21 Januari 2015

Rindu

Berapa lama tak bersua?
Berapa lama persinggungan itu tiada?
Berapa lama rindu tertanam dalam hati?
Tanah yang dipijak padahal sama, tapi kenapa pertemuan itu seakan tak berpihak?
Hey rindu, tolong jelaskan semua.
Mengapa kamu ada dan tak mau pergi.
:)

Saat senandung "Menjadi Diriku" kembali terdengar dalam hati.

-Nisrina Naflah-

9 Januari 2015

Dewasa, Rin

Terlalu banyak orang2 di dekelilingku yang sangat luar biasa.
Mereka penuh dengan pikiran2 cemerlang, dewasa, dan menenangkan.
Penuh inspirasi dan menakjubkan.
Rasanya maluuuuuu banget sama diri sendiri, kok sampai sekarang gak ada dewasa2nya sedikitpun.
Hhahaha.
Tadi barusan pas lyqa aku ngobrol2 sama ade tingkatku di kampus.
Dia ngasih solusi yang dewasa banget, bikin malu sama diri sendiri.
Menyadarkan, meruntuhkan egoku yang terlalu tinggi dibangun.

Dewasa, Rin! Ayolah berpikir dan bertindak lebih dewasa.
Apa jadinya kamu nanti? Kalo gak dilatih dari awal.
Bukannya mau jadi anak mamah-abah yang luar biasa? Jadi kakak Fajar-Adie yang luar biasa? Jadi istri yang luar biasa? Jadi ibunda yang luar biasa? Jadi madrasah yang luar biasa? Jadi muslimah yang luar biasa?
Dewasa, Rin!
Dewasa. :)

-Nisrina Naflah-

28 Desember 2014

Curhaaat~

Yaa Allah, maafin ya harus nulis di sini, habisnya udah gak tahan lagi, jengkel sama orang2nya yang ngomongnya aja yang gede, tapi gak tanggungjawab sama tugasnya, malah nyalah2in orang lain. Bete sama mereka, kalo bisa gak usah aplusan lagi, gak usah berurusan lagi, bikin jengkel, yaa Raaaabb...
Dulu koar2 kalo aplusan slide harus bener2, jangan diterima kalo slidenya belum lengkap, lhaaa sekarang malah nunda2 bikin slide, bilang nanti aja, ntar dikirim, ntar nyusul, yaaa ujung2nya gak ada juga slidenya. Aplusannya jadi putus2, kita lagi yang disalahin...
Pengen marah lama2 biar ngena, ya gak enak juga, emang saya siapa? Tapi lama2 geregetan juga, hhaha...
Yaudah, para beruang kutub harus tetep semangat, harus tetep tertib bikin slidenya yaaa...
Tuh kan, hampir gila jadinya...
:'(

29 November 2014

Rembulan di Matamu (I)

"Gimana? Nanti kalian cari waktu lagi ya, temui saya untuk ujian."

Ucapan dr. Riza terlontar seperti ratusan jarum yang menusuk hati. Seketika mata Desy memanas, kelopak matanya menahan agar tidak menutup hingga menjatuhkan butiran hangat airmata. Bibirnya kelu namun tetap dipaksa tersenyum, palsu.

"Baiklah dokter, terimakasih banyak," lagi-lagi kalimat penuh kepalsuan terlontar begitu saja.

Desy tidak habis pikir, semua terasa begitu menyesakkan. Sejak hari pertama minggu ujian, dia sudah berpikir untuk semangat menyelesaikan ujian agar tidak memanjang hingga minggu liburan. Nihil, sedikitnya pasien baru yang masuk bangsal mengharuskan Desy melanjutkan ujiannya hingga minggu liburan. Pupus sudah angan-angan Desy untuk berlibur menanjak sebuah bukit, mengenang indahnya episode menanjak gunung yang pernah ia lakukan dulu. Minggu ujian pun dilewatinya dengan mengikuti dr. Riza berkeliling rumah sakit, dan ternyata ujiannya pun terpaksa ditunda lagi dan dilanjutkan entah kapan waktu itu tersedia.

Desy berjalan di lorong rumah sakit setelah mengantarkan sang penguji hingga lobby, nafasnya masih terasa berat, pikirannya meronta-ronta meminta petunjuk dari-Nya akan hikmah yang bersembunyi di balik momen menyebalkan ini. Puluhan tanda tanya dan tanda seru terus saja mengiang di telinga, apalagi kata andai. Andai saja begini, andai saja begitu. Ah, dadanya semakin berat menghela nafas.

"Hey Des, gimana ujiannya? Udah kelar kan?" Nisa memanggil dari ujung lorong sambil melambaikan tangan. Tampak teman-teman sekelompok Desy sedang berjalan bersama.

Desy menelan ludah, ia siap melontarkan ribuan kalimat keluh kesah, sumpah serapah, dan segalanya yang membuatnya kecewa. Tapi ia urungkan semua.

"Hhahaha. Ujiannya ditunda lagi. Mungkin ntar habis stase anak," jelas itu tawa yang palsu, nyinyir.

"Hah? Seriusan? Jadi ngapain aja 2 minggu ini? Bukan ujian? Kirain udah ujian," Nisa menimpali dengan penuh empati, entah tulus dari hati atau bagaimana, semua tampak semu.

Desy ikut berjalan di gerombolan itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya menyengir ketika ditanya, kadang menjawab ketus dengan tampang kusut tak bersahabat.

Lagi-lagi, Desy tersadarkan dengan kenyataan yang bermain di hadapannya. Lihatlah orang-orang yang dulunya ia hibur di saat sedih. Orang-orang yang selalu ia perhatikan perasaannya. Kemana mereka? Hilang begitu saja, bersikap acuh seakan tak tahu. Ah, hidup memang penuh fatamorgana. Desy kembali menghela nafas, kali ini lebih panjang daripada sebelumnya.

***

Gadget Desy berbunyi, bergegas Desy meraihnya dan membaca pesan yang masuk.

"Woy, gue lagi galau nih. Jalan-jalan yuk, kemana kek."

"Cup cup cup, jangan galau lagi. Yuk kita jalan, lepaskan semua bebaaaan," jawab Desy tanpa pikir panjang.

Lagi-lagi Desy tak kuasa menolak. Kasihan, kasihan, kasihan, pikirnya. Tak peduli uang bulanan yang semakin menipis gara-gara menemani mereka yang sedang galau, tak peduli berapa banyak buku yang tertunda lagi untuk dibaca demi menemani mereka yang sedang sedih. Yang penting mereka jadi hepi, gak sedih lagi, begitu harapnya.

***

Entahlah, rumah sakit membuat semua orang berubah. Bukan berubah mungkin tepatnya, namun kembali menjadi dirinya yang sebenarnya. Desy semakin acuh dengan sekelilingnya. Tidak ada lagi perhatian saat melihat teman-temannya bersedih. Tidak ada lagi kalimat penghibur yang terlontar dari hati. Kalaupun ada, hanya seperlunya dan tak berempati sama sekali.

Hingga datang peristiwa itu, peristiwa yang akan merubah segalanya. Segalanya tentang Desy.

***

To be continue~

-Nisrina Naflah-

(Nb: semua hanya fiktif belaka. Awal2nya aja yang terinspirasi dari kejadian hari ini, selanjutnya biarkan imajinasi yang bermimpi, hingga terangkai menjadi cerbung yang gaje, hhaha. Rembulan di Matamu? Hhahaha)

21 November 2014

Kenapa Kamu Gak Pacaran?

Picture ini mengingatkan lagi dengan kata2 ini...

"Saya bersyukur diciptakan dengan tampang yang gak cantik2 amat, jadinya gak dapat ujian berupa godaan dari para lelaki yang mencintai indahnya kecantikan seorang wanita. Dan saya sering kali berpikir jika saya ada di posisi wanita2 yang sering diidolakan lelaki itu, mungkin saat ini saya sudah tidak bisa mempertahankan prinsip awal, karena pada dasarnya menjaga hati dan prinsip itu bukan perkara mudah dan sangatlah sulit. Terlebih jika terlalu banyak godaan yang dapat menggoyahkan hati. Dan untuk itu, saya sangat bersyukur sekali dengan apa adanya diri ini."

Well, aku juga gak tau judul postingan ini nyambung atau gak sama kata2 di atas maupun sama picture yg aku upload. Lagi pengen upload aja, dan share kata2 yang pernah aku dapat itu. Ckckck.

-Nisrina Naflah-