12 Juni 2011

Di Batas Waktu

Dia masih duduk di kursi bawah pohon itu, pandangannya lurus ke depan. Walaupun kilau matanya sangat indah, tapi tatapan itu nanar. Kosong hingga tergambar jelas, ada hawa tak nyaman di hatinya. Beberapa detik kemudian, butiran airmata jatuh tanpa komando dari mata indahnya. Menitik satu per satu, beriringan. Memperjelas bahwa di hatinya sedang terlibat satu dilema yang menyakitkan. Perempuan itu terus duduk di kursi bawah pohon itu. Mencoba mengeluarkan emosi yang menguap berbentuk airmata.

Dia masih duduk di atas motornya, kepalanya menunduk, tangannya menopang dahinya dengan bersandar di kemudi motornya. Dia hanya sendiri di parkiran ini. Dari posisinya saja, tergambar jelas ia sedang letih. Tidak hanya fisik, namun perasaan. Sekali-kali ia menegakkan kepalanya dan mengusap dahi hingga ke rambutnya. Laki-laki itu masih saja duduk di atas motornya. Menghembuskan napas berat yang mengandung sejuta beban.

***

Perpisahan itu datang tanpa terelakkan. Di tengah masa SMA yang indah, Dinda harus berpisah dengan teman-temannya. Setelah satu setengah tahun sekolah di SMA Merdeka, tiba-tiba orangtuanya harus pindah kerja. Dan itu sangat berat untuk Dinda, karena ia harus meninggalkan sahabat-sahabatnya, masa kecilnya di kota kecil ini, dan seseorang yang sudah mengambil tempat spesial di hatinya, Dhanu.

Sebenarnya Dhanu dan Dinda tidak memiliki hubungan apa-apa. Hanya saja, seluruh penghuni SMA Merdeka sudah tahu bahwa mereka berdua saling menyukai. Entahlah apa yang menyebabkan mereka mendiamkan perasaannya masing-masing, yang jelas mereka hanya berteman biasa layaknya hubungan adik-kakak kelas. Tidak lebih, walaupun masing-masing dari mereka menyadari ada virus cinta yang mulai menggerogoti hati.

Dhanu adalah kakak kelas Dinda. Entah bagaimana mereka bisa mengenal satu sama lain. Yang jelas, karena sama-sama berada di salah satu ekstrakurikuler yang sama, paskibra, mereka jadi dekat. Akan tetapi, hingga satu setengah tahun bersama, tidak ada sepatah pun kata cinta yang keluar dari mulut mereka.

Tidak heran, masing-masing dari mereka adalah anak rohis. Walaupun hanya sebagai anggota ecek-ecekan di rohis, mereka masih sadar bahwa pacaran itu dilarang. Tapi, bagaimana mungkin mereka menolak rasa cinta yang datang tanpa diundang. Hingga mungkin mereka mendiamkannya hingga menunggu saat yang tepat.

Hingga detik detik perpisahan pun, mereka hanya menyimpan rasa dalam hati masing-masing. Tak perlu diungkapkan, karena ini memang belum pantas diungkapkan. Lagipula untuk apa diungkapkan? Melegakan hati? Ah, pengungkapan itu hanya akan menciptakan rasa malu yang tiada terperi pada-Nya. Teringat pesan murabbinya, memangnya sudah siap untuk menikah? Hal itulah yang ada di benak Dhanu sehingga dia mampu mengunci mulutnya dari rasa yang sebenarnya semakin menggerogoti hatinya. Dan perpisahan ini? Huft, m-e-n-y-a-k-i-t-k-a-n, perempuan yang dikaguminya akan pergi.

Menunggu? Apa yang harus ditunggu? ungkapan semu itukah? Ah, pengungkapan itu hanya akan menggoyahkan iman ini. Lagipula benar kata murabbinya, mungkinkah rasa ini benar-benar berlandaskan karena-Nya? BELUM, sama sekali belum. Jadi tidak ada yang harus ditunggu. Pikiran Dinda bergejolak. Di tengah perdebatan hatinya, hanya satu yang dia tahu pasti, m-e-n-y-e-d-i-h-k-a-n, ia akan pergi meninggalkan laki-laki yang dikaguminya.

***

Satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun. Ya, sudah satu tahun Dinda dan Dhanu tidak bertemu. Apa kabar dengan sesonggok rasa di hati mereka? Mereka sudah menata hati dan mencoba mereduksi kadarnya hingga tak memenuhi alam pikiran. Menyibukkan diri dalam kegiatan-kegiatan. Dhanu yang akan menghadapi ujian kelulusan dan tes masuk perguruan tinggi, sibuk mempersiapkan diri dengan bimbel dan les-les di sekolah.

Sedangkan Dinda yang telah setahun pindah mulai beradaptasi dengan atmosfer barunya, berteman dengan supel, dan aktif di rohis sekolah barunya. Paling tidak, hal-hal itu akan menyirnakan rasa sedih atas perpisahan itu.

***

Kini mereka dipertemukan lagi, sungguh bukan kehendak mereka. Ini takdir dari langit, ini kuasa-Nya. Mereka tak kuasa menolak. Jika rasa fitrah itu dirasa sudah hilang, maka tanpa dikomando mereka muncul lagi. Menggerogoti hati yang seharusnya sudah kebal dengan semua ini. Tidak, rasa itu tidak pernah hilang. Tanpa sadar, mereka masih menyimpannya, jauh di balik jutaan lembaran memori. Ya, rasa itu lebih tepatnya kembali menyeruak keluar, membuka kembali lembaran lalu. Lantas, menciptakan dilema yang sebenarnya tak perlu tercipta.

Kini mereka berada dalam satu kampus, dari keduanya tak pernah menyangka akan jadi begini. Bahkan, mereka terlibat dalam satu organisasi dakwah kampus. Semua memang jelas, sangat jelas bahwa rasa itu masih melingkupi hati mereka. Tapi ada hal lain yang lebih penting, hati mereka hanya untuk-Nya.

Dinda tahu ini tidak bisa dibiarkan. Di setiap sujudnya dia berdoa agar dikokohkan hatinya. Menangisi kelemahan hatinya atas apa yang dia rasakan 'kembali' sekarang. Demikian Dhanu, semakin rajin puasa Senin-Kamisnya. Berharap hati ini terlindungi dari 'ganasnya' rasa.


***

Perempuan itu mengusap butiran-butiran airmatanya. Mengambil tissue dari dalam tasnya, sambil berkata lirih dalam hati, "Yaa Rabb, sungguh airmata ini adalah airmata penyesalan. Penyesalan atas hati yang khilaf ingin menduakan-Mu. Sungguh, rasa ini fitrah, rasa ini anugerah, tapi izinkan hamba-Mu yang lemah ini untuk mengelolanya, hingga takkan menggeser posisi-Mu dari posisi teragung di hatiku. Sungguh, ampuni hamba yang lemah. Kuatkan hamba berjalan dengan mereka, berjalan dengan... dengannya... Untuk memperjuangkan kebenaran di jalan-Mu. Hati ini milik-Mu,Yaa Rabb. Kuatkan hamba, Bismillah." Ia menegakkan kepalanya, menyunggingkan senyuman, lantas berdiri, berjalan meninggalkan taman sepi itu. Mulai detik itu, Dinda berjanji tidak akan kalah dengan rasa.

Laki-laki itu masih terdiam, tatapannya fokus pada satu titik puncak menara yang ada di hadapannya. Berkali-kali ia berdzikir, beristighfar, hingga akhirnya mengusap wajahnya. Dia benar-benar merasa hina dengan rasa yang mulai memenuhi hatinya 6 bulan belakangan ini. Dan kini, ia sadar. "Yaa Rabbi, tak seharusnya hamba kalah, tak seharusnya hamba lemah dengan rasa ini. Engkaulah sumber kekuatan, maka kuatkanlah hamba untuk melawan rasa ini. Sungguh, hanya Kaulah yang mengetahui apa yang terbaik untuk hamba. Hati ini milik-Mu yaa Rabb, maka jagalah hati ini untuk selalu terarah pada-Mu. Bukan padanya, bukan pada yang lain. Kuatkan hamba dalam jalan-Mu, mengobarkan kebenaran dalam dien-Mu. Bismillah." Ia edarkan pandangannya ke sekitar, sepi, lenggang. Hanya ada dia di sini. Ia raih helm yang ada di spion motornya, lantas memasangnya dengan pasti. Suara motornya mulai terdengar, melenggang pergi meninggalkan parkiran. Mulai detik itu, Dhanu berjanji tidak akan kalah dengan rasa.

Semua ini tanpa sadar telah menguatkan mereka. Sungguh menguatkan mereka, hanya saja terlalu rumit untuk diuraikan. Hingga waktu yang akan menjawab, hingga langit memberikan tandanya, di batas waktu.

(Nisrina Naflah)

Sebenarnya ini konsep cerpen yang tersimpan di laptop, baru jadi beberapa paragraf, lantas terdiamkan beberapa bulan. Kemudian tanpa sengaja terbuka kembali, dan aku bingung alur cerita seperti apa yang ingin kubuat dulu, aku lupa. Alhasil aku selesaikan saja dengan seGAJE-GAJEnya. Rasanya cerpen ini terinspirasi dari cerita temanku dan beberapa cerita yang kutemukan di internet. Hhaha. Kalo gak nyambung, ya berelaan. Kan terserah penulis mau bikin cerita kayak gimana. hhehe. ---> pembelaan diri.

10 Juni 2011

Sungguh, Benar-benar Adil... :)



Aku baru aja beli satu novel karya Tere Liye, judulnya Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Sebenarnya itu novel lama, dan akupun sudah lama mau beli. Dan akhirnya setelah penantian panjang, bisa terbeli juga novelnya.

Well, novel itu langsung kulalap habis tanpa penundaan. Dan ini artinya aku suka sama alur ceritanya. Di rumah sudah menumpuk buku-buku dan novel-novel baru yang kubeli yang belum habis kubaca sampai sekarang. Kenapa? Nggak rame? Sebenarnya bukan itu sih alasan utama kenapa aku belum juga membaca buku-buku dan novel-novel itu, tapi lebih karena semangatku untuk membeli buku lebih gede dibandingkan dengan semangat untuk membaca mereka. Jadi, belum habis membaca buku/novel yang baru kubeli, aku sudah membeli buku/novel baru lagi. Dan alhasil, menumpuk lah mereka, menunggu giliran untuk kubaca.

Tapi tidak dengan novel yang satu ini. Benar-benar menyihirku untuk menyelesaikan membacanya. Dan memang mantap sekali alur ceritanya. Seorang laki-laki dengan lima pertanyaan besar dalam hidupnya. Salah satu pertanyaannya adalah, "Apakah hidup ini ADIL?"

Oke, kali ini kita akan membahas satu pertanyaan itu. Apakah hidup ini adil? Kebanyakan manusia yang hidup di dunia ini, sadar ataupun tidak, akan beranggapan bahwa hidup ini tidak adil bagi mereka, apalagi ketika ditimpa satu masalah ataupun mendapatkan suatu hal yang tidak disenanginya.

Misalnya aja nih, ketika ada seseorang yang sudah belajar mati-matian buat ujian, ternyata cuma dapat nilai 85. Sedangkan temannya yang sama sekali nggak belajar, terus nyontek pas ujian ditambah dengan tebak-tebak buah manggis, ternyata dapat nilai 95, nyaris sempurna. Tuh kan, dunia nggak adil. Orang yang belajar kalah nilai sama orang yang nyontek, bener-bener nggak adil 'kan? Tapi, coba deh kita pikir. Emangnya dengan menyontek ilmu itu bisa lekat di otak kita? Malahan nih ya jadi beruntung. Kalo sudah belajar, paling tidak pasti mengerti, lebih baik lagi kalo kita sudah menjadi dari bagian ilmu itu sendiri. Kalau dibandingkan sama orang yang nyontek, jelas lebih beruntung, apalagi apa yang kita pelajari pasti berguna buat masa depan. So, masih berpikiran kalo dunia itu gak adil???

Banyak hal yang menyebabkan seseorang bisa dengan mudah mengutuk kehidupan yang dijalaninya. Mengutuk takdir dari langit dan berkilah bahwa dunia ini gak adil. Tapi cobalah untuk bijak. Ketika mendapatkan suatu hal yang buruk, maka tengoklah ke atas. Pasti ada janji-janji masa depan untuk kebaikan, Dia itu Maha Pemurah. Dan ketika mendapatkan suatu hal yang menyenangkan, maka tengoklah ke bawah, masih banyak orang-orang yang tidak seberuntung dirimu, dan bersyukurlah pada-Nya.

Apapun yang kita alami dalam perjalan hidup di tempat pencarian bekal ini, itu adalah takdir dari 'langit'. Dan itu pasti yang terbaik dan ADIL untuk kita. Mencoba berpikir bijak akan lebih baik ketimbang mengumpat bahwa hidup ini tidak adil. Hidup ini adil, karena Rabb yang Menghidupkan kita adalah Dzat yang Maha Adil. Percayalah.

Dan ketika kita mulai mengumpulkan mozaik-mozaik kehidupan, dan merangkainya menjadi satu. Maka akan kau lihat betapa hidup ini adalah anugerah, betapa Sang Maha Adil menciptakan hidup yang begitu adil, dengan garis takdir yang adil pula.

-Nisrina Naflah-

4 Juni 2011

Basket itu Berprinsip ;)

"Priiiit...!!!"

Bunyi peluit wasir terdengar, riuh suara penonton masih membahana di lapangan basket. Backball. Kini bola basket pun berpindah ke tangan tim satunya.

"Pelanggaran ya???" tanya temanku yang sedari tadi duduk di sebelahku.

"Yap," jawabku singkat.

"Jadi kalo udah bawa bola setengah lapangan ke arah ring lawan, gak boleh balik lagi ya bolanya???" dia mencoba menyimpulkan apa yang baru saja dia lihat di lapangan.

"Hooh, kalo balik lagi namanya backball. Terus bolanya jadi buangan lawan," aku mencoba sedikit menjelaskan.Maklum, temanku itu bukan seseorang yang berkecimpung dalam basket layaknya aku. Jadi, wajar saja dia bertanya demikian.

Tiba-tiba temanku yang lain ikut mencelutuk, "Ribet banget ya main basket, bolanya gak bebas. Coba kalo sepak bola atau futsal, mau kemana aja bolanya, asalkan masih di dalam lapangan gak masalah tuh."

Tanpa pikir panjang, spontanitas, aku menjawab dengan kata-kata yang mengalir begitu saja.

"Basket itu punya prinsip. Kalo udah di garis tengah lapangan, bolanya gak boleh dibawa balik lagi. Harus terus ke depan, ke ring lawan. Ibaratnya ye, kalo udah putus, ya nggak boleh balikan lagi. Zina kan. Jadi nggak boleh balik, bolehnya nikah, menyambut masa depan dan berjalan bersama-sama di jalan-Nya untuk menggapai kesuksesan dunia dan akhirat. Melangkah bersama dan takbirkan asma-Nya."

Jreeeeng jreeeeeng... Kaga tau lagi kesambet jin apa gue waktu itu, lebay banget yak. Hhehe. Tapi beneran loh, basket itu berprinsip. Sama kayak gue, hhehe. (sekali-sekali narsis kagak ape-ape kan ye???) :))

-Nisrina Naflah-
(di saat tak bisa lepas dengan satu hal)

17 April 2011

Terbenamlah

matahari terbenam, hari mulai malam.

biarkan selamanya malam.

aku malah senang.

dengan begitu, tak perlulah tubuh ini evaporasi lagi karena sinarnya.

tak akan lagi.


(Si Naflah)

20 Februari 2011

Palsu yang Menjadi Nyata

"Jika terhempas di lautan duka, redakan sabarlah tawakkal pada-Nya. Jika berlayar di suka cita, ingatlah 'tuk selalu syukur pada-Nya."

Alunan musik nasyid favoritku melenakan hati. Kutatap wajahku di cermin, hmm aku memang sudah dewasa. Berada di dalam sebuah kamar dengan nuansa coklat muda dan beberapa rangkaian bunga matahari plastik membuat diri ini merasa termanjakan. Coklat muda dan bunga matahari, dua hal kesukaanku. Di ujung ruangan ini tersusun lima tangkai bunga matahari di atas vas tinggi berisi air untuk menjaga kesegarannya. Mataku pun beranjak ke arah sebuah jam dinding berbentuk mesjid, masih pukul 03.30. Aku baru saja menyelesaikan pertemuan rutin dengan Allah dalam sujud panjangku, sengaja aku berqiyamul lail di kamar ini. Mataku sembab, rupanya tadi aku terlalu menghayati curahan hati yang kulantunkan indah dalam desahan doa. Kali ini aku benar-benar bersyukur. Kutatap lagi diriku di pantulan cermin, membawaku pergi kembali menyusuri dimensi ruang dan waktu, hingga sampai pada sepotong episode.


*****

"Hah! Loe suka sama Kak Hasan, Des? Serius?!" Rani yang tadinya serius membaca komik Flame of Recca tiba-tiba terbelalak sambil menutup komik itu dengan cepat.

"Iya deh kayaknya, hhehe," jawabku, singkat.

Rani langsung memasang tampang menggoda dan tersenyum penuh syukur seakan-akan menemukan suatu keajaiban yang lama dia nantikan.

"Serius loe? Ya ampun, akhirnya sohib gue yang satu ini kembali normal, loe bisa naksir makhluk yang predikatnya cowok lagi. Hahaha. Padahal gue sudah mau curiga deh sama loe, habisnya semenjak kejadian itu, loe nggak pernah curhat masalah cowok ke gue," sambil memegang kedua bahu, Rani mengguncang-guncang badanku.

"Sssst. Jangan keras-keras dong, Ran! Ini kantin sekolah, bukan kuburan!" protesku. Aku melirik kiri-kanan dengan khawatir.

"Hahaha. Iya. Iya. Maaf, Tapi serius kan? Loe sudah bisa naksir cowok? Sumpah, gue pengen sujud syukur nih sekarang, akhirnya loe kembali normal!" Rani masih saja lebay.

Aku nggak merasa aneh dengan Rani, wajar! Sudah 2 tahun semenjak kejadian itu, aku menutup diri dari laki-laki. Dan selama 2 tahun itu juga aku yang selalu mendengarkan curhat Rani tentang cowok-cowok yang disukainya maupun pacarnya tanpa pernah aku yang menjadi si pencerita. Terkadang Rani protes denganku, "Des, loe lagi dong yang cerita! Masa gue terus yang curhat. Nggak bosan loe ngedengerin cerita gue?" Kalau Rani sudah berkata demikian, aku hanya tersenyum dan menggeleng. Aku tidak pernah merasa bosan mendengar ceritanya, never. Dan cowok? ah, bagiku itu sama sekali nggak penting.

***

Pak Ngatidjo berdiri di depan kelas sambil menulis deretan angka dihiasi simbol-simbol sebagai pelengkapnya. Ini pelajaran favoritku, matematika, tapi entah kenapa saat ini jiwaku sedang kabur dari ragaku. Kutatap kosong papan tulis putih yang penuh dengan angka-angka, pikiranku melayang. Aku telah membohongi Rani, menipu perasaanku sendiri, mengkhianati  hati. Menyukai Kak Hasan? Sejak kapan? Hahaha. Aku hanya melarikan perasaanku yang buntu ini. Kak Hasan memang sosok yang pantas untuk dikagumi, tapi jujur, aku tidak ada perasaan sedikit pun padanya.

Bertemu dengan bekas jejak langkah lama, membuat hati ini meronta, memberi isyarat pada pikiran untuk lari secepatnya, meninggalkan dan melupakan semuanya.Ya, setelah dua tahun menjauh, tadi pagi aku bertemu dengan orang itu. Orang yang membuatku tak berani menoleh ke belakang. Tapi ada satu hal yang baru kusadari, serpihan rasa itu masih tertinggal di sudut hati. Dan aku takut, aku takut menyadari bahwa aku masih mencintainya. Sekalipun bibir ini merontakan kata TIDAK!

Satu hal yang terlintas di otakku adalah "cepat cari orang lain untuk melupakannya!", tapi tidak semudah yang kubayangkan. Dan hari ini, tampaknya aku harus memaksakan hatiku untuk berlari mencari jejak lain. Entah kenapa yang terlontar dari bibirku adalah Kak Hasan. Setidaknya dia memang pantas untuk sekadar dikagumi. Kulirik Rani yang duduk di bangku sebelahku, tak tega rasanya aku tidak menceritakan yang sebenarnya, bahwa aku hanya berusaha melupakan orang itu dengan memaksa hatiku untuk menyukai yang lain. Aku hanya pura-pura menyukai Kak Hasan. Tak apalah, yang penting dia berhenti menganggapku sebagai remaja yang tidak normal.

"Desy, coba kerjakan soal nomor 5 ke depan," suara Pak Ngatidjo membuyarkan lamunanku.

Aku tersentak seketika. Dengan ragu aku maju menuju papan tulis sambil membaca soal yang tertera di sana. Ah, untungnya soal itu sudah kujawab saat latihan soal di rumah tadi malam. "Bismillah," lirihku.

***

Setelah beberapa hari, aku sudah mulai terbiasa akting di hadapan Rani, seolah-olah aku benar-benar menyukai Kak Hasan. Ternyata aku cukup berbakat menjadi pemain sinetron, Rani terus menggodaku dengan guyon bertema Kak Hasan.

"Des, Sabtu nanti ada acara pembukaan HUT sekolah kita loh," Rani berbicara dengan tampang antusias sambil menepuk bahunku. Aku yang sedang makan risoles kantin sekolah langsung menghentikan kunyahanku.

"Haduh, nggak usah pakai nepuk-nepuk bahu gue dong. Iya lah, gue juga tahu kalau Sabtu ini ada acara, biasa aja kali," timpalku ketus. Untung saja bahu kiriku yang ditepuk olehnya, coba kalau bahu kanan, bisa-bisa risoles yang lezat ini jatuh bebas ke lantai kantin.

"Sorry Des, sorry. Maksud gue,loe sudah tahu belum kalau Kak Hasan bakalan tampil pas acara pembukaan nanti? Kesempatan bagus tuh, Des!" serunya.

"Oh ya? Tahu darimana loe, Ran? Beneran nih?" jawabku sambil memasang wajah seantusias mungkin, padahal gue nggak peduli Kak Hasan mau tampil atau nggak, toh itu bukan urusan gue.

"Masa gue bohong, tadi gue cerita-cerita sama Deya, dia 'kan jadi seksi acara. Deya bilang kalau salah satu acara hiburan di pembukaan HUT sekolah nanti ada penampilan bandnya Kak Hasan, dan itu artinya ..."

"Kak Hasan ngeband juga ya, Ran?" belum sempat Rani selesai, aku langsung memotong. Heran, aku baru tahu kalau Kak Hasan ngeband. Yang kutahu dia itu anak OSIS, ROHIS, dan ikut kelompok KIR di sekolahku. Beberapa kali menjuarai olimpiade-olimpiade fisika. Rasanya aku nggak pernah liat dia ngeband. Ngawur ah si Rani.

"Hmm. Yang jelas tadi gue lihat sendiri susunan acaranya di tempat Deya, terus gue juga lihat daftar pengisi acara hiburannya. Ada nama Kak Hasan, dia ngeband bareng Kak Dira cs. Wah, bakalan seru nih melihat pujaan hati nanti," godanya dengan mata berkedip-kedip. Serasa mau kucongkel saja matanya itu. Hehe.

"Oh Kak Dira? Ya jelas lah disuruh tampil, suaranya bagus banget tuh," kujawab seadanya sambil menghabiskan risoles yang tersisa.

"Yaaaaah, kok loe gak antusias sih, Des? Kak Hasan bakalan tampil nih, itu artinya loe bisa nonton dia ngeband dan kalau perlu direkam," Rani sewot dan memberi sebuah ide gila.

"Haaaah??? Ngerekam??? Buat apa coba??? Ogah gue! Kalau cuma nonton sih nggak masalah," aku menjawab sekenanya.

"Hahaha. Biar entar gue yang ngerekam. Loe pasti malu kan," Rani masih belum berhenti menggodaku.

"Hah? Hahaha," aku hanya tertawa datar, bingung bagaimana agar 'drama'ku tidak terbongkar. Kubersihkan jilbabku yang tak sengaja tertitik petis risoles. Ah, sesuatu hal yang memalukan jika seorang cewek berjilbab sepertiku menunjukkan sikap centil layaknya putri kesetanan. Aku memang berpura-pura menyukai Kak Hasan di depan Rani, ya hanya di depan Rani, semata-mata hanya ingin menyelamatkan hatiku dari serpihan masa lalu. Bukan untuk benar-benar menyukainya, apalagi sampai menunjukkannya. Itu hanya perasaan palsu yang tak perlu ditunjukkan dengan tingkah polah berlebihan.

***

Aku dan Rani duduk di bangku deretan kedua dari depan. Di atas panggung berdiri Kak Hasan dengan gitar listrik, permainannya lumayan. Rani masih memegang handycam-nya, dari tadi dia merengek-rengek mau merekam pertunjukan yang ada di hadapan kami sekarang, tapi kutahan dan aku melotot ke arahnya.

"Buat apa Ran? Nggak penting ah!" ucapku saat menahannya.

"Ya buat loe lah, Des. Biar bisa nonton kapan aja," jawab Rani sekenanya.

"Haduh, itu sih namanya membuka jalan untuk mengotori hati. Sudah gue bilang kan, gue suka dia cuma sebagai tanda kalau gue ini normal. Gue nggak mengharap apa-apa kok. Rasa suka ini sudah lebih dari cukup dan loe tahu kan kalau..."

"Ya ya ya, gue tahu loe bakal bilang apa. Allah pasti ngasih jodoh yang terbaik nantinya, dan sekarang yang penting terus memperbaiki diri, karena lelaki yang baik hanya untuk wanita yang baik, begitu juga sebaliknya 'kan? Gue sudah hapal di luar kepala nasihat loe yang satu itu," potong Rani sambil berlagak layaknya seorang ustadzah.

"Sahabat gue yang satu ini emang pinter, terus kapan nih loe mau belajar pakai jilbab?" sindirku halus.

"Doa'in secepatnya aja," jawabnya pendek.

Rani langsung memusatkan perhatiannya ke depan. Aku jadi merasa tak enak. Tak apalah, yang jelas aku sangat ingin melihat sahabatku yang satu ini bertemu dengan hidayah-Nya dan menutup auratnya. Semoga waktu itu segera tiba.

"Jikalau telah datang waktu yang dinanti, kupasti bahagiakan dirimu seorang."

Lirik merdu menyergap hati yang penuh dengan harap. Semuanya hanyut dalam iringan nada yang indah, seindah cinta Sang Maha Pencinta.

*****

Lamunanku akan episode masa lalu terbuyarkan oleh nada dering handphoneku. Kulihat layarnya, ternyata telepon dari Rani.

"Assalamu'alaykum, Raniiii..." sapaku dengan riang.

"Wa'alaykumussalam, ukh. Gimana nih, sudah siap buat hari ini? Pasti deg-degan banget ya, Des. Hehehe," Rani masih belum berubah, masih saja suka menggodaku.

"Hehehe. Bisa aja. Kapan ke sini, ukh?" tanyaku tanpa basa-basi.

"Nanti habis shalat Shubuh ane langsung ke sana. Pokoknya nanti ane mau ikut merias calon pengantin, hehehe," Rani tertawa renyah.

Mataku tiba-tiba hangat, sungguh indah skenario dari Allah. Sudah 7 tahun berlalu dari episode lampau itu. Kini Rani sudah mengenakan jilbab rapat, dan persahabatan kami semakin erat. Dan hari ini, aku akan melangsungkan pernikahan dengan pemuda yang tak pernah kuduga sebelumnya. Dia meminangku lewat perantara ustadz Ahmad. Setelah beberapa kali shalat istikharah, akhirnya dengan keyakinan hati kuterima pinangannya.

"Kupinang engkau dengan Al-Qur'an. Kokoh dan suci ikatan cinta. Kutambatkan hati penuh marhamah. Arungi bersama samudera dunia."

Lantunan nasyid masih terngiang di telingaku, hingga menghilang di awal seruan adzan Shubuh.

Ya, Muhammad Hasan Rahman, seseorang yang pernah mengisi episode masa laluku di antara kepalsuan rasa yang kubuat sendiri. Dan kini, insyaAllah, dialah lelaki terbaik yang telah disiapkan Allah untukku.

(Nisrina Naflah)