9 Mei 2014

Seharusnya

Seharusnya marah, kesel, bete, pengen jutek, dan lain sebagainya.
Di saat kamu harus mengalah demi kepentingan teman-teman dengan alasan setia kawan, harus baik, daaaaaaan tidak sombong.
Sering, sering banget malahan, kita udah cape2 begadang, ngerjain tugas, mengorbankan kesenangan2 lain, daaaaaan penuh perjuangan, eh esoknya dengan gampangnya temen2 kita bilang, "pinjem tugasnya dong Rin."

Yaaa sebenarnya gak masalah, kita seneng sih bisa bantu, bisa meringankan beban temen2, tapi kalo udah kita merasa dirugikan itu loh, seharusnya marah, kesel, bete, pengen jutek, dan lain sebagainya.

Cape looooh ngerjain, terus mereka dengan entengnya nyalin, ngopy, nebeng nama, dan lain sebagainya. Dan gak tahu kenapa, semenjak koas ini rasanya semuanya numpukkk, sudah full sebelnya, sudah merasa bener2 dimanfaatkan. Sebenarnya gak masalah sih kalo nyalin dikit2, soalnya aku juga sering minta jawaban tugas yg gak sempat nyari atau yg gak bisa kukerjain ke temen2 aku. Tapi bukan berarti nyalin semua dong ya. Ada usaha lah sedikit. Pertanyaannya itu, kalo sekarang baru ngerjain, tadi malam ngapaiiiiin??? Mending kalo lagi jadwal jaga. Lha, kalo gak juga? Hayyooo. -_-

Parahnya itu, biasanya hasil akhirnya itu lebih rapi dan lebih bagus punya mereka yang tinggal nyalin ketimbang punya kita yg dikerjain sampai tengah malam ngantuk2, gak rapi, penuh tipeX dan sebagainya. Nah, bisa dipastikan dog yang mana yang lebih bagus hasilnya di mata dosen/konsulen??? Gak tau ya, rasanya kesel aja gitu, jadinya ujung-ujungnya malah gak ikhlas ngasih bantuan.

Seharusnya marah, kesel, bete, pengen jutek, dan lain sebagainya. Tapi seharusnya bisa dong ya tetap jadi temen yang baik, ikhlas, sabar, senyum. Seharusnya bisa, tapi susah. Apalagi kalo kalian diamanahkan sebuah tanggung jawab, terus kalian harus mengalah demiiiiiiiiiii teman2, hadoh dilema, pengen marah tapi gak bisa, eh pas bisa marah malah gak enak. Hadududududuh, seharusnya bisa dong ya tetap jadi temen yang baik, ikhlas, sabar, senyum. Seharusnya. :)

-Nisrina Naflah-

27 April 2014

Hingga Ujung Waktu

Dalem banget yaa liriknya...

"Akhirnya aku menemukanmu,
Saat kubergelut dengan waktu...
Beruntung aku menemukanmu,
Jangan pernah berhenti memilikiku...
Hingga ujung waktu...
Jika kau menjadi istriku nanti,
Pahami aku saat menangis...
Saat kau menjadi istriku nanti,
Jangan pernah berhenti memiliku...
Hingga ujung waktu..."

:')

Malam Ini...

Malam ini aku dapat kabar buruk, hmm kabar baik mungkin lebih tepatnya...

Alhamdulillaah, sama2 suka bersyukur, sama2 percaya janji Allah, sama2 suka kerja keras...

Dan sama sepertiku, telah ditinggalkan ayahanda sebelum bisa membanggakannya. Yang membedakan adalah serupa sosok bidadari yang selalu mengiringi...

Hey, ini kabar baik, sama sekali bukan kabar buruk. Tapi gak tau kenapa, ada beberapa bagian yang menyesakkan, di sini, di dalam dada.

Yaa Rabb, entah apalagi, entah bagaimana lagi, entah kenapa lagi. Selalu begini~

-Nisrina Naflah-

25 April 2014

Kebahagiaan Sederhana

Aku sedang duduk di beranda suatu tempat yang akan menjadi tempatku 3 minggu ke depan.
Menunggu partner2 dalam kelompok kecilku yang belum satupun menunjukkan batang hidungnya.
Dari kejauhan terdengar suara benda yang digerek, kutoleh, dan ternyata benar.
Bapak pembawa bak sampah yang sering keliling rumah sakit, berjalan bersama anaknya.
Anak yang selama ini kulihat selalu mengiringi ayahnya.
Bernyanyi riang gembira, tanpa beban, dan selalu ringan langkah mengikuti derap kaki ayahnya.
Tidak sekolah? Entahlah.
Yang jelas aku melihat kebahagiaan yang sangat amat sederhana.
Langkah kaki yang ringan, alunan suara yang riang, senyum yang lapang.
Tanpa beban.
Dan satu hal lagi, pemandangan ini membuat aku rindu dia.
Ya, merindukan abah.
Sama seperti dulu, berjalan bersama ayah adalah salah satu kebahagiaan yang sederhana, sangat sederhana, dan melapangkan segalanya.
:)

-Nisrina Naflah-

13 April 2014

Sudah Lebih dari Cukup

Anggukan dan sahutan kemarin itu,

sudah lebih dari cukup.

Terima kasih.

:)