak layak atas pengorbanan kita. Bukan berarti tak boleh, hanya saja masih ada yang lebih berhak untuk bersemayam dalam pikiran dan perasaan kita, masih banyak yang lebih layak untuk mendapatkan pengorbanan kita; keluarga kita, orang-orang terdekat kita, orang-orang yang selama ini begitu berarti bagi kehidupan kita, mereka-mereka yang memang menjadi tanggung jawabnya kita. Bukan orang lain yang entah siapalah.

Memang sudah selayaknya seorang perempuan menitikkan air mata, ketika seorang laki-laki mengucapkan akad untuk menggenapinya. Bagaiamana tidak, akad adalah prosesi penyerahan tanggungjawab dari orangtua kepada seorang laki-laki. Ketika seorang perempuan mendengarkan akad yang diucapkan laki-laki yang menggenapinya, saat itu juga tanggungjawab berpindah. Bayangkan, perempuan, makhluk yang selalu butuh kepastian mempercayakan dan menitipkan masa depannya pada seorang laki-laki yang belum begitu lama dikenalnya, menggantikan orangtua yang sudah dari lahir membersamainya. Ada rasa bahagia, sedih, khawatir, yang bercampur-aduk dalam satu waktu, yang sangat cukup menghasilkan zat bernama air mata. Akupun mengalaminya. Dan kamu tahu? Selalu ada perempuan lain yang menitikkan air mata lebih banyak daripada pengantin perempuan dalam seremoni sakral itu; perempuan yang biasa aku panggil dengan sebutan mama.

Aku pikir sederhana saja, ibu manapun akan sedih berpisah dengan anak perempauan yang dilahirkannya, dengan anak yang selama ini membersamainya. Tapi ternyata, masalahnya tidak sesederhana itu. Setidaknya bagi mama. Aku baru mengerti betapa rumitnya hubungan itu, betapa sulitnya melepaskan orang yang kita cintai walaupun itu untuk kebahagiaannya, betapa dibutuhkan keikhlasan tingkat tinggi untuk melepaskan peran yang sudah berpuluh-puluh tahun melekat. Dan aku baru tahu belakangan, betapa seorang ibu membutuhkan kesiapan yang lebih untuk menikahkan anak perempuannya, daripada si anak itu sendiri.

Laki-laki yang menggenap masih bertanggungjawab atas ibunya, bakti utamanya masih tetap ibu. Bahkan di beberapa kasus, seorang laki-laki yang sudah menikah, harus mengambil peran sebagai ayah dalam keluarganya. Sedangkan perempuan, ketika ada laki-laki yang menggenapinya, pada saat akad terucap, perempuan itu menjadi tanggungan suaminya, bakti utamanya berpindah dari orangtua ke suami. Hak dan kewajiban seorang ibu otomatis berkurang banyak, saat anak perempuannya menggenap. Dan itu bukan perasaan yang sederhana. Seorang ibu yang belum siap melepaskan anak perempuannya, terkadang tidak bisa mengendalikin diri untuk tidak terlalu mencampuri urusan rumah tangga anaknya, masih merasa punya hak dan kewajiban yang sama sebelum anak perempuannya menggenap. Hak dan kewajiban yang sebagian sudah otomatis berpindah ke tangan suami melalui akad.

→Kutipan Buku Genap, Nazrul Anwar←

30 April 2016

Save This Memory

Nyampah lagi, entah kapan blog ini berubah jadi blog yang agak sedikit lebih bermanfaat, hhaha...

Beres2 lemari, nemu print2an foto zaman purba. Duh, 2 jagoan sekarang udah gede2, dulu masih unyu2, time flies~

*savethismemory*

Kesabaran

★ KESABARAN ★

Dimana lagi kita harus mencari kesabaran, selain di ruang tunggu yang tak berkesudahan? Tunggu yang selalu mengawali satu-persatu kehendak-Nya tiba, tunggu yang antri bergantian untuk mengantarkan kita dari satu takdir ke takdir yang lainnya, tunggu yang setia menunggu. Disuguhinya kita dengan degup-degup kecemasan, dengan binar-binar harapan, dengan serpihan-serpihan kebingungan, dengan bongkah-bongkah keraguan, dengan serangkaian ketidakpastian, dengan kesedihan serta kegembiraan yang silih berganti. Yang semuanya memang harus disantap dengan penuh keyakinan. Keyakinan, bahwa Dia sudah mempersiapkan yang terbaik untuk setiap episode kehidupan kita. Dan tentu saja sesuatu yang terbaik itu, akan didapatkan dengan usaha terbaik juga, harus dihadapi dengan penyikapan terbaik pula. Karena jika tidak, kita tidak pernah merasa kalau itu adalah yang terbaik bagi kita.

Dimana lagi kita bisa memanen kesabaran, selain di ladang ujian yang tak terperikan? Ujian yang seringkali datang tiba-tiba, ujian yang tak pernah terbayangkan, ujian yang sebenarnya selalu ada dalam kehidupan kita. Diparasitinya kita dengan keluh kesah, dipupukinya kita dengan rasa kecewa, disuburkannya kita dengan rasa bersalah, ditanaminya kita dengan rasa sesal, disiraminya diri kita dengan sifat lemah, digoyahkannya hati kita dengan banyak prasangka. Yang kesemuanya bisa kita lewati dengan baik, jika kita punya akar keyakinan yang kuat. Keyakinan, bahwa Dia tidak akan pernah menguji kita dengan beban yang lebih berat dari kapasitas kekuatan kita. Dan jikapun kita sesekali gagal dalam mengemban ujian tersebut, mungkin itu bukan ujian yang sebenarnya. Tapi hanya salah satu cara-Nya untuk memperkuat kita, agar kita bisa lebih siap lagi untuk menghadapi ujian-ujian yang selanjutnya.  

→Kutipan Buku Menata Hati, Nazrul Anwar←

26 April 2016

Tak Terduga

Pernah gak kalian nyusun planning sedetail mungkin, udah yakin bakalan gitu jalan ceritanya, eh ternyata pas di kenyataan yang terjadi jauuuuuh banget dari yang diplanningkan...

Pun demikian dengan impian yang sudah terangkai indah, berharap ini itu nanti, senyum-senyum sendiri nembayangkan, eh ternyata pas terjalani gak sesuai dari yang diharapkan...

Asumsi-asumsi yang bertebaran dalam angan, lantas tersulam jadi ekspektasi tinggi, eh ternyata hanya pikiran abstrak yang dimimpikan...

Berencana ini...
Punya impian itu...
Berasumsi ini itu...

Ah, tetap saja skenario-Nya yang terindah, walaupun saat menjalaninya mungkin kita belum merasakan keindahannya. Mungkin saat detik kemudian, atau menit kemudian, atau jam? Hari? Bulan? Tahun? Selalu ada kesempatan untuk menelaah semua hikmah yang ada, dan biarkan waktu yang menjawab.

Seperti saat ini, terlalu banyak hal2 yang melenceng dari planning, membuyarkan impian, dan menyadarkan asumsi2 berlebihan...

Tak terduga...

Mungkin Allah ingin menegur, agar lebih ikhlas, agar lebih qana'ah, agar lebih mencintai setiap ketetapan-Nya...

Selamat berbahagia. Terimakasih atas pembelajaran2 yang sangat bermakna. Gak pernah nyangka, akhirnya menjadi seperti ini.

:)

-Nisrina Naflah-